Moren dan Coral meninggalkan Damrockpad setelah mereka bicara dengan seluruh Rockbum yang ada di sana. Rain mengepakkan sayapnya cepat-cepat menjauh dari sana karena dia tidak suka tempat itu. Para Rockbum mengucapkan sampai jumpa dan mendoakan kelancaran perjalanan mereka dengan serempak. Suara paduan mereka terdengar seperti badai dan guntur.
Tidak ada halangan yang berarti selama pembicraan dengan para Rockbum. Mereka sepakat untuk memenuhi janji menjadi bagian dari rencana besar di Galgalore.
Para Rockbum akan bergerak segera setelah mereka melakukan persiapan, begitu kata Vellar. Meskipun tidak jelas persiapan apa yang dibutuhkan oleh batu. Mereka akan berjalan memutar dari arah barat Galgalore, dengan begitu akan mengurangi kecurigaan para Roh Gelap seandainya ada dari mereka yang melihat para raksasa itu bergerak. Lagipula cara itu juga menghindari para Rockbum bertemu dengan manusia, mereka tidak suka terekspose. Mereka akan datang dari barat langsung menuju Pon Tares, bukit tertinggi di samping lembah Coklat. Dari sana mereka akan direncanakan untuk bergerak saat menyerang.
Coral melepas Rain saat mereka sudah dekat dengan area terbuka Tanah Merah. Di leher Rain terikat kain stola milik Coral, sebagai pesan untuk para peri, bahwa pembicaraan mereka di selatan disambut baik. Rain akan kembali ke Menara, sedangkan Coral dan Moren akan berjalan kaki menuju Galgalore.
Coral meneliti langit di atas area terbuka Tanah Merah. Kira-kira sudah hampir seminggu setelah Hyereen dan yang lain menyeberangi area itu. Hanya ada sedikit burung-burung hitam di atas area terbuka. Sepertinya Roh Gelap sudah menarik seluruh kekuatannya kembali ke sarang untuk persiapan serangan besar.
"Tetap akan lebih aman jika kita melintas dengan tanpa terlihat, Moren, dan kita tetap harus lewat celah, bukan lewat atas pegunungan karena waktunya sangat terbatas," Coral memberi tahu Moren.
"Aku mengikutimu, Coral."
Coral mengangguk. "Baiklah, berikan tanganmu!"
Moren mengulurkan tangannya dan menggenggam telapak Coral. Dalam sekejap mereka menghilang, tak terlihat.
"Jangan sampai tanganmu terlepas, Moren."
Moren merasa tangannya ditarik. Dia mengikuti arah tarikan Coral dengan hati-hati. Mereka berdua melintasi area terbuka Tanah Merah dengan secepat mungkin.
"Ayo masuk, cepat!" Coral menarik tangan Moren memasuki celah Tanah Merah. Nafasnya terengah-engah, lebih buruk dari pada Moren. Peri tidak dirancang bergerak cepat dengan kaki, apalagi Coral melakukannya dengan menghilang.
Seketika mereka kembali nampak setelah gandengan tangan itu terlepas.
"Istirahat dulu sebentar," pinta Coral saat mereka sudah masuk sedikit ke gua.
Coral yang memimpin melangkah lebih dulu setelah nafasnya kembali normal.
Aroma dalam gua itu memuakkan dan mereka berdua ingin cepat-cepat sampai di ujung, tapi mereka hanya bisa bergerak secepat kaki melangkah. Coral kadang-kadang mengepakkan sayapnya mendahului Moren karena kakinya pegal. Cahaya dari lenteranya diatur remang-remang, memantulkan bayangan mereka panjang gelap memanjat dinding gua.
"Apa menurutmu Bugbeer masih ada?" tanya Moren karena sejak dari awal mereka masuk dan setelah agak lama mereka berjalan tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di sana.
"Kau ingin bertemu Bugbeer?" Coral sangsi mengenai hal itu.
"Bukan begitu. Aku hanya dengar cerita dari Katz. Katz bilang mereka mungkin sekarang tinggal sedikit atau sudah tidak ada sama sekali. Aku akan senang jika seandainya begitu, berarti Hyereen melalui area ini dengan mudah."
"Aku kurang yakin mengenai hal itu. Sebenarnya bau menyengat ini adalah bau kotoran Bugbeer. Waspadalah! Aku heran mereka belum muncul padahal baunya sangat buruk."
Coral berhenti dan membungkuk ke tanah. Dia memungut sesuatu berbentuk bola batu dari sana.
"Lentera Sapphire," katanya. "Kenapa dia meninggalkan lenteranya?"
Lentera itu sudah kehilangan cahayanya, warnanya putih pucat.
Di dalam sarangnya, para Bugbeer meringkuk di tempat masing-masing. Mereka mendengar ada yang masuk ke dalam gua tapi mereka tidak peduli karena mereka kenyang. Para Bugbeer tidak makan setiap hari, sekali makan, makanan itu akan cukup membuat mereka bertahan hingga dua minggu. Ini baru seminggu sejak rombongan Katz lewat sana.
Waktu itu semua Bugbeer terlalu bersemangat karena ada makanan sehingga mereka menyerang serentak secara membabi buta_ meskipun mereka memang nyaris buta. Rombongan Katz berhasil membunuh banyak sekali Bugbeer. Apalagi Cherry, dia menendang dan menginjak banyak sekali Bugbeer. Rombongan Katz berhasil keluar, meninggalkan para Bugbeer di dalam sana dengan sebagian dari mereka sudah mati.
Para Bugbeer tidak pernah menyerang sesamanya ketika mereka masih hidup. Tapi, ya! Mereka memakan teman-teman sendiri jika teman-teman itu mati. Serangan ke rombongan Katz memang gagal, buruan mereka lolos tapi mereka ditinggalkan dengan begitu banyak makanan; bangkai teman-teman mereka sendiri. Itu adalah pesta terbesar untuk Bugbeer setelah sekian lama sejak terakhir Roh Gelap mengumpan mereka. Setelahnya mereka kenyang, terlalu kenyang untuk peduli ada sesuatu yang enak masuk ke tempat mereka.
"Aku jadi cemas." Coral memasukkan lentera Sapphire ke dalam kantongnya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan, Coral." Moren memperingatkan, sebenarnya karena dia sendiri tidak ingin terpengaruh ikut-ikutan cemas.
Mereka meneruskan perjalanan dengan diam. Mata mereka menyisir seluruh gua, sebisa mungkin mencari tanda-tanda seperti pakaian yang tercabik atau benda-benda lain yang bisa memberi informasi dari rombongan Hyereen.
Mereka keluar dari gua itu saat hari sudah sore.
"Akhirnya aku bisa bernafas dengan normal." Moren menarik nafas sepuasnya. Udara terasa ribuan kali lebih segar dari biasanya.
"Ayo kita cari tempat untuk istirahat," kata Coral muram. Dia masih memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi di dalam gua.
Mereka beristirahat di dekat sungai dan tak bisa menghindari membicarakan mengenai celah, para Bugbeer dan lentera Sapphire.
"Sapphire mungkin menjatuhkannya dengan tak sengaja," kata Moren ketika mereka membahas bagaimana lentera itu tertinggal di sana.
"Aku menemukan anak panah." Coral memperlihatkan anak panah yang dipungutnya dari dalam. Moren mengambilnya dan memperhatikan. Ada ukiran peri di pangkalnya, tidak salah lagi, itu anak panah Sapphire.
"Moren," ratap Coral, "Para Bugbeer pasti menyerang mereka saat mereka ada disana dan mereka melawannya. Untuk itulah Sapphire menggunakan panahnya."
"Tapi para Bugbeer tidak muncul saat kita lewat." Moren mengingatkan.
"Itu karena..." Coral enggan melanjutkan.
"Karena?"
"Karena kini mereka sudah kenyang, jadi..."
"TIDAK!!" bentak Moren.
"Tidak terjadi apa-apa pada mereka! Tidak terjadi sesuatu pada Hyereen, pada Katz dan juga Sapphire. Saat ini mereka semua ada di Galgalore!" Suara Moren bergetar dan tenggorokannya serasa tercekik.
Coral terdiam, Moren duduk disebelahnya. Keduanya terdiam berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran buruk.
"Aku pasti tahu jika sesuatu yang buruk terjadi pada Hyereen. Aku akan tahu, karena pikiran kami terhubung_ kami selalu begitu," kata Moren pelan.
"Aku rasa Hyereen baik-baik saja, berarti semua yang bersamanya baik-baik saja, Coral."
Meskipun begitu, akhirnya terdengar suara Coral terisak dan Moren mendadak menjadi ragu dengan perasaannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasíaMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
