Vellar bercerita pada Moren mengenai para Rockbum. Moren tidak keberatan mendengarkan, lagi pula celah tempat mereka berada cukup nyaman.
Para Rockbum sudah sejak lama berada di tempat itu, sejak sebelum pohon-pohon besar yang tumbuh di pulau itu ada.
"Kami ada sebelum para naga datang dan tinggal, sekarang mereka sudah tidak ada dan kami masih ada."
Menurut Vellar, merekapun tidak tahu bagaimana mereka muncul dan terbentuk, namun jumlah mereka tetap sejak semula. Para Rockbum tidak makan untuk hidup, mereka mendengarkan. Mereka mendengarkan suara-suara dari seluruh penjuru mata angin, kabar-kabar dan bahasa-bahasa yang dibawa angin yang berhembus melalui mereka.
"Angin dari laut paling menyenangkan untuk didengar. Mereka kuat namun bersih, dalam namun tidak bising_ kadang-kadang suara camar membuat sedikit gaduh, namun semuanya tetap menyenangkan. Ada kalanya angin dari jauh sampai ke tempat kami, mereka membawa berita-berita dari pulau seberang."
"Apakah itu dari benua utama?" tanya Moren.
"Sepertinya begitu, aku dengar beberapa orang menyebut demikian. Ada beberapa yang seperti kami di seberang sana. Sudah lama aku tidak mendengar mengenai mereka, kurasa kini mereka sudah mati," kata Vellar datar.
"Aku turut berduka, Vellar," kata Moren.
Vellar tertawa.
"Berduka untuk apa?"
"Kematian rasmu diseberang sana."
"Humm," Vellar mengangguk.
"Kematian bagi kami bukan seperti yang kalian pikirkan, Moren. Kami tidak menganggap hal itu menyedihkan. Orang-orang memotong dan mencongkel batu-batu untuk membangun. Rasanya itu tidak buruk, mati namun menjadi berguna untuk yang lain. Menurutmu apakah itu menyedihkan?"
Moren tidak bisa berkata-kata.
"Suatu hari aku akan mati dan peri di sebelahmu itu akan dengan senang hati membelahku untuk menemukan secuil batu mulia didalamnya." Vellar tertawa.
Coral mendelik pada Vellar.
"Oh, ya! Aku tidak sabar untuk melakukannya Vellar. Kau membuatku tampak jahat didepan manusia ini."
Vellar tertawa untuk waktu yang agak lama.
"Ya ya ya... kami tidak bersedih hanya karena kematian membuat kami akhirnya diam untuk selamanya. Tapi selama kami hidup, kami ingin hidup dengan nyaman. Kami ingin mendengar angin-angin yang merdu yang tidak mengandung hal-hal negatif. Akhir-akhir ini, angin dari utara sana terasa berat dan rasanya tidak menyenangkan. Tadinya isinya hanya mengenai pepohonan dan binatang liar, sekarang kami mendengar kejahatan, ketidak puasan, ambisi dan kekacauan. Itu membuat kami jengkel."
"Itu karena Roh Gelap membuat sarang di utara. Aku sudah melihatnya," kata Moren.
"Ya. Para peri memberitahuku demikian. Mereka bilang kalau kami bergabung dengan rencana mereka maka angin-angin akan kembali menceritakan mengenai keindahan, sama seperti dulu."
Coral tersenyum.
"Kau tahu hal itu benar, Vellar."
"Ya... baik, semuanya akan kembali baik katamu. Tapi hidup kami sudah lama sekali, Coral_ tidak ada sesuatu yang baik selamanya akan baik. Sebenarnya aku tidak suka ikut campur urusan yang lain, lagi pula angin-angin dari arah lain masih cukup memuaskan."
"Vellar, kau tidak ingin bilang kau kini berubah pikiran, bukan? Apa kau pikir Moren susah payah sampai di sini hanya untuk mengalami penolakan?"
Coral terdengar kesal.
"Marah-marah tidak cocok untuk peri, Coral." Vellar terkekeh.
"Apa aku barusan bilang aku tidak mau membantu? Tenanglah, aku hanya sedang menyampaikan isi hatiku."
"Vellar," kata Moren,
"Aku tahu kematian tidak membuat kalian gentar, sedikit ketidak nyamanan juga tidak mengganggu kalian. Tapi kami berbeda dengan kalian, usia kami pendek, namun bukan kematian yang kami takutkan. Kami tidak menyukai perpisahan atau penderitaan yang mungkin kami lihat terutama dari orang-orang yang kami sayangi. Hidup kami singkat, oleh karena itu kami ingin mengisinya dan membuatnya bermakna dengan sesuatu yang indah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasyMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
