51. Travor

17 2 0
                                        

Travor Pennor adalah pelatih pedang Moren dan Hyereen. Dia pria berusia menjelang 70 tahun, tapi masih gagah dan bugar. Orang-orang selalu mengira usianya masih 50 tahun. Moren mencarinya karena ayahnya sudah menunjuk orang itu sebagai salah satu dari 5 orang koordinator pasukan perang.

Dalam ruangannya, Travor menatap anak muda di depannya. Anak itu membungkuk di atas maket wilayah utara kerajaan, wajahnya terlihat serius.

Moren muncul di hadapannya dan sudah bertanya macam-macam padanya mengenai pasukan-pasukan yang sudah dibentuk ayahnya dan para panglima. Travor menjawab semua pertanyaan Moren karena wajar menurutnya Moren ingin tahu, sebab di dengarnya pangeran itu sudah mengambil keputusan untuk seluruh Galgalore di sebuah negri yang jauh dari sana. Tapi Moren menanyakan semua hal dengan detil, bahkan informasi dari setiap formasi pasukan.

"Kau sudah banyak bertanya, Moren, dan aku sudah memberi tahu semua yang kau ingin tahu," kata Travor pada anak itu.
"Apa kau sedang berencana bergabung dengan salah satu formasi, Moren?"

"Ya. Memangnya untuk apa lagi aku bertanya-tanya."

Travor memutar bola matanya_ anak itu bicaranya masih saja menyebalkan.
"Apa kau tahu, Raja sudah mengeluarkan aturan bahwa yang boleh bergabung maju bertempur adalah yang usianya paling tidak sudah 20 tahun?"

"Aku sudah mendengarnya."

"Lalu?"

"Selalu ada pengecualian dalam setiap aturan."

"Tidak ada pengecualian, Moren. Bahkan untuk pangeran!"

"Nanti aku akan bilang ayah untuk membuat pengecualiannya," kata Moren enteng, seolah menjilat ludah sendiri akan menjadi sesuatu yang mudah untuk seorang raja.

Travor langsung menyerah. Ia memijat pelipisnya dan duduk menyilangkan kaki. Tidak akan ada gunanya seandainya ia mendebat anak itu. Padahal jelas sekali Raja membuat aturan itu untuk melindungi keluarganya, terutama anaknya laki-laki.

Baru saja Tarvor duduk dan hendak menuang teh untuk dirinya sendiri, dia sudah harus berdiri lagi karena pintu ruangan tiba-tiba terbuka lebar. Seseorang masuk ke ruangan itu. Travor membungkuk dalam padanya, "Hormat, Yang Mulia."

Aberthoren mengangguk sekilas padanya, pandangan Sang Raja dengan cepat menyapu seluruh ruangan.
"Moren!" teriaknya.
"Apa yang kau lakukan disini?"

"Ayah_" Moren memberi hormat.
"Aku mencari tahu mengenai formasi yang Ayah bentuk untuk perang yang akan datang."

Aberthoren mendekatinya,"Kenapa kau mencari tahu soal itu?"

"Tentu saja aku harus tahu kalau aku ingin bergabung dengan salah satunya," jawab Moren.

"Aku tidak mengijinkan!" Aberthoren mendelik pada anaknya.

"Aku bukannya akan minta ijin."

"Moren, kau tahu aturannya."

"Ayah," kata Moren, "aku sudah mengambil keputusan untuk seluruh Galgalore, sekarang Ayah tidak berharap aku justru lari dan sembunyi saat orang-orang melakukan keputusan itu, bukan?"

"Itu bukan keputusanmu, Moren. Kini itu adalah keputusanku!" Aberthoren membentak anaknya.

Moren dan ayahnya saling menatap dalam diam, masing-masing nampak tidak akan berubah pikiran. Travor yang menyaksikan itu berhati-hati sekali untuk tidak bergerak dalam posisinya, sebenarnya ia berpikir 'seandainya ia tidak disana'.

"Aku akan tetap pergi meskipun Ayah melarang." Akhirnya Moren yang pertama bersuara.
"Aku melakukannya untuk mempertanggung jawabkan perkataanku dan bukan untuk menentang Ayah."
Lantas ia pergi dari sana, tidak menunggu ayahnya menjawab.

Aberthoren mendesah kesal dan duduk pada salah satu kursi di dekat Travor. Travor dengan sigap menuang teh untuk mereka berdua. Mereka sebenarnya sudah dekat sejak Aberthoren berusia 5 tahun dan Travor sendiri sudah 15 tahun saat itu. Kadang-kadang mereka merasa seolah kakak beradik atau sepasang sahabat karib. Kini ada kalanya mereka bicara sebagai sepasang sahabat dan bukannya seorang raja dan bawahan.

"Kau lihat itu, Travor?" keluh Aberthoren. "Aku kalah berdebat dengan anakku sendiri."

Travor mendorong cangkir teh dengan tatakannya ke depan Aberthoren.
"Kau seharusnya sudah memperkirakannya, kau tahu bagaimana Moren."

"Yah," Aberthoren meraih cangkirnya dan membawanya mendekati bibir, cangkir itu berhenti disana.
"Aku tahu aku akan kalah dan aku tetap berlari mencarinya. Payah," katanya sebelum menghirup teh.

Travor tertawa tekekeh-kekeh di sampingnya.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang