58. Akhir dari Waroght

17 4 0
                                        

Di Paruh Bebek, pergulatan masih terjadi antara Incanio dan anak buah Waroght. Gempa bumi itu membuat para roh sedikit gentar, pertama-tama karena mereka tidak melihat para Incanio mencemaskan gempa itu. Konsentrasi para Animalo terganggu saat melihat batu-batu besar berguling dari atas sebuah bukit. Para Incanio jadi lebih mudah mendekati dan menyergap mereka. Dalam posisi yang begitu dekat, Animalo-animalo itu kesulitan menggunakan kemampuan istimewa dan terpaksa mereka bertarung secara fisik.

Waroght masih berdiri tegap, meskipun sekarang kepalanya penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan tapi kewaspadaannya tidak berkurang. Sampai akhirnya ia melihat sendiri bagaimana para pengikutnya yang maju ke pertempuran terkubur hidup-hidup, bagaimana mereka dipaksa keluar dari tubuh inang mereka dan bagaimana para peri menghabisi mereka dengan light shot. Waroght tercengang menyaksikan saat roh-roh menjerit pada akhir hidupnya.

"Kejutan," kata Katz sambil menyeringai.

"Kalian sudah merencanakan ini?!" Waroght terbelalak pada Incanio itu. Dia masih bingung, bagaimana mungkin batu-batu itu terguling pada waktu yang tepat?

"Benar," Katz menyeringai. "Kulihat kau menyukainya."

"Brengsek!" Waroght mengerahkan seluruh kemampuannya dan menyerang para Incanio dengan hujaman batu-batu besar. Batu-batu itu menghantam mereka dan membuat sebagian Incanio terlempar. Katz yang tergesit diantara mereka, menghindari batu-batunya dan menerjang Waroght dengan cakarnya. Jarak yang terlalu dekat akan mengganggu konsentrasi Waroght, maka Waroght mencabut pedang manusianya dan mengayunkannya menangkis cakar Katz.

Mereka menyerang antara cakar dan pedang. Api memercik setiap kali cakar Katz beradu dengan pedang Waroght. Hingga akhirnya Waroght mendapat kesempatan untuk sedikit berkonsentrasi, sebuah batu besar menghantam dada Katz hingga ia jatuh terlentang. Waroght melompat ke atasnya dan mengayunkan pedang ke leher Katz. Dia akan puas jika melihat kepala Incanio itu pisah dari badannya.
"MATI KAU!!!" teriaknya.

Katz bisa melihat mata pedang itu melesat ke atas. Dia tidak mungkin menghindarinya. Tidak salah lagi, sampai disinilah akhir hidupnya. Bayangan wajah Hyereen muncul dalam sekejap di kepalanya. Selamat tinggal, Reen_ pikirnya.

"ARGHH!"

Katz mendengar tiba-tiba Waroght menggerung, pedangnya tercampak di sebelah Katz dan tubuhnya jatuh menimpa Katz. Dibelakangnya, Moren mencabut pedangnya dari punggung Waroght dan nyengir pada Katz.
"Hai," katanya, "sungguh jahat, ada pesta disini, kalian tidak mengajakku."

Waroght mengerang pelan saat asap biru mulai menguap dari tubuhnya membentuk roh ular.

"Tangkap dia!" Katz berteriak sambil menyingkirkan tubuh inang Waroght dari atasnya.

Moren meraih roh ular itu dan mendekapnya kuat. Seorang peri yang sayapnya patah-patah berlari ke arahnya dan menancapkan light shot ke inti roh itu. Waroght melengking kemudian menghilang.

Animalo yang tersisa menjadi panik mengetahui Waroght sudah dihabisi. Mereka menjadi kacau dan karena sudah kelelahan dengan pergulatannya, para Incanio dengan mudah melumpuhkan mereka. Segera saja anak buah Waroght terbunuh satu-satu. Para peri mengakhiri hidup mereka dalam wujud roh dengan light shot.

Setelah itu pemandangan menjadi kacau di Paruh Bebek. Tubuh inang para roh bergeletakan, para peri berjalan terpincang-pincang_ mereka terluka, sayap sobek dan terlipat, dan beberapa Incanio terbaring berdarah.

Moren melihat semuanya nampak buram, dia menggosok matanya untuk melihat lebih jelas.

Katz dengan susah payah berdiri, menolak uluran tangan dari Moren. Dia heran sekali bagaimana Moren bisa tiba-tiba muncul disana, tapi ia senang. Kalau tidak begitu_ saat ini Bris pasti sibuk menyibak-nyibak semak mencari kemana kepalanya sudah menggelundung.

Katz berjalan menuju salah satu tubuh Incanio yang sudah ditinggalkan roh sambil menggosok lehernya. Memang Waroght tidak berhasil melukai lehernya, tapi dia masih merasa ngeri, hampir saja kepalanya pisah dari tubuhnya.

Bris mengatur siapa yang perlu diutus ke perkemahan dan istana untuk memberi kabar mengenai kematian Waroght.

Katz berlutut di samping mayat seorang Incanio, tangannya mengusap tubuh itu dengan sayang. Itu tubuh ayahnya, Auro telah meninggalkannya.

Moren mendekat, masih sambil menggosok mata, pandangannya belum bersih_ ia curiga asap masuk ke matanya terlalu banyak dan kini ia mulai agak pusing.

"Aku mendengar tentang Auro dari Lylo. Apakah itu ayahmu, Katz?" tanya Moren.

"Ya, Moren, ini ayahku. Akhirnya aku bisa menguburkannya dengan pantas."
Katz mengusap tubuh itu sejenak, mengenang cinta ayahnya padanya. Dia berpaling pada Moren dan berkata, "Aku sangat berterimakasih padamu, Moren. Bagaimana kau bisa ada disini? Kau sudah..."

Moren memegang kepalanya dan mengerang, "Ukh!" Lututnya menekuk dan tubuhnya meluncur jatuh.

"Moren?!" Katz menangkap tubuhnya dengan cepat.

Moren menyandar pada lengan Katz dan mengerang.
Katz melihat luka memanjang di samping tubuhnya. Cakar warg. Dia tidak ragu lagi, tapi tidak ada warg di antara mereka di Paruh Bebek.
"Ini warg. Bagaimana kau mendapat luka ini?"

Moren hanya mengerang sebagai jawaban.

Roisen mendekat begitu melihat pangerannya jatuh. Dia yang menjawab pertanyaan Katz. "Sebelum bunyi terompetnya, sebelum kami mendaki kemari, ada serigala besar yang mencegat pangeran. Mungkin saat itu ia terluka."

"Itu terlalu lama. Apa kau tidak tahu kalau cakaran warg beracun?" Para Incanio sudah memberitahu manusia mengenai informasi ini, mereka meninggalkan sebagian penawarnya pada perawat di istana.
"Seharusnya kau langsung membawanya ke tempat perawatan."

"Aku tidak melihat serigala itu melukainya," kata Roisen menyesal. Memang ia tidak melihat saat warg mengayunkan cakar dan melukai Moren, dia hanya melihat saat warg itu mengayunkan cakar untuk menyerang yang kedua kalinya.

"Kau harus segera membawanya pergi, Katz!" Kali ini Bris yang bicara pada Katz, dia memperhatikan percakapan mereka.

Katz melihat tubuh ayahnya dan ke sekeliling pada Incanio lain yang terluka. Moren mulai mengigil dalam lengannya.

"Aku akan mengurus semua yang ada disini termasuk ayahmu," desak Bris.

"Baiklah, Bris." Katz memanggil Wombarknya, "Honey!"

Honey muncul dengan cepat. Pertarungan Wombark berakhir ketika tubuh-tubuh roh gelap berhasil dikalahkan. Ketika merasa tuannya tidak ada lagi, Wombark-wombark roh gelap melarikan diri dari tempat itu. Honey terluka disana sini.

Bris membantu Katz menaikkan Moren ke punggung Honey, Katz memeganginya dari belakang.

"Ayo, Honey! Ke kemah penyembuh!"
Honey melesat secepatnya. Wombark itu tadi melihat orang yang dibopong tuannya dan dia tahu siapa orang itu, orang yang sudah pernah memberinya camilan sebanyak 3 genggam, dia menyukai orang itu. Dan nampaknya orang itu butuh bantuan dengan segera.

Kaki dan tubuhnya masih nyeri akibat luka-luka, tapi Honey mengabaikannya. Dia berlari secepatnya. Katz bahkan terheran-heran, dengan luka sebanyak itu, Honey masih bisa berlari sama kencangnya dengan saat tubuhnya sehat.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang