Sehari sebelum itu di Menara Jarum.
Moren memperhatikan Coral menyiapkan alat-alat yang akan dibawa pergi. Beberapa anak panah dimasukkan ke dalam kantongnya. Moren melihat beberapa berpendar redup pada mata panahnya.
"Apa ini?" Moren menarik satu anak panah yang berpendar kekuningan.
"Light shot," jawab Coral sambil sibuk dengan alat-alatnya.
"Light shot?" Ulang Moren tidak mengerti.
Coral mencabut anak panah itu dari tangan Moren.
"Lihat," katanya menunjuk bagian mata panah yang berpendar.
"Kami memasukkan cahaya matahari siang hari kedalam mata panahnya. Kau sudah pernah melihat roh yang musnah karena sinar matahari, kan? Sebenarnya mereka itu sulit dibunuh kecuali kalau terpapar sinar matahari saat siang. Dengan anak panah ini, Moren..." Coral berlagak layaknya seorang guru pada muridnya yang bocah, "kau bisa membunuh mereka kapanpun, hanya saja kau harus menembaknya tepat dibagian tengah. Para roh gelap sangat takut pada anak panah ini. Bagus, kan?"
Coral tertawa di ujung penjelasannya.
"Wow!" Moren mengangguk-angguk. Ia jadi teringat bahwa Animalo yang bertemu dengannya di Khelam pernah menyebut mengenai light shot. Jadi benda ini yang waktu itu mereka maksud.
Malam itu, Moren sekali lagi berada di landasan Pterogorn dengan sejumlah peri yang hadir untuk mengantar kepergiannya dan Coral. Seekor Pterogorn sudah disiapkan di landasan. Punggungnya kebiruan ditimpa cahaya lentera para peri.
"Kita akan menaiki Rain. Kalian sudah pernah bertemu dan kau sudah pernah menaikinya sebelum ini, jadi aku rasa dia yang paling tepat mengantar kita kali ini."
Coral menyerahkan beberapa barang pada para keeper, mereka mengikat barang-barang itu pada pelana Rain.
"Baiklah." Moren tidak peduli mengenai Pterogorn yang akan mereka gunakan, baginya semua sepertinya akan sama saja.
Lotus berdiri diantara para peri. Moren beberapa kali melihat ke arahnya, ingin sekali mengajaknya bicara berdua.
"Pergilah!" kata Coral. "Kalian tidak akan bertemu lagi untuk waktu yang agak lama setelah ini, paling tidak berpamitanlah dengan benar."
"Ah!" Moren terbelalak menatap Coral, terkejut karena seolah peri itu sudah membaca pikirannya.
Coral memutar bola matanya.
"Seluruh Menara sudah tahu, Moren. Soal kau dan Lotus. Kami tidak buta."
Bahkan seluruh peri disana tertawa. Moren tersipu malu karenanya.
"Kalau begitu, aku permisi sebentar," katanya dengan wajah merah sambil menghampiri Lotus. Digandengnya Lotus menjauh dari sana.
"Aku berharap aku bisa pergi bersamamu," kata Lotus.
"Aku juga senang seandainya demikian, tapi aku setuju dengan Ratu Violet_ kau sebaiknya tetap tinggal untuk memulihkan diri." Moren menatap mata Lotus.
"Aku sudah sembuh, Moren," protes Lotus.
"Ya, aku bisa melihat itu." Moren tersenyum, "Kau cantik sekali."
"Hei, bukan itu yang aku katakan tadi!" Lotus dengan kesal memukul pundak Moren.
Moren tertawa. "Kita akan bertemu lagi nanti. Di Galgalore, aku akan mengajakmu jalan-jalan. Aku janji aku akan membawamu ke tempat yang indah disana." Moren mengambil tangan Lotus dan mengecup jemarinya. "Sampai jumpa," katanya.
Lotus mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa setelahnya sampai Moren pergi bersama Coral meninggalkan landasan.
Coral memacu Rain terbang terus ke arah selatan, mengikuti jalur-jalur darat yang mungkin dilewati rombongan Katz dari udara. Mereka beristirahat sejenak setelah terbang beberapa jam. Setelah matahari terbit, perjalanan mereka berlanjut, kini Rain terbang menyerong ke barat, ke area terbuka pegunungan Tanah Merah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasyMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
