Keputusan

109 13 1
                                        

Hastu bersiap berangkat sekolah. Penasaran dengan nomor yang menghubunginya kemarin, ia pun mengetik pesan untuk nomor itu.

"Siapa ya?" Pesan Hastu. Tak lama pesan itu centang biru.

"Ini siapa?" Balas nomor itu.

"Lo nelpon gue ratusan kali kemaren," balas Hastu.

"Iya kah? Sory. Btw, karna sama-sama gak kenal, kenalan dulu boleh lah." Balasnya. Hastu tak lagi membalas. Bukan karena kesal, tapi lebih ke tidak ingin memusingkan hal yang tak penting.

Ia keluar dari kamarnya, menuruni beberapa anak tangga dan bergabung sarapan bersama Rafa dan papa Somad juga nenek dan mama Mila. Lagi-lagi pesan masuk dari nomor tak dikenal membuat ponsel Hastu berdering.

"Dering mulu dari kmaren, pacar baru? Gebetan baru? Ato fans?" Goda Rafa.

"Gak tau, gak kenal gue." Jawab Hastu sembari mengambil nasi goreng.

"Jan cuek-cuek, tanggepin kek." Ucap Rafa.

"Hastu belum punya pacar?" Sahut Mila.

"Emm-"

"Pernah sama Ajeng ma, tapi tanpa status." Jawab Rafa. Hastu mendelik kesal.

"Ajeng anaknya Deva?" Tanya Mila. Rafa mengangguk.

"Sekarang masih ada hubungan?" Tanya Mila.

"Cuman temenan, ma." Jawab Hastu.

"Knapa?" Tanya Somad.

"Emmm-"

"Udah punya gandengan yang lebih- aduuuhh." Erang Rafa. Hastu menendang kaki Rafa agar mulutnya tak ember berlebih.

"Terus sekarang Hastu sama siapa?" Tanya Mila.

"Belom bisa mup-on dia, ma." Sahut Rafa lalu segera berdiri dari duduknya agar tak kena tendang lagi dari Hastu. Lagi-lagi Hastu hanya mendelik.

"Bukan gitu, ma. Cuman Hastu males aja mikirin yang gak penting." Jawab Hastu. Nenek ikut tersenyum, setuju dengan kalimat Hastu.

"Kalo Rafa gimana? Kemaren mama nemuin sesuatu."

Rafa dan Hastu saling melirik.

"Rafa-punya pacar. Namanya Riska. Anak IPS, sebangku sama Hastu." Jelas Hastu tapi matanya masih menatap Rafa. Pasalnya, Riska juga sering main kerumah Rafa. Mahira pernah main sekali. Dan yang terakhir kemarin adalah Ajeng. Degup jantung Hastu tak karuan. Takut ada barang Ajeng yang tertinggal dan membuat Rafa marah padanya karna masih respect ke Ajeng.

"Mama-nemuin apaan?" Tanya Rafa terbata.

"Rambut rontok. Tapi panjang." Jawab Mila. Keduanya bernafas lega.

####

"Hastu." Panggil Mila saat melihat Hastu masih menunggu Rafa dengan mobilnya.

"Ya, ma?"

"Mama pernah liat ini, balikin ke yang punya, ya?" Ucap Mila sembari mengulurkan jepit rambut milik Ajeng.

Deg. Hastu ketahuan. Ia terdiam.

"Oiya, untuk ulang tahun kamu-"

"Hastu gak pengen apa-apa, ma. Gak perlu dirayain." Ucap Hastu.

"Yaudah. Mama ganti liburan, kemana pun Hastu pengen. Bilang, ya?" Ucap Mila.

"Iya, ma. Makasih."

####

Hastu bimbang dikelasnya. Jepit rambut itu masih ada didalam tasnya. Ia ragu untuk menemui Ajeng meski sangat ingin. Dering ponsel lagi-lagi membuyarkan lamunannya. Hastu meraih ponsel miliknya yang ada dilaci meja. Dari nomor tadi pagi.

Langit dan Senja [complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang