Flashback
Nathan kecil menangis dipojokan setelah mamanya meninggal. Sang ayah, Anggoro tak lagi mempedulikannya. Hanya seorang tante yang ia punya. Yang selalu menemani hari-hari kelabunya. Ayahnya penyebab mamanya meninggal. Pria itu memilih pergi mencari wanita lain setelah sang istri mengidap kanker stadium akhir.
Nathan kecil hanya bisa membenci tanpa bisa melakukan apa-apa. Tak berapa lama setelah mamanya meninggal, seorang gadis kecil mencari kucingnya yang hilang dipekarangan rumahnya. Gadis itu tak sengaja mendengar Nathan menangis dibawah pohon.
Awalnya gadis kecil itu cuek. Namun, hati nuraninya tak tega. Gadis itu pun menghampiri Nathan.
"Kamu kenapa?" Tanya Ajeng kecil. Tak mendapat jawaban pasti, Ajeng malah terkena lemparan batu dari Nathan.
"Aduhh, sakit." Keluh Ajeng. Namun gadis itu tak menangis dan hanya mengusap perlahan dahinya.
"Knapa kamu gak nangis?" Tanya Nathan kecil ditengah tangisnya. Ajeng menghampiri Nathan.
"Jadi kamu nangis, karna ada yang ngelempar batu ke dahi kamu?" Tanya Ajeng. Nathan menggeleng pelan.
"Kalo gak ada yang ngelempar batu, kenapa nangis? Kan, gak ada yang sakit." Tambah Ajeng. Nathan menoleh dengan marah.
"Aku Ajeng, nama kamu siapa?" Tanya Ajeng sembari mengulurkan tangannya. Tanpa menjawab, Nathan meninggalkan Ajeng begitu saja. Ia bahkan menepis tangan Ajeng.
####
Selang beberapa hari, Fellicha meninggal. Hal itu memperparah derita Nathan. Vano, Deva, Alex, Yunan, Revand dan Oliv menghadiri pemakaman Fellicha. Alex begitu terpukul akan kepergian Fellicha. Sementara Nathan kecil bersembunyi lagi dibawah pohon dimana ia bisa menangis tanpa ada yang tahu.
"Kamu nangis lagi?" Tanya Ajeng yang ikut ke rumah duka bersama Deva dan Vano.
"Kamu ngapain disini!" Teriak Nathan karna malu, lagi-lagi gadis itu mengetahui dirinya menangis.
"Tante yang meninggal itu, temen papa aku. Papa pergi ke pemakaman, jadi aku ditinggal disini. Aku nginep di vila sana." Ucap Ajeng sembari mengulurkan telunjuknya.
"Jadi-" ucap Nathan menggantung. Ia menyesal tempo hari mengabaikan anak teman tantenya. Andai saja ia tak mengabaikan Ajeng waktu itu, mungkin nyawa tantenya bisa selamat.
"Aku Nathan." Lanjut Nathan.
"Hai Nathan." Balas Ajeng. Semenjak itu lah mereka berteman.
Bahkan Akmal sering sekali memanjat pohon dan pergi ke danau bersama Nathan. Ajeng kecil sering menangis karna dibully kedua anak cowok itu.
Meski begitu, baik Akmal maupun Nathan selalu ada untuk Ajeng. Nathan selalu menjadi pahlawan saat anak-anak disekitar vila menggoda Ajeng.
####
Waktu berlalu, kurang dari seratus hari dari kepergian Fellicha, ayah Nathan datang beekunjung dengan membawa istrinya.
"Maaf merepotkanmu." Ucap Anggoro kepada Vano.
"Gak masalah, kita udah anggep Nathan seperti anak kita sendiri." Jawab Deva. Anggoro melengos begitu Deva yang menjawab kalimatnya.
"Istrimu mana?" Tanya Deva lagi. Wanita itu masih berusaha bersikap baik. Namun lagi-lagi Anggoro tak menganggapnya.
"Bagaimana bisnismu?" Tanya Anggoro kepada Vano. Vano menoleh kearah istrinya. Mereka saling menatap. Deva mengangguk perlahan, memberitahu ke Vano bahwa dia baik-baik saja.
"Alhamdulillah lancar." Jawab Vano.
'Tentu saja, kamu memilih Deva karna dia mampu menambah kekayaan dan memperkuat perusahaanmu. Tentu berbeda jika saja kau memilih mayat dingin(Fellicha)! Jika saja kau memilih Fellicha, hidupku dan Nathan tak akan terlunta-lunta!" Ucap Anggoro dalam hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit dan Senja [complete]
Fiksyen RemajaMy fifth story😍. Sequel Devano. Baca yakk. Mei, 03, 2020 Cover by: me "Langit punya semuanya. Ia tak pernah kehilangan senja, fajar, matahari, bulan dan bintang. Ia setia menunggu senja datang menghiasi hari sorenya hingga malam menggantikan warna...
![Langit dan Senja [complete]](https://img.wattpad.com/cover/223461243-64-k449881.jpg)