Moren dan yang lainnya sedang menatap ke arah barat saat Katz dan Hyereen kembali. Pon Tares tidak terlihat dari tempat mereka berada tapi mereka yakin di sanalah Vellar dan teman-temannya berada, sedang memanjat bukit itu.
Orang-orang di pengungsian juga mendengar suara angin ribut dan merasakan gempa yang membuat gelas-gelas mereka terjatuh dari meja. Mereka menangis dan berkata satu sama lain, "Dengar! Dengar! Gempa bumi menimpa kita dan suara-suara aneh terdengar, padahal sebentar lagi kita berperang. Ini pertanda buruk! Tuhan ingin menghancurkan kita!"
Mereka bicara demikian karena mereka tidak tahu apa-apa mengenai raksasa batu, hanya orang-orang di istana dan para prajurit yang sudah diperingatkan mengenai para Rockbum.
Orang-orang yang mengerti menyambut gempa itu dengan gembira, mereka menyanyikan lagu-lagu penggugah semangat. Suara mereka menggetarkan udara bergabung dengan suara para Rockbum.
"Baiklah semua, sekarang sepertinya saat yang tepat atau kalian tidak akan mendengar aku bicara lagi," kata Lylo setelah getaran-getaran di tanah berkurang dan suara-suara Rockbum mereda. Semua mengalihkan pandangan padanya. Lylo dan Ludeon berdiri berdampingan.
"Teman-temanku," lanjut Lylo, "sampai sejauh ini kurasa semua rencana yang sudah kita sepakati telah berjalan dengan lancar. Ke depan aku rasa tidak akan ada halangan yang berarti kecuali keberanian tiba-tiba meninggalkan jiwa kalian. Kurasa peran kami, para Roh Murni, sudah tunai. Dan sekarang tidaklah terlalu cepat jika kami mohon pamit dari kalian semua."
Moren sangat terkejut mendengar perkataan Lylo. "Apa kalian tidak akan tetap di sini sampai semua benar-benar telah selesai?"
"Tidak, Moren," jawab Ludeon.
"Peran kami sudah selesai, selanjutnya tidak ada lagi yang bisa kami lakukan untuk membantu. Seandainyapun kami tetap tinggal untuk memberi semangat, itu tidak akan berarti apa-apa dibandingkan kalian yang harus maju dan terluka."
"Tapi kalian bisa tinggal di istana sampai semua selesai_" bujuk Hyereen. Dia tidak menduga akan ada perpisahan malam itu.
"Kami sudah memikirkan hal ini berulang kali, Hyereen. Kami mohon jangan menahan kami! Memang tindakan kami akan terlihat seperti tindakan para pengecut; meninggalkan teman-teman yang sedang bertarung_ tapi jika kami tetap tinggal, tidak ada yang bisa kami lakukan. Tidak bisa membantu apa-apa, bisa-bisa kami malah jadi gangguan."
"Tapi..." Hyereen ingin membujuk mereka, tapi Moren menyentuh pundaknya agar ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Aku mengerti Lylo, Ludeon," kata Moren. "Jika menurut kalian demikian, maka perbuatlah demikian. Aku beserta seluruh Galgalore berterimakasih pada Roh Murni, tanpa peran kalian, semua rencana akan mustahil. Aku harap kepergian kalian ini tidak menutup kesempatan bagi kita kelak bertemu kembali."
Lylo tersenyum pada Moren. "Jangan khawatirkan itu, Moren. Pergilah ke utara, disana diantara pohon-pohon di kaki gunung bersalju, jika kau mengatakan namaku diantara pohon-pohon, aku akan datang menemuimu." Lalu Lylo tertawa, "Itu kalau kalian berani meninggalkan lembah kalian untuk sebuah perjalanan," lanjutnya.
"Aku akan ke sana," kata Moren.
"Suatu hari aku akan pergi mencarimu. Sebaliknya, kapanpun kalian ingin berkunjung ke Galgalore, negeri ini akan ramah pada kalian, taman ini selalu terbuka untuk kalian dan aku sendiri yang akan menyambut kalian."
"Aku akan memegang kata-katamu, Moren. Terimakasih."
Lalu mereka memeluk Lylo dan Ludeon satu per satu. Roh itu terasa dingin di kulit, namun hati mereka merasa hangat.
"Kami sudah berpamitan terlebih dahulu dengan Ratu Violet, para pemimpin Incanio dan penguasa lembah sebelum ini. Akhirnya, kami doakan keselamatan dan keberhasilan bagi kalian semua. Majulah dan jangan gentar!" Ludeon memberi semangat.
"Selamat tinggal!" Kedua roh itu merendah kemudian melayang meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Lylo dan Ludeon, masing-masing dari mereka terdiam, mata mereka menghangat.
"Kita harus pergi untuk beristirahat," suara Coral menyadarkan mereka semua.
Mereka semua setuju dengan Coral, satu persatu meninggalkan taman menuju tempat masing-masing. Moren dan Lotus diam-diam saling menggenggam jemari sebelum berpisah.
Moren dan Hyereen berjalan beriringan menuju kamar mereka. Kamar mereka letakknya tidak berjauhan dan ketika itu Moren singgah sejenak di kamar Hyereen.
Moren melihat sekeliling, mengira-ira kapan terakhir kali ia berada di sana.
"Aku sudah lama sekali tidak berada disini."
"Sebenarnya, kau sudah lama juga tidak berada di rumah, Moren." Hyereen mengingatkan saudaranya bahwa belum lama juga sejak dia kembali pulang.
Moren tersenyum, besok dia sudah harus pergi lagi.
"Apakah kau akan pergi ke selatan, Reen?" Moren duduk di tepi ranjang, Hyereen justru duduk di kursi.
"Tidak. Aku akan tetap di sini."
"Kau ingin ikut ke utara? Ke hutan-hutan dan pertempurannya?"
"Tidak, aku akan di sini, bersama para perawat. Mereka akan butuh banyak bantuan."
"Aku pikir kau akan memaksa ikut berperang."
Hyereen mengangkat bahunya.
"Aku sebenarnya ingin begitu, tapi ayah sudah melarangku sebelum aku bicara padanya. Setelah aku pikir-pikir sepertinya aku akan lebih banyak membantu jika bersama para perawat. Dan..."
"Dan aku juga akan melarangmu," potong Moren, "seandainya kau bersikeras ikut maju. Tapi aku senang kau memutuskan untuk tetap tinggal, membuatku merasa tenang."
Hyereen tersenyum pada Moren, kata-kata saudaranya mengingatkannya pada Katz. "Ya, aku tidak akan bersikeras. Apalagi sekarang ada tiga pria yang mengatakan aku lebih baik tinggal, jadi sebaiknya memang aku tetap di istana."
Moren memandang penuh tanya pada adiknya. Tiga pria katanya? Jika itu ayahnya dan dirinya, siapakah yang satunya?
Moren tadi sempat melihat Hyereen dan Katz menghilang secara bersamaan saat mereka di taman. Kemungkinan besar ada sesuatu di antara mereka. Apalagi Hyereen muncul kembali bersama Katz dengan wajah berseri-seri. Moren sudah bisa menebak siapa itu pria ke tiga. Dia tidak perlu menanyakannya lagi. Paling tidak Katz sudah mengatakan sesuatu yang sepemikiran dengannya pada Hyereen.
Moren mendadak kesal. Jelas-jelas Katz sudah bilang padanya dia akan membuat Hyereen mundur. Dia berpikir apakah akan membahas hal ini dengan Hyereen. Tapi ini bukan waktu yang tepat untuk meributkan hal itu, ada hal lain yang lebih penting untuk di khawatirkan.
Hyereen melihat Moren bergerak gelisah dalam duduknya, mulutnya seperti beberapa kali hendak mengatakan sesuatu tapi kemudian menutup. Hyereen sudah berencana, seandainya Moren meributkan tentang Katz maka dia akan membahas mengenai Lotus. Itu sebanding.
Akhirnya Moren hanya berdiri dan berjalan ke pintu. "Selamat tidur, Reen," katanya sebelum keluar kamar.
"Selamat tidur, Moren."
Hyereen menghembuskan nafas lega setelah Moren keluar dari kamarnya. Untuk beberapa saat dia hanya berguling-guling di atas ranjangnya, cekikikan sendiri mengingat tentang Katz dan dirinya. Sampai akhirnya dia tertidur dengan sendirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasyMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
