47. Blacktoe

15 2 0
                                        


Hyereen menatap sedih saat Katz berjalan dengan berpegangan pada lengan Sapphire, tapi ia tidak membahas itu seolah-olah ia tidak melihat apa-apa.

"Kalau kau merasa memburuk, kau harus beritahu seseorang, Katz." Sapphire mendudukan Katz di salah satu kursi.

"Iya..."

Hyereen menyuruh anak kandang mengembalikan Bronton ke kandang.
"Jangan beri dia makan sampai besok!" pesannya pada perawat kuda. "Dasar kuda bodoh!" umpatnya.

Sapphire kembali melanjutkan latihannya karena Ashy berlari menyusulnya dan anak kandangnya sama sekali tidak bisa lagi mengendalikan kuda itu.

"Aku minta maaf," kata Hyereen pada Katz.

"Kuda itu yang menjatuhkanku kenapa kau yang minta maaf?"

"Karena aku yang memilihkannya untukmu."

"Kalau aku memilih sendiri mungkin kejadiannya akan lebih buruk." Katz mencoba mengurangi rasa bersalah gadis itu. Hyereen meremas-remas jemarinya lalu tahu-tahu dia mengusap air mata di pipinya.

"Ya ampun, jangan menangis!" Katz menggenggam jemari Hyereen dan meremasnya lembut. "Aku tidak apa-apa. Sungguh."

Para perawat kuda untung mengerti sedikit tentang obat-obatan untuk mengatasi cidera yang sering terjadi akibat berkuda. Mereka meremas daun rumput tertentu yang tumbuh di sekitar kandang dan karena tidak ada dari mereka yang berani mengoleskannya pada punggung Katz, maka Hyereenlah yang melakukannya. Katz duduk dengan sangat kaku sampai Hyereen selesai dengan daun-daun itu. Mereka berdua tetap duduk di pondok setelahnya, memperhatikan Sapphire mengelilingi lapangan dengan kudanya. Sapphire sudah mahir membuat Ashy berlari-lari kecil di bawah perintahnya.

Sebenarnya tubuh Incanio tidak lemah karena mereka tinggal di gunung-gunung dan setiap hari melakukan pekerjaan yang tidak remeh, sehingga tubuh mereka terlatih. Jatuh dari kuda bukan apa-apa untuk mereka. Memang awalnya terasa sangat sakit, tapi tak lama kemudian sakitnya berangsur menghilang, kemudian Katz sudah bisa bergerak sendiri dengan baik.

"Kau lihat, kan?" katanya pada Hyereen. "Aku sudah tidak apa-apa."
Katz berjalan mondar-mandir dengan tegap, memperlihatkan dirinya sudah sepenuhnya pulih pada Hyereen.
"Yang seperti itu bukan apa-apa untukku." Ia menyeringai pada Hyereen.

Hyereen nampak lega. "Kalau begitu, aku akan mencarikan kuda lain untukmu setelah ini."

Katz mengerutkan alis padanya.
"Kau masih kepingin aku naik kuda?"

"Kau bilang kau sudah tidak apa-apa. Menurutku memang masih lebih baik kau pulang dengan berkuda dari pada berjalan."

"Kau ini benar-benar keras kepala."

"Ya, banyak yang bilang begitu." Hyereen tidak nampak tersinggung. Dia sudah sering mendengar itu dari orang-orang, tapi lebih sering lagi orang-orang mengatakan itu pada Moren. Mereka berdua terkenal kepala batu. Meskipun mereka kembar, mereka hanya mirip sebatas saudara, tidak ada yang menduga mereka kembar jika pertama kali berjumpa. Tapi tidak ada yang meragukan mereka kembar jika mereka sudah tahu keduanya sama-sama keras kepala.

"Lagipula kau harus mengimbangi Sapphire, kurasa, kalau kalian akan berjalan bersama," lanjut Hyereen.

Mereka berhenti untuk makan siang di pondok bersama seluruh pegawai istal. Hyereen tampak santai diantara mereka dan pegawai-pegawai itu juga tidak terlihat sungkan padanya. Sudah sering sebelum ini, Tuan Putri dan saudaranya makan bersama mereka. Katz memperhatikan Hyereen dan berpikir, 'dia memang keras kepala, tapi tidak manja dan rendah hati'.

Sapphire berdeham-deham disebelahnya. "Kemana matamu, Katz...?" bisiknya dramatis.
Katz merengut padanya.

Hyereen meninggalkan Katz dan Sapphire setelah makan siang. Ia muncul kembali setelah agak lama, menuntun seekor kuda coklat gelap nyaris hitam di sampingnya.

"Ini kudamu, Katz!" serunya.

"Kau benar-benar berniat membuatku celaka, ya?" Meskipun begitu Katz berjalan mendekati Hyereen dan kuda itu.

"Namanya Blacktoe, aku yakin dia akan bersikap sopan padamu. Berkenalanlah!" Hyereen menarik tangan Katz agar Incanio itu mengelus hidung Blacktoe. Kuda itu mendengus tapi tidak melengos.

"Bagus," celetuk Hyereen.

Seorang anak kandang yang berdiri di sebelah mereka memandang ke arah tuan putrinya dan mencoba mengatakan sesuatu, "Tuan putri, bukankah..."
Hyereen meliriknya dan menggeleng samar. Anak kandang itu tidak jadi mengatakan apa-apa.

"Kau bisa melanjutkan latihanmu." Hyereen menyerahkan tali kekang pada Katz.

Katz menerimanya dengan ragu-ragu.

"Apa lagi?" tanya Hyereen.
Katz menunduk dan berbisik padanya, "Bisa tidak kau memilih orang yang tidak takut padaku sebagai pelatih?"

Hyereen melihat sekeliling. Anak-anak kandang itu semua merepet di tempat masing-masing, mereka was-was akan ditunjuk mendampingi tamu besar itu. Hyereen menggeleng dan tertawa, "Tidak apa-apa, Katz. Aku sendiri yang akan mendampingimu."

Blacktoe sangat berbeda dari Bronton. Kuda itu tenang dan mendengarkan dengan baik. Sebenarnya dia kuda yang jauh lebih terlatih daripada Bronton dan dia adalah kuda yang suka jika ada yang melihatnya dengan kagum dan segan. Dengan Katz di punggungnya, semua orang menatap ke arahnya dengan takjub. Blacktoe menikmatinya, dia langsung menyukai penunggang barunya. Sebentar kemudian Katz sudah menguasainya dengan baik.

"Bagus! Bagus sekali!" Hyereen berseru pada Katz dan Sapphire setelah kuda-kuda mereka dikembalikan ke kandang. Hari sudah sore saat itu.
"Kalian perlu berlatih kembali besok, agar kuda-kuda itu semakin terbiasa dengan kalian. Dengan begitu kalian bisa membawa mereka menuju Wind Crasher. Kapan kalian akan pergi?"
Mendadak Hyereen merasa lesu mendengar pertanyaannya sendiri, rasanya aneh mengingat pada akhirnya mereka akan berpisah.

"Lusa, aku perkirakan," jawab Sapphire.
"Dua kali pertemuan dengan orang-orang istana, malam ini dan besok_ kurasa sudah cukup untuk membahas semua urusan."
Sapphire berbicara sambil tersenyum pada anak-anak kandang. Mereka membalas senyum Sapphire.

"Senang ya tidak punya taring," sindir Katz.

Sapphire tertawa mendengarnya.
"Mungkin masalahnya di cakar," candanya.

Hyereen menyela, "Tidak ada yang salah dengan taring dan cakarmu, Katz. Mereka hanya bodoh, menilai orang dari penampilan."

"Yah..." Katz mengurungkan niat menjawab Hyereen. Menurutnya Hyereen sebenarnya juga menilai orang dari penampilan. Kalau tidak begitu bagaimana mungkin gadis itu menyukainya sejak pertama bertemu dan bukannya setelah lama saling kenal. Lagipula, dia sendiri yang mengatakan 'senyumnya manis', apa itu namanya kalau bukan menilai seseorang dari penampilan? Hanya saja sulit dipercaya, mengingat bagaimana reaksi umum orang Galgalore padanya, bagaimana bisa gadis itu menganggapnya menarik?

Katz menjadi penasaran pada Hyereen. Beberapa kali Sapphire melihat pandangan Katz diam-diam terarah pada Hyereen. Incanio itu mencoba memuaskan rasa penasarannya pada gadis manusia itu, melihatnya tersenyum, merengut, tertawa, bicara atau hanya sekedar berkedip. Tapi tidak ada jawaban disana, semua itu justru membuatnya semakin penasaran. Kadang-kadang pandangan mereka bertemu, karena Hyereen juga diam-diam memandangi Katz. Mereka akan saling menatap, Hyereen akan tersenyum pada Katz sedangkan Katz akan berpaling cepat-cepat_ sibuk menenangkan perasaannya sendiri yang jadi aneh setelah itu.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang