2. Rencana

34 5 0
                                        

Malam itu, sekembalinya Moren dan Hyereen dari luar, mereka bertemu dengan ayah mereka. Raja Aberthoren lalu menugaskan sekelompok pasukannya untuk memeriksa hutan bagian barat dengan lebih seksama setelah mendengar cerita kedua anaknya. Setelahnya, kedua anak kembar itu mengabiskan waktu dengan duduk-duduk diruang santai.

"Moren!" Panggil Hyereen pada saudaranya.

"Hm," jawab Moren tanpa menoleh. Dia sedang sibuk menyerut sepotong kayu dengan pisau kecil untuk membuat boneka, hobinya saat menghabiskan waktu luang.

"Menurutmu apa monster itu benar-benar ada?"

"Apa maksudmu?" Moren akhirnya menoleh pada adiknya.

"Aku belum pernah melihatnya langsung."

"Aku juga belum pernah dan tidak berharap melihatnya."

Hyereen mencibir jawaban Moren. "Kenapa monster-monster itu baru muncul akhir-akhir ini? Menurutmu kenapa begitu?" Hyereen memaksa membicarakan topik itu.

"Aku tidak tahu, Reen. Ayah juga belum tahu kenapa begitu. Katanya mereka kebanyakan datang dari utara dan kurasa memang banyak makhluk-makhluk berbahaya diluar sana."

"Mereka tidak pernah menampakkan diri jauh sebelum ini, kan?"

"Yang benar saja," kata Moren, "Bukankah cerita tentang burung raksasa yang muncul diselatan pernah kau dengar?"

"Itu sudah lama sekali, Moren, jauh sebelum kita lahir. Mungkin saja itu hanya dongeng."

Moren terdiam. Selama ini yang namanya monster memang hanya sebatas cerita yang disampaikan dari orang-orang tua saja. Belum ada satu tahun ini barulah ada berita tentang monster yang benar-benar terlihat orang.

"Menurutmu seseorang mengarangnya?" tanya Moren.

Hyereen mengangkat bahu, "Aku penasaran," gumamnya.

"Nanti jika aku sudah 18 tahun, aku akan bergabung dengan pasukan kerajaan untuk ikut berpatroli di hutan-hutan. Nanti aku beri tahu apakah monster itu benar-benar ada," kata Moren.

"Aku juga ingin ikut. Kenapa hanya laki-laki saja yang boleh menjadi pasukan kerajaan? Dan menunggu sampai kau 18 tahun? Memangnya kita punya waktu sebanyak itu ya? Kau tidak dengar bagaimana cerita orang di kedai tadi? Mereka sudah begitu dekat dengan kita, Moren!"

Moren tidak menjawab adiknya. Selama ini mereka memang hanya mendengar mengenai monster di hutan dari cerita saja. Dia mendengar, kadang-kadang pasukan istana mengalahkan beberapa monster, tapi mereka membakar bangkainya dan tidak pernah ada yang dibawa ke Galgalore. Mereka bilang para monster ini wujudnya seperti binatang buas yang besar dan perangainya sangat suka menyerang.

Dulu sekali pernah ada cerita bahwa seekor monster serupa burung yang sangat besar hinggap di perkampungan dan merusak beberapa ladang. Tapi itu sudah lama sekali, jauh sebelum mereka lahir.

Moren memandang suram keluar dari jendela ruang santai. Sekarang ini setelah lewat waktu makan malam sudah tidak ada orang yang berani berjalan diluar, meskipun saat ini purnama tengah berada di langit. Dulu saat malam-malam purnama, sebelum monster-monster dikabarkan muncul dan sebelum ada cerita beberapa orang dikabarkan menghilang dengan misterius_ orang-orang akan berkumpul di perempatan, minum-minum, bercerita dan anak-anak diperbolehkan bermain sampai larut malam. Sekarang jalanan sepi padahal malam belum larut, padahal purnama sedang bagus-bagusnya.

Moren dan Hyereen sangat tidak menyukai suasana seperti sekarang ini, mereka terkurung sepanjang malam harus tinggal diistana. Seorang penjaga bahkan ditempatkan di pintu untuk mencegah mereka keluar saat malam. Sebelumnya mereka berdua terkenal paling suka bepergian, kerumah teman atau saudara atau duduk-duduk dikedai sampai larut malam baru kembali. Mereka tidak bisa melakukan itu sekarang, bukan saja karena ada penjaga diluar sana, tapi karena tidak ada yang ingin menerima tamu saat sudah malam, bahkan jika tamu itu adalah kerabat sendiri atau bahkan seorang putri dan pangeran.

"Moren," panggil Hyereen karena melihat Moren malah melamun.

"Ya ya... apa?" Moren tersadar.

"Ayo kita pergi melihat mereka!"

"Ha? Melihat apa?"

"M O N S...T E R..." Hyereen mengucapkan dengan membentuk bibirnya sejelas mungkin.

"Bagaimana?" Tanya Moren kurang paham maksud saudarinya.

"Ayo kita pergi ke hutan! Kita mengintip saja sebentar lalu kembali lagi pulang." Hyereen mengatakannya seperti seolah sedang mengajak saudaranya pergi memancing.

"Apa?! Itu sangat berbahaya! Lagipula monster itu munculnya malam hari dan kita tidak boleh kemana-mana setelah matahari terbenam."

"Ayo kita pergi diam-diam."

Itu ide yang mengerikan.

"Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada kita?"

"Ayolah Moren..." bujuk Hyereen. "Kita bawa pedang masing-masing. Bukankah kata pelatih permainan pedang kita sangat bagus?"

Moren mengerutkan alisnya dan menatap Hyereen. Adiknya itu menatapnya kembali dan menunggu, dia tahu Moren mulai mempertimbangkan usulnya.

Sebenarnya, Moren sama penasarannya dengan Hyereen, tapi dia tidak berpikir untuk buru-buru kepingin melihat seperti apa monster itu karena nantinya setelah usianya cukup untuk bergabung dengan pasukan istana, dia akan melihat monster itu. Tapi Hyereen tidak bisa berharap begitu, karena seorang wanita tidak akan bergabung dengan pasukan manapun. Lagipula Hyereen mungkin benar, dia tidak akan punya waktu sampai usia 18 dan keadaan bisa memburuk sebelum itu.

"Bagaimana kalau besok malam?" Kata Moren akhirnya.

"Bagaimana kalau malam ini?" tantang Hyereen. Monster itu baru saja terlihat begitu dekat dengan tepi hutan, kalau beruntung mereka tidak perlu masuk terlalu jauh kedalam hutan untuk bisa melihatnya.

Moren menggeleng. "Pedang kita disimpan diruang senjata, terlalu mencurigakan mengambilnya mendadak, lagipula penjagaan tepi hutan diperketat setelah ada cerita dari Almoth, kurasa kita akan sulit menyelinap malam ini. Dan lagi, kurasa kita harus membicarakan masak-masak mengenai rencana ini."

"Baiklah," Hyereen tidak mendesak, dia sudah merasa menang karena Moren menyetujui idenya. "Kita pergi besok," katanya senang.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang