4. Penolong

28 4 0
                                        

Moren berhenti dengan nafas yang terengah-engah setelah berlari cukup jauh. Dia berdiri bertumpu tangan pada lututnya ditengah-tengah pepohonan yang lebat. Punggungnya sakit akibat dibanting oleh para sloth dan orang yang dikejarnya sepertinya sangat lincah, Moren sudah kehilangan jejaknya. Tempatnya berdiri itu sangat gelap karena sinar rembulan tidak menembus daun-daun pepohonan yang lebat. Moren mencoba mendengarkan sekelilingnya. Tidak ada yang didengarnya kecuali bunyi nafasnya sendiri dan bunyi daun-daun tertiup angin.

Moren terduduk dengan putus asa. Monster sloth sudah membawa adiknya pergi dan dia tidak ingin membayangkan apa yang akan mereka lakukan pada Hyereen. Dia sendiri sekarang tidak bisa mengira-ira posisinya ada dimana tepatnya. Dia sudah berlari jauh kedalam hutan, sulit mencari jalan keluar apalagi hari sudah malam. Dan memangnya jika bisa kembali pulang, apakah dia punya nyali berhadapan dengan ayahnya tanpa Hyereen?

Moren memandang anak panah ditangannya. Terlalu gelap untuk melihatnya dengan detail, tapi Moren bisa merasakan ukiran halus yang tidak dikenalnya pada pangkal panah itu. Moren tidak menduga ada orang lain yang berkeliaran dihutan selain pasukan dari istana. Tapi siapapun, itu nampaknya dia berpihak padanya. Mungkin.... mungkin saja orang itu tahu sesuatu mengenai para monster dan kemana mereka pergi. Dia berharap monster-monster itu tidak membunuh adiknya, mungkin mereka membawanya dan menyekapnya. Kalau begitu masih akan ada kesempatan baginya untuk menyelamatkan Hyereen.

Dari sebuah dahan dipohon yang tinggi, seseorang mengamati Moren dalam diam. Kegelapan bukan masalah untuknya karena matanya yang merah menyala dirancang untuk melihat baik saat malam tiba. Asap putih serupa kelinci bermata biru melayang-layang didekatnya.

"Dimana Lotus?" tanya si mata biru.

"Ada dibawah. Kurasa dia membuat dirinya tidak nampak untuk bersembunyi."

Si mata biru itu melihat kearah Moren,
"Kau akan bicara padanya sekarang?"

"Menurutmu ini saatnya?"

"Ya, coba saja, Katz."

"Mudah-mudahan dia tidak lari."
Katz dengan lincah melompat ke dahan yang lebih rendah. Tapaknya begitu halus dan mantab, nyaris tidak mengeluarkan suara.

Katz melompat dari dahan terendah ke atas tanah. Saat itu Moren berdiri karena mendengar suara daun terinjak. Dia menarik pedangnya. Sepasang mata merah mendekat padanya. Tidak ada manusia yang memiliki mata merah menyala seperti itu.

"Jangan," kata Katz, "Jangan lari..." Katz mendekat. "Sebaiknya pedang itu tetap pada sarungnya."

"Siapa kau?" Pedang masih teracung saat Moren bicara.

"Teman," kata Katz. "Dan aku serius mengenai pedangmu. Saat ini salah satu temanku sedang membidikmu dengan panahnya. Apa aku perlu memberitahumu kalau matanya lebih awas dari pada burung hantu, dia bisa memanahmu tepat dikepala meskipun dimalam yang lebih gelap dari sekarang."

Moren menatap mata merah itu ragu-ragu. Dia mendengar seseorang tertawa pelan dari arah kanan dan dia tidak melihat siapa-siapa disana. Moren tidak punya pilihan lain dan kalau dipikir-pikir simata merah ini adalah harapan terakhirnya untuk saat ini. Pelan-pelan ia menyarungkan pedangnya kembali.

"Bagus," mata merah itu berjalan mendekat.
"Lotus!" Dia memanggil seseorang. Moren merasa ada seseorang mendekat, tapi dia tidak melihat siapa-siapa.

"Lentera. Kita perlu itu, manusia ini akan lebih nyaman bicara jika ada cahaya." Si mata merah itu bicara dengan seseorang yang tidak nampak disebelahnya.

Ada sedikit gumaman dan tawa dari arah kanan sebelum sebuah bola sebesar kepalan menyala muncul dengan tiba-tiba.

"Terimakasih," kata Katz. "Dan bagaimana kalau kau juga menampakkan diri?"

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang