18. Nyaris saja

13 3 0
                                        

Warg penjaga pintu gerbang bagian timur itu sedang menggerutu kesal. Partnernya yang menggunakan tubuh manusia sedang tidak bersamanya. Ada keributan di dalam diantara para anjing dan Wombark, seseorang sudah memberitahu mereka dan partnernya memutuskan untuk pergi membantu. Kini Animalo warg itu harus menjaga gerbang sendirian, kesal setengah mati tidak diijinkan ikut masuk untuk melihat. Lagipula lihat saja gerbang yang sedang dijaganya! Untuk apa sebenarnya dijaga? Tidak pernah ada masalah terjadi disana selama ini.

Warg itu menegakkan tubuhnya saat sesosok roh berkerudung melintas keluar. Didalam ada tontonan menarik dan dia malah keluar? Dan hei, bau manusia itu tercium kembali, padahal partnernya yang manusia itu sedang tidak ada disana.

Warg itu mengawasi. Ketika roh berkerudung itu berjalan pergi agak jauh, ia melangkah keluar meninggalkan pos penjagaannya.

Moren berjalan terus kearah bukit-bukit karang, mendaki bukit itu dan setelahnya ia benar-benar meninggalkan area Sarang. Beberapa langkah setelah pendakiannya selesai, Moren berhenti berjalan. Ia merasa seperti ada seseorang yang mengikutinya. Moren memutar badannya dan melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa diantara dirinya dan pohon-pohon, tapi kewaspadaannya meningkat. Dia berjalan menyimpang menjauh dari gua.

Sekali lagi Moren berhenti berjalan dan kali ini membalikkan badannya dengan cepat. Sosok hitam yang berjalan tak jauh dibelakangnya tak menduga Moren akan mendadak melihat ke belakang, dia membeku taksempat bersembunyi. Mata birunya bersinar dibawah bayangan pohon-pohon.

"Manusia, bagaimana bisa?" kata Warg itu berjalan mendekat.
Sudah kepalang ketahuan kalau dia membuntuti manusia itu, dia memberanikan diri berurusan dengan orang itu.

Moren meraba pangkal pedangnya dan menghunusnya dengan cepat saat serigala itu melompat diantara pohon-pohon langsung kearahnya. Tepat waktu Moren mengayunkannya dan menangkis cakar tajam sang warg sebelum cakar itu menggores tubuhnya. Tudungnya tersingkap karena gerakannya.

Warg itu nampak senang melihat wajahnya.

"Ha! Mereka pasti senang kalau aku membawamu kedalam, tapi kurasa sebaiknya aku membereskanmu selagi bisa."

Warg itu terus menyerang setelahnya, Moren tidak kalah tangguh. Sekalipun langkahnya terdesak mundur, tak satupun serangan warg itu melukainya. Warg itu menggerakkan jarinya dan sebuah tunggul kayu bergerak menyapu pergelangan kaki Moren.

"Ukh!" Moren terjengkang kebelakang. Ia ingat Katz pernah bilang bahwa para roh bisa menggerakkan benda-benda dengan pikiran mereka.

Warg melompat keatas Moren. Moren mengayunkan pedangnya dan melukai lengan warg itu. Moren berguling dan merangkak menjauh. Sebuah batu melayang kearah kepalanya, Moren menjatuhkan tubuhnya kembali untuk menghindar.

Warg itu kembali melompat keatas Moren. Kali ini Moren berkonsentrasi dengan sungguh-sungguh, dia mengayunkan pedangnya pada saat yang tepat. Serigala itu menggeram dan mendengking saat berguling ketanah, darah bercucuran dari dadanya. Moren tidak membuang-buang waktu, sebelum warg itu bangkit kembali, Moren mengayunkan pedangnya menebas kepala sang warg.

Suara erangan yang berat terdengar setelahnya. Seakan jatuh diatas panggangan, tubuh serigala itu mendesis berasap. Moren mundur sedikit dari posisinya. Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Asap putih keluar dari tubuh warg itu, berkumpul dalam suatu titik dan mulai melayang-layang dalam suatu bentuk, mata birunya bersinar mengilap.

Moren baru saja menyaksikan satu roh harus keluar dari tubuh inangnya saat tubuh itu mengalami kematian yang kedua. Dia menatap roh itu dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, sedangkan roh itu bergerak panik diantara bayang-bayang pohon, menghindari sinar matahari.

Sesosok bayangan gelap berkelebat melewati Moren. Bayangan itu melintasi kepala Moren tepat kearah roh yang baru terbentuk. Dia memaksa roh itu, mendorongnya ke area yang lebih terbuka. Roh itu tampak meronta untuk menghindar.

"Tidak tidak! Jangan!" roh itu memohon, tapi orang yang mendorongnya tidak menggubris. Tepat diarea terbuka, sinar matahari yang terik menyerangnya dan perlahan-lahan roh itu lebur bagaikan debu yang tertiup angin. Teriakan melengking mengiringi kepergiannya.

"Katz!" Sosok yang sudah mendorong roh itu rupanya adalah Katz.

"Kau tidak apa-apa, Moren?" Katz menyeringai pada Moren. "Aku berpikir untuk jalan-jalan sebentar, ternyata ada kejadian seperti ini."

"Apa yang terjadi pada roh itu?" tanya Moren.

"Yah, sudah kukatakan bukan kalau mereka tidak bertahan dibawah sinar matahari. Lylo juga harus memakai jubahnya saat harus keluar siang-siang."

"Aku tidak tahu semudah itu matahari menyakiti mereka."

"Ya, semakin siang akan semakin mematikan untuk mereka."

Katz dan Moren memperhatikan sekitar, mencari kemungkinan ada roh lain yang mengikuti mereka. Tapi rupanya hanya warg satu itu yang sudah mengikuti Moren.

Katz mendekati tubuh warg yang sudah tidak bergerak.
"Kita harus menyembunyikan bangkai ini, bisa-bisa ada yang melihatnya dan mengetahui keberadaan kita. Untung roh tadi juga terbunuh, jadi tidak akan ada yang memberitahu roh gelap mengenai keberadaanmu."

Moren mengangguk, kemudian ia dan Katz menyembunyikan bangkai warg itu dibalik celah bebatuan dan semak-semak.




Lotus terbang meninggalkan area tahanan ke arah yang berbeda dengan Moren. Dia terbang ke arah selatan untuk memotong jarak tempuh, arah itu lebih dekat menuju gua, namun harus melintasi area Sarang agak jauh dibanding jika dia menuju arah timur. Lotus memilih arah itu karena dia merasa kekuatannya tidak akan bertahan lama, dia harus sampai secepatnya ke tempat Katz. Hyereen berada dalam pelukan Lotus. Lotus menyalurkan kemampuan menghilangnya pada Hyereen dan kini mereka melintasi Sarang tanpa terlihat.

Karena terbang sambil menghilang dan membawa beban, Lotus jadi tidak bisa terbang terlalu tinggi. Dia melayang hanya sedikit lebih tinggi dari atap bangunan. Tidak lama kemudian, sebagian besar tenaga sudah meninggalkan tubuh perinya, dia kehilangan kontrol pada kemampuan menghilangnya. Tepat pada saat itu pasukan Wombark roh gelap melihatnya dan berteriak.

"Ada peri disana!"

"Dia membawa sesuatu!"

"Cepat cepat!"

Tombak-tombak dicabut dari tempatnya dan panah-panah ditarik pada busurnya. Pasukan roh gelap mengarahkan senjata mereka pada Lotus.

"Tidak!" Lotus bergerak panik.
Hyereen ngeri melihat tombak dan anak panah berdesing disekelilingnya, tapi dia berusaha keras untuk tidak bersuara sama sekali.

Lotus terbang berkelok-kelok menghindari panah dan tombak.

"Akh!" Sebuah anak panah melesat mengoyak salah satu sayapnya. Sesaat mereka terbang terombang ambing nyaris jatuh, lalu dengan susah payah Lotus kembali terbang dengan baik.

"Ayo Lotus! Ayo Lotus! Sedikit lagi!"
Hyereen mendengar pembawanya berbicara untuk menyemangati dirinya sendiri. Lalu seolah Lotus kembali menemukan tenaga, mereka kembali menghilang.

"Kemana dia?!"
Suara-suara roh dan animalo terdengar ribut dibawah sana.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang