26. permintaan Erica

45.2K 3.6K 15
                                        

"Jarak kita begitu nyata, tapi ikatan kita masih sama. Aku anakmu, dan kau tetap ayahku."
-Arjuna Dareen Pradipta-

°•○0○•°


Sesuai kata Nashwa semalam, dia memang tidak ikut Arjuna dan yang lain kerumah singgah. Sekarang, Nashwa tengah bersama Abangnya. Berjongkok di sebelah batu nisan bertuliskan Ningsih Ayu Sari, dan Bagus Atmaja. Makan orangtuanya, Nashwa tersenyum sembari menaburkan bunga. Sedangkan Panji bertugas menyirami air ke atas gundukan tanah.

Senyum Nashwa, senyum getir yang penuh kerinduan. Pelupuk matanya bahkan sudah siap meluncurkan tetes demi tetes air mata. Nashwa mencoba tegar, dia tidak ingin menangis disini, dia ingin kedua orangtuanya tenang. Begitu pula Panji, laki-laki itu mengelus lembut punggung Nashwa. Mencoba memberikan kekuatan dan ketegaran pada sang Adik tercinta.

"Do'a yuk Dek," Panji mengajak Nashwa mendo'akan kedua orangtuanya. Nashwa pun langsung menanggapi dengan anggukan. Kedua saudara itu kini tengah bermunajat, mengirimkan do'a untuk kedua orangtuanya, hanya itu yang kini bisa mereka lakukan.

"Aamiin ..." ucap keduanya kompak, menyapu wajah mereka masing-masing dengan telapak tangan.

"Pulang?" Tanya Panji yang hanya di respon anggukan oleh Nashwa.

Nashwa menyentuh bergantian nisan kedua orangtuanya, "Nashwa sama Abang pulang ya, Yah, Bun ... kalian tenang-tenang disana. Kita disini bahagia kok," ucap Nashwa sudah hampir menangis mengatakannya.

"Assalamualaikum, Yah, Bun ..." keduanya kompak mengucapkan salam, mengecup masing-masing nisan kedua orangtua mereka. Beranjak berdiri lalu pergi dengan tangan saling bertautan.

"Kesana?" Tanya Panji yang sudah duduk di kursi mobil bagian kemudi sambil mengenakan seat belt-nya.

"Iya," jawab Nashwa tersenyum simpul.

Mobilpun melaju meninggalkan area pemakaman. Sekitar setengah jam perjalanan, akhirnya Nashwa dan Panji sampai di tempat tujuan. SMP nya Nashwa, mobil hitam itu kini tengah berhenti di depan gerbang, keduanya sama-sama tidak turun. Nashwa menurunkan kaca mobil, menatap lurus ke arah sekolahnya dulu. Tatapan sendunya yang sedari tadi ia bawa semakin kentara, membuat Panji menghela nafas berat melihatnya. Nashwa, dia masih tidak berani menginjakkan kaki di SMP nya dulu yang penuh kenangan. Dari kenangan yang luar biasa bahagia, dan kenangan yang luar biasa derita.

"Ayo, Bang. Pulang," akhirnya, setelah sekitar lima belas menit lebih Nashwa mengajak pulang juga. Membuat Panji mengangguk sambil tersenyum.

Di tengah perjalanan pulang. Panji menoleh kearah sang Adik, mendapati wajah Nashwa yang murung. Andai ... andai di tanggal ini, 12 september, hari dimana Nashwa lahir. Andai ... enam tahun lalu tidak terjadi hal itu, maka Adiknya tidak akan seperti ini. Tapi semuanya hanya andai, andai yang sudah menjadi masa lalu.

Panji meraih tangan Nashwa, menggenggamnya erat hingga membuat Nashwa menoleh.

"Semuanya adalah tulisan takdir yang sudah di rencanakan pencipta. Apa yang terjadi dulu, itu bukan salah kamu atau karna kamu, paham." Ucap Panji lembut dengan senyum manisnya, membuat Nashwa juga ikut tersenyum dan menganggukkan kepala.

"Nashwa, paham." Balas Nashwa dengan senyum tipis dan balik menggenggam erat tangan Panji.

••••

"Baiklah Anak-anak, waktu istirahat selama sepuluh menit dihitung dari sekarang. Silahkan lakukan apa yang kalian mau, kecuali keluar dari kelas, selamat beristirahat." Bu Gendis memberi intruksi, membuat seluruh siswa-siswi Xll IPA 2 bersorak gembira.

Arjunashwa (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang