Outro ; Close The Line

4.3K 289 145
                                    

Alhamdulillah, sampai sudah di penghujung kisah

semua tangis, luka, sendu, tawa, dan resah,

yang mengiringi Galvin menentukan arah,

kini sampai pada kata selesai sudah.


Kupanjatkan doa untuk kamu semua

Yang tiada lelah mendukung saya,

Memberi semangat, tanpa menghujat

Semoga kalian bahagia, meski tidak bersama Giandra.


Jangan takut salah pilih, jangan takut salah arah

Ada Tuhan yang penuh kasih, Yang akan membimbing kita menemukan rumah

Mungkin bukan Giandra, mungkin bukan si pria terluka yang penuh cinta

Namun pastinya ialah sang penyembuh yang akan menghapus luka

Aduh aku ini nulis apa, ya?

Abis makan gado-gado, bukannya bijak kok jadi gila?


How They Meet (After a long time)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

How They Meet (After a long time)


Restoran yang menjual makanan khas Jepang di London itu ramai siang ini. Seorang lelaki yang sedang mengantre di kasir untuk membayar makanannya mengumpat karena tak kunjung bisa keluar dari antrean yang didominasi perempuan itu. Melirik jam di pergelangan tangan, Giandra Sienaya pilih mundur saja, kembali ke tempat duduknya dan menunggu membayar pesanan di kursi.

"Permisi," Giandra berujar sopan saat harus keluar dari antrean. Ponsel di genggamannya berdering saat ia sudah akan kembali duduk. Hendak menerima panggilan darurat dari rekan kerjanya yang sangat cerewet namun cantik itu, ketika ada bola nyasar dan membuat ponselnya jatuh.

"Fuck!" Giandra mengumpat pelan, berjongkok untuk mengambil ponsel dan bola yang berhenti di kakinya.

Irisnya lalu mendongak, menatap si empu kaki kecil di depannya. Bocah lelaki yang berusia sekitar enam tahun. Iris bocah itu menatapnya takut-takut. Kedua tangan anak kecil itu bersatu di depan perutnya, membuat gestur bersalah khas anak kecil. Semakin takut dan merasa bersalah saat Giandra menatap intens bocah itu-mengintimidasi.

"I'm sorry, Mister." Pelan, suara menggemaskan itu keluar dari mulut si penendang bola.

Giandra berlutut di depan bocah berambut pirang itu. Masih menampilkan raut kesal-yang ia buat-buat-Giandra lalu mengulurkan bola pada si bocah kecil.

"Is this yours?" Giandra bertanya dengan nada kesal.

Anggukan takut itu menjadi jawaban. "I got a new shoes from my father, so I kick the ball."

FixedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang