Pagi ini Ajeng dan Hastu berangkat bersama. Deva mengijinkan Ajeng nebeng sepeda Hastu, membuat Akmal mau tak mau ikut mengijinkannya pula.
Rasa bahagia terlihat jelas diwajah mereka. Sesekali Hastu menggoda dengan mempercepat laju sepedanya, membuat Ajeng takut terjatuh dan berakhir melingkarkan tangannya pada pinggang Hastu. Hastu cekikikan mengetahui respon Ajeng. Ia terus menggoda Ajeng dengan melakukannya berulang-ulang hingga Ajeng mulai terbiasa dan malah nenikmati angin yang menerbangkan helaian rambutnya.
"Besok jemput lagi, ya?" Teriak Ajeng begitu sampai disekolah dan mereka berpisah kelas. Hastu mengangguk dan tersenyum. Sepasang mata iri akan hal itu.
"Huufft." Hastu menghela nafas. Peluhnya bercucuran. Ia merebahkan kepalanya diatas tumpukan buku.
"Knapa?" Tanya Riska. Hastu menoleh tanpa mengangkat kepalanya.
"Kaki gue pegel." Keluh Hastu.
"Mau gak gue beliin es? Keknya lo kehausan." Tawar Riska.
"Gak ahh, gue mo tabung duit gue." Tolak Hastu.
"Buat apaan?"
"Beli sesuatu lah, masak iya gue pake bantal."
"Penting kagak?"
"Apanya?"
"Barang yang lo mau beli."
"Emm, kurang lebih sih."
"Mo gue bantuin gak?"
"Gue bukan pengamen apalagi pengemis. Kek lagi kena musibah aja mo lo sumbang."
"Yaudah."
Riska beranjak dari duduknya.
"Mo kmana?" Tanya Hastu.
"Beliin lo es. Kesian gue tuh liat lo mangap-mangap kek duyungnya Cita Citata." Ejek Riska.
"Yeee, gue tampol juga lo pake buku!" Ucap Hastu sembari melempar bukunya tapi tak mengenai sasaran. Karna Riska keburu kabur.
####
"Lo ngos-ngosan pagi-pagi abis bawa beras satu ton?" Tanya Riska sembari terus mencatat dan mengemil secara bersamaan.
"Lo ngomong apaan gue gak paham."
"Bentar. Gue abisin dulu snak gue."
"Ogah. Males nunggu. Gue duluan." Pamit Hastu selesai mencatat lalu keluar kelas menuju kantin.
Didepan kelasnya, Ajeng sudah menunggu.
"Lama ya? Sory tadi nyatet dulu." Ucap Hastu.
"Gak apa-apa, lagian gue juga baru nyampai."
"Mo makan apa?" Tanya Ajeng.
"Emmm, gue nemenin lo aja ke kantin."
"Gak jajan?"
Hastu menggeleng.
"Knapa?"
"Ada barang yang mo gue beli."
"Apaan? Kali aja gue bisa beliin." Tawar Ajeng.
"Jangan!" Teriak Hastu spontan membuat Ajeng melongo.
"Karna buat orang yang istimewa, jadi barangnya harus istimewa pula. Dan usahanya harus istimewa juga." Tutur Hastu. Ajeng terdiam. Sementara Hastu terus melangkah. Ajeng terus menatap punggung cowok itu hingga hilang dari penglihatannya.
####
"Princess, knapa?" Tanya Mayang saat menyadari Ajeng berubah murung.
"Iya, knapa lo?" Sahut Nilam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Teen FictionMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)