Khawatir

99 11 7
                                        

Supporter Hastu berulang kali bersorak saat Hastu berhasil mencetak point. Keringat yang membasahi rambutnya kian menambah karismanya. Ajeng berada diantara supporter Angga. Disampingnya ada Nilam dan Mayang. Dibelakang tempat ia duduk, ada Nathan, Gibran, dan Akmal.

"Emmmhhh Hastu ganteng banget, ya." Celetuk salah satu penonton yang berada tak jauh dari Ajeng.

"Idaman tauk." Sahut yang lain.

"Biar cuman jadi gebetannya doang, gue mau-mau aja."

Ajeng melirik cewek itu. Bukan anak Adhi Wijaya.

Salah satu teman cewek itu menyikut lengannya. Temannya memberitahu bahwa Ajeng berada tak jauh dari mereka.

"Bodoamat. Mereka udah putus, kan? Eh, belom sempet pacaran ding." Ucap gadis itu. Ajeng mengepalkan tangannya. Nilam melirik Ajeng, menunggu reaksi dari sahabatnya itu. Perasaan sedih terlihat jelas dimata Ajeng. Kecewa, pasti.

Nilam meraih tangan Ajeng. Gadis itu menoleh.

"Lo gak bakal lampiasin rasa kecewa lo ke Nathan, kan? Jan bikin dia kecewa karna lo masih mikirin Hastu! Dia, bukan takdir lo! Cerita lo masih panjang!" Gerutu Nilam. Ajeng terdiam menyadari kebenaran dalam kalimat Nilam. Namun kejadian di mall tempo hari masih membayangi Ajeng. Bahkan ia goyah akan keputusannya menerima atau menolak Nathan.

Ajeng berdiri dari duduknya. Ia ingin pergi meninggalkan pertandingan. Naas!

Braaakkk

Lemparan bola lawan mengenai kepala Ajeng. Lemparan yang terlalu keras membuat Ajeng roboh hingga tak sadarkan diri. Nathan, Akmal, Nilam, Mayang dan Gibran segera berhambur menghampiri Ajeng. Hastu mematung ditempat menyadari lawannya yang melempar bola itu ke arah Ajeng. Rahangnya mengeras menahan emosi. Ia menghampiri si pelempar bola. Hastu mencengkeram kerah baju cowok itu.

"Lo! Kalo sampai-"

"Hastu!" Panggil Angga. Hastu melepas kerah baju lawannya dan sedikit mendorong tubuh itu.

####

Permainan usai. Tim Angga menang telak. Angga menghampiri Hastu ingin mengucapkan selamat, namun Hastu sama sekali tak merasa senang akan kemenangannya kali ini.

"Nih minum lo." Ucap Angga.

"Gue gak haus." Ucap Hastu sembari merapikan barang-barangnya.

"Gue tau lo khawatir, tapi-" Angga menghentikan kalimatnya. Hastu berbalik menghadap Angga.

"Gue gak bakal biarin dia terluka." Ucap Hastu lalu pergi melewati Angga.

"Kalo lo pengen jenguk dia, gue saranin ntar kalo jam pelajaran dimulai." Ucap Angga. Hastu mendengarnya namun tetap melanjutkan langkah kakinya.

Hastu sengaja melewati ruang UKS. Benar saja, Akmal dan Nathan masih disana. Nilam melihat Hastu dari kejauhan. Hastu berbalik dan akan mengikuti saran dari Angga.

####

Bel tanda masuk berbunyi. Hastu yang baru selesai mengganti baju olahraganya keluar dari toliet. Seorang gadis menunggunya di depan toilet cowok.

"Hai." Sapa gadis itu. Pikiran Hastu yang khawatir pada Ajeng, membuatnya hanya melewati gadis itu.

"Lo keren bisa ngalahin tim sekolah gue." Ucap gadis itu lagi.

"Lo siapa?" Tanya Hastu datar.

"Kenalin, gue Galuh Pramesti." Ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya. Hastu hanya melirik tangan dihadapannya.

"Gue ada keperluan lain. Jadi, permisi." Pamit Hastu lalu melewati Galuh begitu saja. Galuh mengejar Hastu dan mencegatnya.

"Gal bisa! Lo belom kasih tau nama lo!" Paksa Galuh. Hastu mendadak kesal dengan gadis didepannya itu.

Langit dan Senja [complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang