18++ (Revisi)
Jangan berekspektasi lebih.
27 September 2019 - 23 September 2020(tanggal tamat)
Naskah ini saya repost untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Penerbit @Grass_Media
Fixed (adjectiva) : tetap, menetap.
Kehidupan teratur yang di...
Kayaknya perlu aku warning kalau konten part ini VERY DELAPAN BELAS PLES
jadi kamu kamu kamu kalau jomblo dan dibawah lapan belas tahun, HAH, SELAMAT NGILER :P
DAN, Part ini very Galvin Giandra sekalehhh
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
in case kalian lupa wajah si bule berondong
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
BAB 42
Setiap Hari Setiap Detik
Galvin mengekor di belakang Giandra, membiarkan pemuda itu membimbing langkahnya memasuki rumah. Giandra menggenggam erat tangan kanan Galvin sembari mulai memasukkan kunci rumah dan membuka pintu. Sambil masih menggenggam tangan wanita itu, Giandra menutup pintu setelah Galvin masuk.
Pandangan Galvin tidak beralih dari tangan hangat Giandra yang terus menggenggam erat tangan kanannya. Senyumnya merekah begitu saja hanya karena genggaman itu dirasanya sangat nyaman. Hangat tangan Giandra terasa hingga keseluruhan organ tubuhnya, terutama hatinya.
"Kenapa lo terus nunduk dan senyum gitu?" Pertanyaan Giandra langsung membuat Galvin mendongak dan meleburkan lengkungan senyum di wajahnya. "Lantai rumah gue cuma sekumpulan benda mati, bukan sekumpulan badut yang lagi atraksi." lanjutnya. Tanpa memutuskan genggaman tangannya, Giandra berangsur melepas jaketnya. Saat tiba ia harus melepas bagian lengan kirinya, ia beralih menggenggam tangan kanan Galvin dengan tangan kanannya.
Pokoknya Giandra tidak mau dan tidak akan melepaskan Galvin.
"Kenapa?" ulang Giandra karena Galvin hanya diam, kembali menunduk dan tersenyum.
"Aku bisa seharian kamu genggam gini dan nggak butuh apa-apa lagi." jawab Galvin.