Malam berikutnya, Moren mencongkel teralis besi pada jendela kamarnya sendiri. Hyereen berjaga didekat pintu, kalau-kalau ada orang yang mendekat. Saat itu kira-kira satu jam setelah makan malam. Menurut Moren, itu adalah jam-jam yang tepat untuk mereka menyelinap. Pasukan keamanan kota belum mulai berpatroli karena malam belum terlalu larut sedangkan orang-orang sudah mengunci pintu rumah mereka masing-masing dengan rapat. Tidak akan ada yang melihat mereka menyelinap sampai hutan.
Moren menggosok telapak tangannya yang kemerahan karena berusaha keras mencopot teralis jendela, sekarang teralis itu sudah diletakkan dengan hati-hati di lantai. Hyereen melihat hasil kerja saudaranya dengan puas, namun dia tidak tersenyum maupun girang. Jantungnya berdebar-debar dengan keras, perasaannya campur aduk antara takut dan penasaran. Mereka mengenakan jubah masing-masing dan menyelipkan pedang di pinggang mereka. Kedua anak itu memanjat jendela dengan hati-hati dan melangkah dengan berjingkat menuju tembok istana lalu memanjatnya keluar.
Seperti yang diperkirakan Moren, tidak ada yang melihat mereka mengendap-endap melintasi jalanan. Mereka sampai tepi hutan perbatasan utara dengan cepat tanpa suatu halangan. Mereka memilih hutan perbatasan utara karena itu adalah hutan terdekat dengan area istana, lagipula hutan bagian barat masih dijaga dengan lebih ketat sejak kemarin.
"Nah," kata Moren setelah mereka sampai tepi hutan.
Hyereen mencengkeram lengan saudaranya erat, mendadak ia merasakan keraguan. Moren sudah hampir memprotes Hyereen karena lengannya diremas begitu, tapi melihat tatapan Hyereen yang ketakutan, dia membiarkan saudarinya itu.
"Apa kau mau pulang saja, Tuan Putri?" tanya Moren.
Hyereen menatap kedalan hutan yang gelap. "Tidak, ayo kita masuk!"
Moren melangkah maju. Dia pernah menjelajah hutan itu sebelum ini. Tapi itu sudah agak lama dan bukan saat hari sudah malam, lagipula waktu itu tidak ada berita mengenai para monster. Sejak muncul berita mengenai para monster, ayah melarangnya bahkan untuk dekat-dekat dengan hutan baik siang apalagi malam.
"Kita tidak akan masuk terlalu jauh, mengerti?" kata Moren saat mulai melangkah. Hyereen disebelahnya mengangguk patuh.
Moren berusaha melangkah tetap pada jalan setapak, kakinya berusaha mencari pijakan yang enak, menghindari semak dan ilalang. Cahaya dari bulan purnama menerangi mereka dari antara sela pepohonan dan itu memberi bantuan yang cukup bagi mereka karena mereka tidak membawa lentera saat keluar.
Moren memperhatikan langkah mereka baik-baik sekaligus telinganya menangkap bunyi-bunyi disekitar mereka. "Sembunyi!" kata Moren tiba-tiba. Dia menarik tangan Hyereen kearah semak-semak disebelah kanan. Mereka merunduk rendah dibalik semak-semak.
Derap langkah kuda terdengar samar dari kejauhan, lama kelamaan suaranya terdengar semakin jelas. Beberapa penunggang kuda melintasi jalan setapak yang barusan dilalui Moren dan Hyereen. Mereka adalah para prajurit istana yang sedang berpatroli. Kedua anak itu menunggu sampai para prajurit benar-benar melintas sampai jauh sebelum mereka keluar dari tempat persembunyian.
"Ini sudah terlalu jauh, Reen." Moren melihat jalan didepan mereka. Bagian yang tertutup rumput rendah mulai menyempit dan ilalang serta semak liar semakin lebat. Lebih jauh lagi, Moren tidak yakin dia akan bisa menemukan jalan kembali atau tidak.
"Kita belum melihat apa-apa, Moren. Tidak bisakah kita jalan sedikit lebih jauh lagi?" rengek Hyereen.
Moren mengigit bibirnya. Kalau saja ini siang hari, tidak akan menjadi masalah sejauh apapun mereka akan masuk kedalam hutan. Moren menimbang-nimbang sejenak, seperti sedang mengingat sesuatu.
"Baiklah, ayo kita berjalan sedikit lagi!" katanya.
Dan merekapun berjalan sedikit lagi.
"Sampai sini saja." Moren memutuskan setelah mereka berjalan agak lumayan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasyMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
