12. A Whole New Hurt

107 9 0
                                        

"Apa ada hal lain yang ingin di pesan?" tanya Crystal pada dua orang pasangan yang telah memesan. Kedua orang itu menggeleng mantap. Crystal tersenyum dan mengundurkan diri.

Cafe terlihat sangat senggang hari ini. Tak banyak pengunjung datang. Hari terlihat sedikit mendung, juga terlihat gelap dengan awan abu-abu yang menggumpal. Akan menjatuhkan uap yang telah menjadi air.

"Mbak, dua kue coklat, satu green tea sama lemon tea," kata Crystal pada Rahayu.

Rahayu mengangguk, "Kamu bisa ke belakang dulu gak dek?" tanya Rahayu pada Crystal.

"Kenapa memangnya Mbak?"

"Itu si Jelita sama Satria lagi sibuk banget siapin bahan, kamu ambil cake-nya ya."

"Oh, iya mbak."

Crystal berjalan kebelakang Cafe hampir kearah dapur. Mengambil kue yang baru saja dipesan.

Setelah mengambil kue, Crystal kembali dengan memegang sebuah nampan. Berisi pesanan pengunjung cafe.

"Crystal, tuh cowok mau pesen tapi maunya lo yang order pesenan dia," ujar Yoga—salah satu pegawai cafe.

Crystal mengernyitkan dahi, "Lo kesana, biar ini gue yang anter." dengan mengambil alih nampan yang sedang di pegang Crystal, Yoga berjalan seraya menunjuk kearah meja ujung.

Crystal berjalan menuju meja yang di tunjuk oleh Yoga. Sampai pada meja yang didapati oleh Crystal hanya muka kesal dengan kerutan dahi dalam.

Lelaki itu menatapnya jengkel, "Lama banget, lambat lo!" ujar Lelaki itu. Crystal bahkan tak mengenal siapa dia. Lelaki itu terus datang dengan mood seperti roller coster.

Crystal mencoba tenang, senyum tipis telah ada pada bibirnya. "Mau pesan apa?" Crystal mulai ingin mencatat dan tak mendapat perkataan apapun dari lelaki yang selalu sama menjengkelkannya sama seperti hari-hari lalu.

"Kaya biasa," ujar lelaki itu lalu mengusir Crystal dengan mengibaskan tangan. Crystal mencebikan bibirnya kesal.

Setelah selesai Crystal membawakan americano pada lelaki itu. "Ada yang ingin dipesan lagi?"

"Gak, udah gak usah banyak tanya, pergi sana lo," lagi, lelaki itu bersikap semaunya. Watak lelaki itu benar-benar di luar nalar, terlampau dari kata aneh.

Crystal mengundurkan diri dan berjalan kearah Rahayu tak tengan sibuk memberi kembalian uang pada pengunjung.

Crystal mendesah kecil, Rahayu menoleh dan menatap Crystal. "Kenapa Dek?"

"Gak apa-apa Mbak, cuma itu pelanggan ngeselin banget," keluh Crystal.

"Inget Dek, pelanggan itu punya pribadi masing-masing" dengan senyum tulus Rahayu mengelus lembut bahu Crystal. Baiklah, Crystal mengerti itu. Tapi bukankah lebih baik untuk menjaga sikap pada orang asing?

"Crystal tau Mbak, tapi gak usah gitu juga," kesal, kekesalah Crystal tak dapat ia sembunyikan lagi.

"Udah ah, gak baik ngeluh terus," walau sebenarnya kodrat manusia memanglah mengeluh. Tiada hari tanpa keluh kesah. Terkadang heran dengan orang yang merasa cukup akan apa yang mereka dapat. Dan itu hanya bergantung pada pola pikir dan tentu saja lebih bersyukur.

Sedang membersihkan meja Crystal merasa ada yang menabrak tubuhnya. Crystal membalikan badan, "Jangan ngadang jalan dong lo, udah tau ini jalan masih aja pasang badan!" lelaki itu, lelaki yang sama.

"Eh, lo yang nabrak ya, kok gue yang salah!" sengit Crystal.

"Ya kalo lo gak pasang badan disini, mana mungkin gue nabrak orang. Otak lo pake!"

HIDDEN SIDETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang