15. Rencana

12 3 0
                                        

Setelah berada di dalam gua, Moren menjadi terdiam. Dia datang dan berharap dapat menyelamatkan saudarinya, tapi setelah sampai begitu dekat dengan Sarang, dia tidak bisa memikirkan lagi selanjutnya apa yang harus dilakukannya.

Lylo kini sudah menanggalkan jubah rohnya dan mulai berbicara pada semua.
"Aku rasa bodoh sekali kita jika tiba-tiba masuk ke sana tanpa tahu apa-apa. Sebaiknya malam ini aku menyelinap dan mencari tahu posisi adik Moren. Satu roh menyelinap diantara begitu banyak roh, kurasa itu tidak masalah, seperti yang sudah pernah aku lakukan. Setelah ini baru kita pikirkan bagaimana selanjutnya."

"Sepertinya tidak ada yang bisa lebih baik lagi dari itu. Hati-hati, Lyl, jika kau sudah pernah melakukannya dan berhasil, bukan berarti hasil yang sama akan terjadi jika kau melakukannya lagi," kata Katz.

Lylo seperti mengangguk, "Ya, aku akan melakukannya dengan sangat berhati-hati. Mari berharap aku akan benar-benar melihat Hyereen, itu yang terpenting saat ini."

"Jadi kita hanya akan menunggu saat kau menyelinap?" tanya Moren.

"Benar, Moren. Bersabarlah. Jika kita terburu-buru, kita hanya akan bergerak seperti orang buta, berbahaya sekali."

"Apa kau tidak apa-apa menyelinap seorang diri?" Moren sungguh merasa tidak enak, ini seperti membiarkan Lylo mengambil resiko bahaya demi dirinya.

Lylo tertawa, "Masuk kesana diantara bangsaku sendiri. Sendiri lebih baik dari pada membawa teman. Mereka tidak akan terlalu memperdulikan aku. Kau tidak perlu menjadi tidak enak hati karena ini.

"Aku berjanji pada kalian untuk kembali kesini, tapi bukan aku saja yang menjadi penentu apakah janji itu bisa kupenuhi. Kita beruntung kita sudah sampai disini tanpa terjadi sesuatu yang buruk, mari meletakkan harapan pada keberuntungan sekali lagi!"
Lylo mengatakan semua itu seperti tanpa beban, namun seperti itulah para roh; mereka selalu berpikir positif.

Ini bukan pertama kalinya Lylo menyelinap ke Sarang. Dia sudah pernah beberapa kali kesana diawal kekuatan musuh itu baru saja dibangun. Mereka memang tidak terlalu mempedulikan roh-roh yang berkeliaran di Sarang. Penyelinapan Roh Murni ini yang memberi informasi tentang rencana para roh gelap untuk menguasai manusia pada para peri dan Incanio, sehingga mereka dengan cepat membentuk pertahanan di Khelam.

Mereka menyaksikan Lylo melayang keluar gua saat malam sudah benar-benar turun. Katz membimbing Moren untuk sekali lagi mendaki batu-batu karang dan mengamat-amati keadaan Sarang diwaktu malam hari.

Malam tidak membuat Sarang lebih mudah diamati. Kegelapan menyelimuti area itu, tapi dibeberapa titik terlihat mereka menyalakan cahaya demi tubuh-tubuh inang mereka yang merupakan makhluk siang. Moren melihat puncak menara yang hitam gelap memiliki cahaya temaram didalamnya. Kegelapan memang membutakan, tapi itu membuat pendengaran menjadi lebih awas. Dia mendengar lebih banyak erangan, auman dan gonggongan di malam itu dan suara-suara lain yang asing baginya.

'Sarang bukan tempat yang menyenangkan', begitu kata Katz dan Bris sebelumnya, Moren setuju. Memangnya siapa yang tidak akan berpendapat seperti itu tentang rumah musuhnya? Tapi melihat sendiri Sarang benar-benar membuat Moren merasakan ancaman dari dalam tempat itu. Sesuatu yang gelap dan ganas seperti sengaja ditumbuhkan disana. Kengeriannya bahkan tercium hingga jauh. Moren gemetar menyadari semua itu dipersiapkan untuk menghadapi manusia. Getaran itu bukan karena Moren merasa ketakutan, tapi itu adalah perasaan marah dan sebuah dorongan yang kuat dari dalam dirinya untuk tidak akan membiarkan para roh mendapatkan apa yang selama ini mereka inginkan.

Moren dan Katz tidak banyak bicara setelah kembali ke gua. Katz berhasil mendapat sepelukan semak beri selama mereka diluar, kini Cherry menikmatinya sambil berbaring. Katz menyisir rambut bulu-bulu Cherry dengan jarinya, sekali dua kali dia masih menemukan biji rumput yang tersangkut kemudian mencabutnya.

Moren duduk melamun ditepi gua, memandang keluar dalam kegelapan, berharap dia akan segera melihat Lylo sedang melayang kembali. Mendadak dia jadi banyak pikiran setelah selama beberapa hari ini yang dipikirkan hanya Hyereen, sekarang dia memikirkan seluruh Galgalore dan rakyatnya. Moren tidak menyadari Lotus mendekat dan duduk disebelahnya.

"Semua baik-baik saja, Moren?" tanya Lotus yang melihatnya hanya berdiam diri saja sejak kembali bersama Katz.

"Oh ya," kata Moren tersadar dari lamunannya.

"Sepertinya kau memikirkan sesuatu. Aku sendiri tidak akan bersikap tenang dalam posisimu. Paling tidak, berbesar hatilah karena ada kami bersamamu."

Moren tersenyum pada Lotus. "Terimakasih banyak, tanpa kalian aku tidak akan sampai disini."

Lotus lalu menemani Moren berdiam disana. Angin beberapa kali bertiup dan menerbangkan ujung-ujung rambutnya menjauh. Rambut itu berkilau dan menari-nari dijemari Moren. Sesaat perhatian Moren teralihkan, ia menangkap helaian cantik itu dan memainkannya sejenak. Rambut Lotus terasa lembut dan seberapa kuat angin mengacaknya, mereka tidak akan kusut. Rambut-rambut itu selalu jatuh kembali dengan sempurna dan elok.

"Lotus," panggil Moren.

"Ya," Lotus berpaling dan mendapati Moren sedang menggenggam rambutnya.

"Rambutmu... sangat cantik." Moren melepas rambut Lotus, mereka kembali berkilau di punggung pemiliknya.

Lotus tertawa, "Terimakasih," katanya.

Moren kembali menatap keluar. Seandainya saja saat itu siang hari, ia akan melihat pipi Lotus merona sewarna rambutnya karena pujian yang didengarnya.

The Galgalore's TrapCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang