41. perbatasan selatan

16 2 0
                                        

Penjaga perbatasan Galgalore selatan sedang bercakap-cakap pagi itu. Mereka baru saja sarapan dan sudah siap menghabiskan hari itu dengan membosankan. Karena seperti yang sudah-sudah, tidak pernah ada kejadian menarik di selatan. Sesekali mereka harus menghalau binatang buas, tapi kejadian-kejadian seperti itu sekarang ini jelas tidak ada apa-apanya dibanding harus menghadapi monster di utara.

Seorang dari mereka menguap karena mereka semalam menghabiskan waktu dengan membicarakan para monster di utara.

"Jatah sarapanmu sepertinya harus dikurangi, eh? Aku dengar terlalu banyak sarapan bisa membuat orang mengantuk," kata rekannya.

"Masih pagi dan aku sudah bosan. Bagaimana kalau kau keluarkan kartunya? Ayo kita main kartu!"

"Aku bahkan sudah bosan dengan kartu-kartu ini," jawab rekannya dengan malas, namun tetap membuka kotak kartu.
"Sekali-sekali aku ingin ada kejadian seru di sini."

"Maksudmu kau ingin melihat monster datang dari selatan? Itu bukan seru lagi, itu adalah akhir dari lembah kita yang nyaman. Selama ini selatan aman, raja sudah membuat rencana mengungsi ke selatan jika situasi memburuk, kan?"

"Kau benar. Aku kasihan pada Yang Mulia, baginda kehilangan dua anaknya sekaligus dan setelahnya para monster seperti membludak di utara."

"Aku dengar akhir-akhir ini kemunculan mereka sudah semakin menyusut. Apa menurutmu serangan monster-monster ini sudah akan berakhir?"

"Oh, aku tidak berani bilang apa-apa. Ada pepatah mengatakan 'ketenangan muncul sebelum badai besar'. Ya ampun, aku tidak suka memikirkannya. Semoga tidak demikian."

Temannya yang diajak bicara tidak menjawab apa-apa. Dia menatap jalan setapak yang keluar dari hutan dengan tegang. Dari sana berjalan dua orang, satu tinggi dan besar serta yang lain adalah perempuan.

"Hei, kenapa kau diajak bicara malah diam saja?" Temannya memukul kepalanya.

"Sialan kau!" Dia menggosok kepalanya.
"Lihat itu!" Dia menunjuk pada dua orang yang berjalan mendekat.

"Astaga! Astaga! Siapa itu?"

Mereka berdua bergegas keluar dari pos jaga.

"Berhenti disana!" Teriak penjaga pos pada dua orang pendatang itu.

Petugas jaga itu memandang Katz dan bergidik karena matanya yang merah serta kuku-kukunya yang panjang hitam. Dia berkomat-kamit dan berharap dia tadi tidak mengatakan bahwa ia ingin sesuatu yang seru terjadi.

Dan siapa itu yang berdiri di sebelah monster bermata merah? Sepertinya dia mengenali perempuan itu. Tidak mungkin itu tuan putri mereka yang dikabarkan hilang! Kedua penjaga itu menarik pedang mereka.

"Kembalikan pedang kalian!" perintah Hyereen.
"Apa kalian tidak mengenaliku?"

Kedua penjaga itu berpandangan. Tentu saja mereka tahu siapa orang itu. Tapi rumor mengatakan bahwa para monster bisa menyamar menjadi orang-orang Galgalore, tidak menutup kemungkinan orang didepan mereka adalah monster yang menyamar. Lagi pula yang tinggi besar itu jelas-jelas monster.

"Katakan apa keperluan kalian?" tanya seorang penjaga. Pedang masih teracung di tangan mereka.

"Aku harus bicara pada Ayah, maksudku pada Yang Mulia Raja. Ini mengenai masalah-masalah di utara."

"Apa kalian salah satu dari mereka yang sering muncul di utara? Jadi kalian ingin mengadakan pembicaraan dengan pemimpin kami?"

"Tidak. Aku Hyereen putri Yang Mulia Aberthoren. Kami bukan salah satu dari pengacau di utara. Kalau aku tidak segera bicara dengan ayahku, sesuatu yang buruk akan terjadi. Panggil kepala penjaga kalian! Aku ingin bicara dengannya."

Salah satu penjaga pos berlari ke belakang, meninggalkan temannya gemetaran sendirian. Dipanggillah Malvis Travio, pemimpin penjaga perbatasan itu. Sudah tiga hari Malvis berada di selatan setelah sebelumnya ia bergabung dengan pasukan patroli di utara selama sebulan. Tugas penjagaan di selatan sebenarnya adalah masa istirahat untuknya.

"Malvis," Hyereen tersenyum menyapanya.

Malvis tercengang. Dia memandangi Hyereen dan sosok besar di belakangnya bergantian.

"Kau mengira aku adalah monster, Malvis?" kata Hyereen.
"Begini, apa kau pernah bertemu monster di siang bolong? Apa kau pernah bertemu dengan seorang monster dan dia mengajakmu bercakap-cakap seperti ini sebelum menyerang?"

Malvis menatap Hyereen dan memeriksa gadis itu dengan pandangannya. Kata-kata gadis itu sangat benar. Selama ini dia juga sudah bertemu monster yang berpenampilan seperti seorang dari Galgalore, mata mereka berubah menjadi biru, tapi mata gadis di depannya tetap coklat gelap, seperti yang diingatnya sebagai mata tuan putri.

"Aku tidak bisa percaya begitu saja. Para monster mungkin melakukan muslihat," kata Malvis.

Hyereen memutar bola matanya. Katz bergerak gelisah di belakangnya, dia tidak sabar.

"Aku benar-benar harus bicara pada ayah, Malvis. Kalau kau tidak mengijinkan aku lewat, bagaimana kalau kau memanggil ayah kemari?"
Hyereen memohon dengan memelas. Sepertinya akan lebih mudah jika ia bertemu langsung dengan ayahnya.

Malvis diliputi keraguan. Siapapun yang sudah dinyatakan hilang biasanya tidak muncul kembali, apalagi disertai oleh seorang yang terlihat seram dengan wajah tanpa ekspresi yang menatapnya dengan tidak sabar setiap kali ia bicara dengan tuan putri. Kalau benar gadis itu adalah tuan putri.

"Aku akan melapor ke istana. Kalian tidak diperbolehkan masuk ke dalam Galgalore sebelum aku kembali membawa laporan." Malvis membalik badan. Dengan bergegas ia mengambil kuda dan memacunya menuju pusat pemerintahan.

Kedua penjaga masih mengacungkan pedang mereka pada Katz dan Hyereen.

"Aku boleh duduk, kan?" Hyereen langsung duduk berselonjor diantara rumput-rumput.
"Siapa nama kalian?" tanyanya sambil tersenyum manis.

Kedua orang yang ditanya diam saja.

"Ya sudah. Kalau tangan kalian tidak pegal kalian boleh seperti itu terus sampai nanti. Kembalikan saja pedang itu ketempatnya_ aku bilang, kami tidak akan melukai kalian. Sebenarnya kalau itu tujuan kami, sudah dari tadi kami melakukannya."

Hyereen meraih tangan Katz dan membelai kuku-kukunya yang tajam dan hitam. Katz mengerutkan alis padanya.
"Pedang kalian tidak sebanding dengan kuku-kuku ini. Percayalah padaku, tujuan kami baik," kata Hyereen.

Kedua penjaga itu ragu, tapi kemudian salah satu menyarungkan pedangnya. Temannya mendelik padanya.

"Sudahlah, Ted, kurasa dia serius. Kalau begitu..." penjaga itu ragu, "kau benar Tuan Putri Hyereen?"

Hyereen tersenyum. "Ya_ tapi tidak perlu sungkan padaku."

Ted mengikuti dengan menurunkan pedangnya.

"Anak baik," celetuk Katz, membuat taring-taringnya terlihat.

Ted kembali mengacungkan pedangnya, temannya kembali menarik pedangnya.

"Katz! Aku sudah bilang kau diam saja dulu!" marah Hyereen pada Katz.

"Maaf, tidak sengaja," jawab Katz.

Hyereen mendengus.
"Giginya hanya untuk mengigit steak, tidak usah takut," katanya pada kedua penjaga itu.

Mereka berdua bergeming.

"Sudah terlanjur terlihat tidak apa-apa kalau aku bicara, kan?" tanya Katz.
"Mulutku pegal."

"Ya, ampun." Hyereen menggeleng.
"Terserah kau saja. Tapi nanti kalau ayah disini, tutup mulutmu!"
Hyereen mengalihkan pandangan pada kedua penjaga.
"Kalian berdua bodoh! Tadi kalian baik-baik saja melihat cakar, sekarang kalian ketakutan hanya karena giginya sedikit berbeda dengan kita?"
Hyereen mengomel sendiri dengan kesal.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang