Lilin yang dikirim bersama makan siangnya baru saja padam. Hyereen masih melihat asap putih membumbung lemah dari sumbu lilin yang sudah meleleh habis saat ia mendengar suara berkelontang keras dari bagian belakang selnya.
Ada jeruji-jeruji lain dibagian belakang sel dan Hyereen mengira dibalik jeruji-jeruji itu tadinya adalah tembok. Tembok itu sekarang ditarik dengan susah payah oleh seseorang diluar sana. Suaranya berderit nyaring dan memekakkan telinga. Tahulah Hyereen sekarang bahwa disana bukanlah tembok melainkan pintu tebal yang bisa terbuka lebar ke arah luar. Kini pintu itu menjeplak ke arah kedua sisinya.
Hyereen menyipitkan mata dan berkedip beberapa kali dengan cepat. Cahaya dari luar yang masuk tiba-tiba menyakiti matanya. Dia mendekat kearah jeruji yang menghadap keluar itu. Sebentar saja matanya sudah bisa beradaptasi dengan baik dan dia bisa melihat keluar dengan jelas.
Diluar sana, Hyereen bisa melihat tempat seperti sebuah arena. Disekeliling arena itu dibangun tembok tebal dan diluar tembok itu berdesakan makhluk-makhluk asap bermata biru serta makhluk-makhluk lain yang banyak diantaranya belum pernah Hyereen lihat.
Ada binatang-binatang buas seperti Bordy, berdiri tegak dengan kedua kakinya dan rasanya Hyereen juga melihat manusia diantara mereka. Hyereen tidak bisa memastikan, tetapi semua bermata biru dan menyala dengan tajam.
Hyereen mendengar geraman yang tidak asing dari arah kanan selnya. Bordy berdiri disisi luar jerujinya.
"Katanya kau ingin tahu mengenai bertarung?" kata Bordy dengan suara berat seperti biasanya.
Hyereen tak menjawab Bordy, dia terus melihat ke arah tengah arena. Sekarang seseorang yang sangat tinggi dan berambut panjang menggiring seseorang ke tengah arena. Saat itu hari sudah sore dan arena itu terbuka lebar bagian atapnya, Hyereen bisa melihat dengan jelas siapa orang itu. Hyereen terbelalak. Itu adalah Zeleron, salah satu kapten pasukan Galgalore.
Zeleron dibiarkan sendiri ditengah arena, sebuah pedang diberikan padanya. Didepannya ada lorong gelap yang tidak nampak ujungnya, dari sana terdengar suara geraman dan gonggongan yang makin lama makin terdengar keras. Seekor serigala kelabu muncul dari lorong, menyeringai dan liurnya menetes-netes.
Serigala itu nampaknya sudah dibiarkan kelaparan sebelumnya. Ia segera menyerang Zeleron dengan ganas. Semua penonton bergemuruh dengan semangat. Zeleron bukan prajurit sembarangan, Hyereen tahu itu. Serigala itu bukan apa-apa untuk Zeleron dan pedangnya. Taklama kemudian, para monster bermata biru itu harus menyeret bangkai seekor serigala keluar dari arena. Penonton semakin menggila, mereka bergemuruh keras ketika hewan buas lainnya dilepas.
"Apa itu?" tanya Hyereen saat melihat lawan Zeleron selanjutnya.
Itu seperti macan hitam yang besar, taringnya menjulur keluar sebesar lengan orang dewasa.
"Cannus," jawab Bordy.
"Kalian manusia benar-benar tidak tahu apa-apa kecuali lembah kalian yang aman, ya kan?" Bordy menyeringai.
Mata Hyereen terpaku pada pertarungan Zeleron dan Cannus. Ditengah hingar bingar yang terjadi, Hyereen melihat kesekeliling arena. Matanya menangkap suatu bangunan tinggi diujung arena, dibangun layaknya balkon. Seorang pria sedang mengawasi jalannya pertarungan dari sana. Hyereen menatapnya dengan mulut terbuka. Itu paman Greon, adik dari ayahnya, dia dikabarkan menghilang sekitar 2 tahun lalu saat sedang berburu dihutan.
Paman Greon berdiri dengan angkuh dan melihat jalannya pertarungan melalui hidungnya dengan dingin. Pamannya itu masih terlihat seangkuh saat terakhir kali Hyereen bertemu dengannya, hanya saja sekarang matanya berpendar biru menyala.
Pintu besar berderit kembali. Bordy memutuskan sudah cukup bagi Hyereen melihat pertarungan itu. Terakhir Hyereen melihat Zeleron menancapkan pedangnya pada cannus itu. Zeleron berdiri terengah-engah didekat bangkai cannusnya, dia mendongak dan saat itu pandangannya bertemu dengan Hyereen. Hyereen melihatnya terbelalak dan menggumamkan namanya. Setelah itu pintu berdebam tertutup lalu Hyereen kembali ke dalam kegelapan.
Hyereen tidak melihat, selanjutnya Zeleron yang letih harus bertarung kembali dengan seekor Wombark. Dia mengayunkan pedangnya dengan sungguh-sungguh, tapi tenaganya tidak cukup untuk pertarungan itu. Menjelang malam, tubuhnya berguling takbernyawa ditengah arena. Sorakan menggema keras dalam udara.
Sosok paman Greon yang bermata biru mendekati tubuh Zeleron.
"Ambillah, Scheon, abdiku yang setia! Kau layak untuk tubuh yang pemberani ini," katanya pada salah satu makhluk asap yang mengikuti.
"Sesuai kehendakmu, Tuanku."
Makhluk asap itu mendesis merendah. Dia mendekati Zeleron, membalik tubuhnya agar menghadap keatas lalu membungkuk rendah keatas wajahnya. Seolah Zeleron masih hidup, bernafas dan sedang menarik udara, tubuh Scheon terurai dan terhirup kedalam wajah Zeleron. Kemudian ia bangun dengan mata yang menyala-nyala.
"Berjalanlah bersamaku, Scheon!" sabda tuannya pada tubuh baru abdinya.
"Demi kemuliaanmu, Tuanku!" Scheon berlutut dengan tubuh barunya. Tubuh itu masih dalam proses beradaptasi, sedikit berpendar biru pada luka-luka akibat pertarungannya. Setelah pendar-pendar itu hilang, Scheon berdiri tegap dengan luka-luka yang sama sekali tidak berbekas. Mata birunya menatap penuh hormat pada tuannya. Kumpulan penonton itu bersorak keras, mereka menyanjungkan pujian untuk kekuatan dipihak mereka yang kini semakin bertambah.
Hyereen terpuruk didalam selnya yang gelap. Wajah Zeleron yang menatapnya terbayang-bayang dalam kepalanya. Dan kenapa dia melihat paman Greon disana?
Bordy datang membawa makan malam beserta sebatang lilin untuknya. Hyereen menatapnya tanpa bergerak.
"Sekarang kau sudah tahu mengenai pertarungannya," kata Bordy.
"Siapa orang yang berdiri dipanggung itu, Bordy?"
"Orang?" Bordy mendesis.
"Beraninya kau, menyebutnya orang! Dia adalah Roh Agung, tuan para Roh Gelap. Dia yang memimpin kami untuk menjadi yang terkuat."
Hyereen terkejut dengan perkataan Bordy, dia sama sekali tidak mengerti.
"Dia pamanku," katanya lirih.
Bordy tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar dan bergaung ditempat itu.
"Apa kau berharap demikian?" tawa Bordy. "Dengarkan aku, manis... giliranmu akan tiba besok lusa untuk bertarung. Berusahalah sungguh-sungguh, kau tahu, kami akan membebaskan tawanan kalau mereka dapat bertarung sampai babak akhir. Jangan khawatir, kami tidak akan terlalu keras pada perempuan, tapi kami menyukai pertunjukan yang menarik. Jadi bersiap-siaplah!"
Serigala besar itu kemudian berlalu sambil menggeram.
Hyereen memeluk lututnya sendiri. Pertarungan itu membuatnya terguncang dan pertanyaan-pertanyaan memusingkan kepalanya.
Sudah begitu lama sejak beberapa orang Galgalore menghilang secara misterius, tak satupun dikabarkan pernah kembali. Bordy bilang, mereka akan melepas Hyereen jika dia bisa menyelesaikan pertarungannya, tapi Hyereen merasa sepertinya Bordy berbohong. Tapi tidak mempercayai Bordy juga tidak ada gunanya, dia tidak akan bisa menghindari hari-hari esok sebagai tawanan ditempat itu. Untuk kesekian kali rasanya Hyereen ingin menangis. Dia mengigit bibirnya, menahan diri untuk tidak cengeng.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasíaMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
