"Wah, Lotus menggunakan serbuk perinya untuk manusia?" Gold berdecak.
"Apa itu sebuah masalah?"
Gold mengerutkan keningnya. "Sebenarnya, Moren, bahkan serbuk peri dilarang digunakan diluar pemukiman kami. Mereka yang bepergian jauh saja yang diijinkan untuk membawanya keluar Menara dan harus menjaganya sungguh-sungguh agar tidak dipergunakan untuk yang selain peri. Mudah-mudahan Lotus tidak kena masalah karena sudah menggunakannya untuk adikmu. Tapi Ratu Peri sangat pengertian dan hatinya begitu lembut, dia akan memaklumi hal-hal yang bersifat mendesak seperti ini."
"Apakah akan ada efek sampingnya jika digunakan selain peri?"
Gold tertawa. "Tidak. Hanya saja serbuk peri dihasilkan sangat terbatas oleh ratu, jumlahnya sebanding dengan keperluan para peri. Jadi untuk mencegah kami sendiri kekurangan, maka muncul aturan seperti itu. Ratu Violet sudah agak kewalahan mengenai serbuknya, akhir-akhir ini beliau harus menghasilkan banyak untuk peri-peri yang pergi ke Khelam. Kami khawatir sesuatu yang buruk akan menimpanya. Ah, semoga tidak! Kemuliaan dan umur panjang untuk Ratu Violet!" seru Gold.
"Jadi, apa kau sekarang juga membawa serbuk itu?" tanya Moren.
"Tidak, aku pergi tak jauh dari Menara dan tidak akan lama, tidak akan ada alasan bagiku untuk diberi ijin membawa-bawanya."
Moren mengangguk.
Gold memiliki pembawaan yang jenaka dan ceria seperti kebanyakan peri. Tidak seperti Lotus, dia beradaptasi dengan mudah pada Moren. Mereka hanya bicara sebentar dan tubuh Gold sudah tidak berkedip-kedip. Moren memperhatikan wajah Gold dan menduga peri itu pastilah lebih muda darinya.
"Sepertinya kau masih sangat muda, Gold. Berapa usiamu?"
Gold tertawa, lama sekali baru berhenti. Moren tidak mengerti apa yang lucu disana.
"Memang dalam hitungan peri aku termasuk masih sangat muda, tapi jika manusia yang mengatakannya aku jadi merasa lucu. Moren... aku hanya sedikit lebih muda dari Lotus. Aku 63 tahun dan Lotus 73. Dan... oh! Dari ekspresimu sepertinya ini sangat mengejutkan. Apa kau tidak tahu mengenai hal ini? Kau tidak pernah bertanya pada Lotus?"
Moren menggeleng. "Apa kau pernah mendengar istilah 'sungguh tidak sopan menanyakan usia pada wanita'? Aku pikir kalian berdua masih remaja." Moren masih sangat terkejut. Mengingat-ingat sikapnya, apa seharusnya dia memperlakukan Lotus dengan lebih sopan?
Gold memiringkan kepalanya, tidak mengerti kenapa pertanyaan seperti itu bisa dianggap tidak sopan. "Memang bisa dibilang kami belum dewasa. Usia kami rata-rata mencapai 300 tahun, dan kalau aku dengar manusia bisa mencapai 100 tahun, berarti usiaku bisa dibilang 22 tahun jika aku manusia. Tapi usia hanyalah angka, seandainya kau lebih nyaman menganggap kita sebaya_ aku tidak keberatan."
"Kalau begitu sepertinya manusia memiliki usia yang paling pendek, ya?" gumam Moren.
"Tidak juga. Usia Incanio mirip dengan manusia, mereka rata-rata mencapai 100 tahun. Katz saat ini kira-kira 20tahun. Apa kau ingin tahu juga mengenai usia para roh?"
"Tidak. Katz sudah pernah mengatakan padaku mengenai itu. Aku tahu Lylo sudah 300 tahun," kata Moren kaku. "Ini aneh sekali, sebelumnya aku tidak pernah membayangkan bertemu dengan orang-orang seperti kalian. Kini hanya dalam beberapa hari saja aku jadi tahu manusia tidak sendirian di daratan ini."
Gold tertawa berderai-derai. "Kalian manusia hanya diam di lembah kalian yang aman, bahkan angin tidak bisa menyakiti kalian disana. Kalian jadi lembek, terlalu puas dengan kenyamanan, kalian tidak pergi kemana-mana."
Itu bukan pujian dan itu tepat sekali. Moren tidak akan menghindar dituduh lembek. Padahal nenek moyang manusia yang tinggal disana berasal dari pulau seberang. Mereka datang jauh sebelum gempa bumi membuat jalur migrasi mereka tertutup lautan dan tidak bisa lagi dilewati.
Moren jadi berpikir, mungkin nanti setelah semua keadaan membaik, dia akan berjalan-jalan sedikit jauh dari lembah mereka. Lagipula dia kini sudah melewati separo dari daratan itu gara-gara rencana konyol Hyereen yang ingin melihat monster. Tapi hal seperti itu tidak bisa dipikirkan serius untuk saat ini. Dia masih belum terlalu mengerti mengenai Roh Gelap dan hal apa yang ingin para peri dan Incanio sampaikan pada manusia. Saat ini hal itulah yang paling harus dipikirkan.
Cherry kembali saat senja. Katz dan Hyereen berada di punggungnya dan Lylo melayang takjauh dari mereka. Perjalanan itu membuat Hyereen mengeluh punggungnya pegal dan kakinya kesemutan. Mereka beristirahat sejenak di kaki bukit Menara, Gold berkenalan dengan Hyereen diantara waktu mereka rehat.
Moren menduga setelah itu Hyereen mungkin akan berubah pikiran tentang Katz karena menurut Moren_ Gold jauh lebih tampan dibanding Katz. Tapi meskipun demikian, ternyata mata Hyereen masih terus-terusan terarah pada Katz. Moren menyerah, selera seseorang terhadap ketampanan agaknya relatif dan adiknya mungkin memiliki ketertarikan khusus pada taring. Wajahnya berbinar-binar setiap kali Katz menyeringai, menurut Hyereen itu namanya tersenyum manis.
"Tunggu disini ya, Cherry, anak baik. Aku akan kembali lagi untuk mengurusmu." Gold berpamitan pada Cherry, dia memeluk dan mengecup wajah Cherry yang lebar. Cherry menggosokkan kepala pada Gold. Jelas sekali dia suka dipuji dan akan langsung bersikap baik pada pemujinya, apalagi itu adalah seorang peri. Setelah itu Katz yang berpamitan dengan cara yang tak kalah sayangnya pada si muka lebar itu, mereka lebih terlihat seperti 'ibu dan anak' daripada 'hewan dan majikan'. Lalu mereka semua mendaki bukit dibelakang mereka menuju beranda Menara.
Matahari belum sepenuhnya terbenam, Menara Jarum terlihat kokoh dan menjulang ditempatnya berdiri. Terpaan sinar matahari membuatnya berkilau sangat indah diantara hutan-hutan, menyingkirkan ingatan Moren akan dirinya yang kelabu gelap di malam sebelumnya.
Gold meniup peluitnya. Ada sedikit permainan nada saat Gold meniup peluitnya, berbeda dengan saat Lotus meniup peluitnya. Bunyinya halus dan panjang, nadanya naik turun sedemikian rupa, mengirim sandi pada peri di Menara.
Dua bintik kecil nampak melayang meninggalkan puncak Menara. Setelah menunggu beberapa saat, dua ekor Pterogorn mendarat di beranda. Sesaat tempat itu penuh dengan debu dari tanah yang dipijak Pterogorn.
Hyereen ternganga melihat kedua Pterogorn, sedangkan Moren tidak lagi terkejut, tapi kini dia merasa takjub. Sebelumnya dia tidak bisa melihat Pterogorn dengan jelas, sekarang sinar matahari memperlihatkan penampilan mereka dengan lebih jelas. Selain mereka besar dan memiliki paruh bengkok yang kuat, kini terlihat mereka memiliki warna kelabu dibagian dada dan perut, sedangkan dibagian kepala sampai punggung memiliki warna yang menarik. Satu berwarna kebiruan dan samar-samar ada kerlip-kerlip hijau setiap kali sinar matahari menimpanya. Yang lain berwarna oranye gelap dengan kerlip kemerahan.
"Ini Rain, kau sudah melihatnya semalam," kata Gold pada Moren sambil menunjuk Pterogorn yang biru. "Dan ini Summer," Gold menunjuk Pterogorn yang lain. Kedua Pterogorn itu datang tanpa ada seorang peripun yang menaikinya.
"Nah, Katz, kau dan Hyereen akan naik Summer. Aku dan Moren akan memakai Rain, Lylo bisa bersama kami." Gold mengatur mereka.
Moren menatap Lylo, apa roh juga butuh tumpangan untuk naik ke Menara? Tapi tidak ada waktu untuk pertanyaan, Gold sudah mendorongnya agar menaiki Rain. Untungnya para peri menaruh semacam pelana di punggung Pterogorn dan ada tali kekang juga. Moren tidak terbayang jika harus duduk di sana langsung ke punggungnya, sepertinya tidak akan lebih nyaman dibanding duduk di punggung Cherry.
Moren merasa seakan jantungnya masih tertinggal di beranda saat Rain meluncur ke dalam lembah, lalu dengan satu kepakan kedua sayapnya, mereka menyentak ke atas. Saat itu Moren kembali merasakan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari seharusnya. Moren menghela nafas keras untuk menenangkan dirinya sendiri. Gold yang duduk dibelakangnya tertawa karena merasakan kegugupan Moren.
Setelah Rain meluncur ke atas, Summer menyusul melompat ke lembah. Mereka semua mendengar Hyereen berteriak kencang sekali, lalu suara Katz terbahak-bahak menertawakannya. Begitulah mereka terbang beriringan mengitari Menara terus naik hingga ke puncaknya, menuju landasan pterogorn.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasyMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
