Basecamp besar Alaskar di landa keheningan malam ini, banyaknya orang yang berkumpul di sana, tak membuat suasana Basecamp menjadi ramai dan berwarna seperti biasanya.
Tentunya masih dengan insiden beberapa saat yang lalu, ketika Jeff sudah mencabut paksa posisi inti salah satu pasukan Alaskar yang paling ia percayai, membuat suasana Basecamp menjadi hampa beberapa saat karena dirundung dengan kekecewaan yang tersirat di seluruh wajah-wajah para anggota yang berada di sana.
Jeff duduk di atas sofa hitam basecamp dengan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, menatap kosong ke arah atap dengan tubuh lemas yang tak mampu ia istirahatkan beberapa waktu ini.
Menjadi seorang ketua dari geng motor yang paling di segani di Jakarta, nyatanya bukan suatu hal yang mudah, mereka harus senantiasa menyiapkan tubuh sekeras baja agar menangkis serangan yang akan meruntuhkan geng besar kebanggaanya. Alasannya adalah karena tentu saja banyaknya musuh yang mengincar mereka. Tentu keberhasilan dari Alaskar mampu membuat seluruh geng yang merasa iri dengan kejayaannya menjadi musuh yang tak terbaca di list Alaskar, tanpa membuat kegaduhan, mereka tiba-tiba menyatakan diri dengan mengibarkan bendera perang.
Sebenarnya itu bukan masalah yang besar, mengingat konsekuensi yang akan di dapat ketika menjalani kehidupan sebagai seorang ketua atau anggota di sebuah geng motor yang sangat dikenal di jalanan pastinya akan memiliki musuh yang tak terhingga. Mereka tau, dan mereka juga sangat paham akan hal itu.
Melihat musuh yang menatap iri ke arah mereka adalah makanan sehari-harinya, mereka tak akan mungkin terkejut atau bahkan gentar karenanya. Mereka sudah biasa, menenteng berbagai macam senjata di dalam jaketnya, mengintai musuh yang kadang selalu mengikuti mereka atau berperang secara terang-terangan di medan pertempuran untuk menjaga nama baik geng yang tersemat di jaketnya. Itu biasa, dan mereka terbiasa karenanya.
Tapi, ketika musuh yang dihadapi kini adalah salah satu orang yang dipercayai, mungkin akan berbeda. Kekecewaan yang tersirat jelas dari wajah Jeff seolah menghasilkan rangkaian pertanyaan yang seolah tak mampu Jeff ampu sendiri. Ketika ia menjadi malu untuk menginjakkan kakinya di basecamp beberapa saat tadi, merasa tak pantas dan bingung dengan kenyataannya. Yang ada di pikiran Jeff saat ini adalah bagaimanakah rasanya sebagai ketua yang paling disegani ini menatap ke arah para anggotanya? Bagaimana ia bisa menjelaskan situasi yang sedang di alami pada orang-orang yang percaya kepadanya nanti?
Apakah ia kini sudah mulai melemah, mengingat orang yang paling ia percaya bahkan mengkhianati dirinya? Dan malah berpaling dengan musuh paling kuat yang sering mencari gara-gara dengan mereka?
Apa ia kurang bisa mengayomi anggotanya? Apa ia selama ini egois, terlalu memikirkan perasaanya sendiri hingga perasaan anggotanya terluka karena dirinya? Apa kesolidaritasan mereka kurang? Atau memang sedariawal dia memang memasuki Alaskar untuk perlahan menghancurkannya dari dalam? Membuat Alaskar runtuh tak bersisa? Membuat Jeff terluka karena ia merasa tak becus menjalankan tugasnya sebagai seorang ketua?
Jeff mengusap kasar wajahnya, kemudian memijat pangkal hidungnya dengan helaan nafas yang teratur keluar dari mulutnya.
"Udahlah, nggak usah terlalu dipikirin." Suara seseorang tiba-tiba terdengar, berasal dari orang yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Inget, kedepak satu, yang mau ngikutin ayo maju." Kata Megan membuat Jeff melirik sinis ke arahnya.
"Pinter juga lo nyari kata-kata gituan."
"Woiya jelas." Megan tersenyum bangga.
"Gue cuma kecewa, kesolidaritasan yang gue bangun susah payah buat ngebentuk geng sebesar ini nggak mudah. Dan dengan gampangnya dia ngotorin bahkan ngerusak ini semua." Jawab Jeff sambil tertawa sumbang, kini tak menoleh ke arah Megan yang kini sudah mengambil minuman beralkohol di depannya, kemudian meneguknya cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
GANGSTER ✔
Fiksi RemajaIni tentang Jeffrey Ragaska Dewandaru, Leader Alaskar. Ia bukan hanya dikagumi karena memiliki paras tampan dan tubuh yang proporsional tetapi ia juga dihormati karena kepiawaiannya dalam memimpin pertempuran. Rachel Adhiyasta adalah seorang gadis c...
