Galgalore, sebuah tempat yang hijau dan subur terlindung sempurna dari angin dan gangguan dari sekitarnya oleh bukit-bukit yang begitu tinggi mengelilinginya. Di tempat inilah manusia hidup dengan damai dan aman didaratan New Hope. Seorang raja yang rendah hati memerintah tanah itu. Bukan tugas yang sulit bagi seorang raja untuk memerintah tempat itu. Rakyatnya begitu patuh dan mereka adalah orang-orang yang tidak suka membuat masalah. Orang-orang Galgalore hidup dengan saling peduli dan menyayangi satu sama lain, masalah serius hampir-hampir tidak pernah muncul diantara mereka.
Kedamaian dan ketenangan Galgalore itu menjadi terusik ketika sejak beberapa bulan yang lalu, bukit-bukit yang ada dan selama ini melindungi mereka kini mengeluarkan teror. Setiap gelap datang setelah matahari terbenam, terdengar suara-suara auman dan erangan binatang-binatang dari dalam hutan-hutannya. Siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri karena suaranya tidak seperti hewan manapun yang pernah mereka temui. Yang pergi terlalu jauh ke dalam hutannya banyak yang tidak kembali dan yang kembali mengatakan tentang binatang-binatang aneh yang ganas dan buas. Orang-orang lalu menyebut binatang-binatang itu monster.
Raja membentuk pasukan-pasukan penjaga hutan untuk berpatroli di sekitar kawasan hutan dan perbukitan. Pasukan-pasukan ini bertugas menghalau dan menghadapi binatang-binatang buas supaya mereka tidak mendekati pemukiman. Beberapa dari pasukan itu tewas dan beberapa menghilang. Yang masih bertahan hidup menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak bercerita pada penduduk mengenai yang mereka hadapi di dalam hutan. Sengaja dipesan untuk tetap bungkam oleh raja mereka agar para penduduk tidak menjadi panik. Namun, sedikit informasi mungkin sudah bocor di antara rakyatnya dan mereka membicarakan mengenai para monster dalam keseharian mereka, berbisik-bisik dengan kecemasan.
Almoth Dalgonn, seorang peternak domba, suatu hari menyadari bahwa seekor domba gembalaannya menghilang dari kawanan saat dia tengah menggiring domba-dombanya kembali pulang dari padang rumput di dekat perbukitan barat. Waktu itu hari sudah sangat sore. Almoth menyuruh anaknya pulang bersama dengan kawanan dombanya dan dia sendiri akan tinggal untuk mencari dombanya disekitar padang rumput.
"Tutu...tutu... Tutu...tutu..." Almoth memanggil-manggil dombanya. Dia memeriksa hampir setiap semak dipadang rumput itu dan tetap tidak mendapati dombanya.
Almoth berdiri ragu-ragu ketika langkah kaki membawanya sampai ketepian hutan. Dia memandang cemas kearah barat sebelum memutuskan bahwa hari masih cukup terang untuk masuk sedikit kedalam hutan. Siapa tahu dombanya itu mencari rumput terlalu jauh.
Masuk sedikit kedalam hutan dan Almoth lalu sadar bahwa suasana didalam hutan berbeda dengan diluarnya. Cahaya matahari masih remang-remang saat dia melangkah dan didalam hutan suasana sudah nyaris gelap. Pohon-pohon yang tinggi dan lebat menghalangi cahaya matahari masuk dan menyinari tanah. Almoth bergidik, memutuskan untuk kembali saja dan biarkan dombanya berkurang satu, toh dia masih punya 39 ekor.
Semak-semak takjauh dari tempat Almoth berdiri bergoyang dan berkerosak saat Almoth hendak pergi dari sana. Almoth terdiam, menatap semak-semak itu. Jangan-jangan ada dombanya yang tersangkut disemak-semak itu. Hal seperti itu pernah terjadi pada salah satu domba Almoth, sudah lama berselang. Saat itu salah satu dombanya tidak ada dalam kawanan dan ternyata dombanya tersangkut dengan bulu-bulu kusut disemak-semak. Tapi saat ini musim panas dan dombanya baru saja dicukur.
Almoth menelan ludahnya. Kegelapan menyuruhnya untuk segera pergi, tapi rasa penasaran menahannya. Mungkin saja dombanya benar-benar ada dibalik semak-semak itu. Almoth maju perlahan mendekati semak-semak.
"Tutu...tutu...," panggilnya.
Almoth sudah semakin dekat kesemak-semak ketika seorang pria yang berperawakan tinggi keluar dari balik sebuah pohon dan berjalan kearahnya. Almoth membeku. Dari pengelihatannya jelas-jelas itu seseorang, mungkin dia salah satu dari penjaga hutan kerajaan yang berpatroli. Almoth dengan cepat melirik orang itu dari kepala sampai kakinya sebelum orang itu benar-benar dekat dengannya. Dia melihat mata orang itu menyala berwarna merah dan jari-jarinya mempunyai kuku yang hitam meruncing. Almoth gemetar ketakutan.
"Hai..." Orang bermata merah itu menyeringai, taringnya menyembul dari mulut.
Oh, astaga! Dia punya taring!!
"Mo...mo...mon..." Almoth tergagap-gagap sulit bergerak ditempatnya. Dia yakin seseorang didepannya ini bukan 'orang'.
"Monster...!!!!" Akhirnya Almoth bisa berteriak, ia berbalik dan lari tungang langgang menuju keluar hutan. Pria bermata merah itu berusaha mengejarnya tapi Almoth sudah bergerak begitu cepat, sebentar saja dia sudah mencapai tepi hutan. Pria bermata merah itu berhenti mengejarnya. Dia melihat Almoth yang berteriak-teriak histeris berlari menuruni lembah, tersandung, berguling, namun dengan cepat bangkit dan berlari ke arah pemukiman.
Pria bermata merah mendengus kecewa. Segumpal asap putih melayang mendekatinya. Gumpalan asap ini samar-samar memiliki bentuk seperti seekor kelinci, matanya yang bersinar biru ikut mengawasi manusia yang sedang terbirit-birit itu.
"Gagal, Katz," kata si kelinci.
"Lotus bilang aku harus tersenyum. Tadi aku sudah tersenyum tapi dia malah lari," jawab Katz sambil menjilat taringnya.
"Ck..." si kelinci mendecak tidak sabar.
"Kita coba lagi lain kali. Mungkin Lotus bisa mencoba yang berikutnya. Ayo kita pergi! Sebelum ada penjaga hutan yang melihat kita."
Mereka berdua lalu masuk ke dalam hutan.
***
Almoth dengan panik memasuki sebuah kedai makan yang letaknya paling dekat dengan lembah bagian barat.
"Monster! Monster!" Katanya berulang kali.
Orang-orang yang ada dikedai dengan segera mengerumuni Almoth untuk mengetahui kenapa dia berteriak-teriak seperti orang gila. Seseorang memberi Almoth minum dan menepuk-nepuk punggungnya. Orang-orang menunggu sampai Almoth nampak terkendali sebelum memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan. "Ada apa? Ada apa?"
"Ya ampun, aku bertemu dengan monster dihutan!"
"Kenapa kau pergi kehutan? Bukankah kita semua sudah dilarang masuk ke hutan?" Tanya seseorang.
"Seperti apa monsternya?" Tanya yang lain.
Lalu Almoth menceritakan semuanya. Tentang dombanya dan kemudian tentang seorang pria yang bermata merah.
"Nyaris saja aku ditangkapnya. Cakarnya sangat mengerikan, dia kelihatannya ingin sekali memakanku... aduh, aku masih terbayang-bayang taringnya. Beruntung aku bisa lari padahal dia berusaha mencabikku dengan cakarnya, untungnya aku pintar mengelak, kalau tidak kalian akan menemukan aku tinggal sepotong jari saja dihutan besok," cerita Almoth disela-selanya menggosok keringat dari dahinya.
"Itu jika kau beruntung, Al. Bukankah Greon Dragor menghilang tanpa meninggalkan apa-apa waktu itu," kata salah seorang pria. "Kau bahkan tidak masuk terlalu jauh kedalam hutan dan hari belum terlalu malam. Kurasa tidak akan lama lagi sampai monster-monster itu secara terang terangan masuk sampai pemukiman."
"Tidak," kata Almoth. "Aku benar-benar beruntung sekarang masih bernafas." Almoth bangkit berdiri, "Harus pulang, nanti istriku mengira aku benar-benar dimakan monster."
Almoth terhuyung meninggalkan kedai, beberapa orang masih mengekor padanya, mereka masih ingin mengetahui lebih banyak mengenai monsternya. Sebentar lagi rumah Almothpun akan penuh dengan orang-orang yang ingin mendengar soal monster itu.
Sepasang remaja berusia 16 tahun mengamati kejadian itu dari meja yang agak jauh dari tempat Almoth dikerumuni banyak orang di kedai. Mereka tidak mendekat. Almoth begitu heboh saat bercerita, bahkan dari meja tempat mereka duduk, mereka bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan Almoth.
"Kau dengar itu, Moren?" tanya si gadis pada yang laki-laki.
"Ya," jawab Moren.
"Kita harus pulang dan memberitahu Ayah."
"Kau benar, Reen. Tunggu, aku habiskan minumanku dulu!" Moren menegak minuman di cangkirnya sampai habis, sedangkan adiknya, Hyereen, sudah berdiri bersiap pergi.
Moren dan Hyereen adalah sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan. Mereka adalah anak dari sang penguasa lembah Galgalore, Raja Aberthoren. Dalam berbagai kesempatan kedua anak itu memang senang meninggalkan istana dan bepergian ke pelosok negeri untuk sekedar berjalan-jalan. Galgalore bukan kerajaan besar, sudah umum dan biasa orang-orang dari kerajaan berbaur dengan rakyatnya. Paling-paling jika rakyat menyadari adanya orang penting didekat mereka, mereka hanya perlu membungkuk sedikit untuk memberi hormat dan itu sudah cukup. Kalau mereka tidak menyadari hadirnya orang-orang itu pun tidak masalah jika mereka bersikap biasa saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasíaMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
