Pemuda itu membuka matanya perlahan dan yang ditatapnya pertama adalah langit-langit ruangan tempatnya berbaring. Dia tetap telentang, mencoba mengingat kira-kira dimana ia berada saat itu.
Ini di kamarnya.
Dia menoleh dan mendapati seorang perempuan tidur menelungkup di tepi ranjangnya.
"Reen..." panggilnya.
Hyereen serta merta bangun tersentak saat mendengar ada yang memanggilnya.
"Moren?" Dilihatnya saudaranya yang sudah terpejam matanya selama seminggu itu tengah berkedip padanya.
"Moren! Moren!" teriak Hyereen setelah menyadari saudaranya sudah sadar. Hyereen menubruk tubuh saudaranya itu dan memeluknya erat.
Semua orang yang diperintahkan siaga di depan kamar menerobos masuk karena mendengar ada teriakan. Mereka mengira sesuatu yang buruk akhirnya terjadi, tapi mereka melihat Tuan Putri sedang memeluk erat kakaknya, sedangkan pangeran itu dengan lemah menepuk-nepuk punggung adiknya, "Uh, aku tidak bisa bernafas, Reen..."
Hyereen melepas pelukannya. "Maaf, Moren aku..., aku senang kau akhirnya bangun," tangisnya pecah.
Penyembuh istana menyela diantara mereka. "Ijinkan saya memeriksanya, Tuan Putri."
"Silahkan," Hyereen mundur sambil menyeka matanya. "Aku akan memberi tahu ayah dan ibu." Kemudian ia pergi keluar.
Hyereen berlari menuju kamar ayahnya. Bahkan sebelum sampai di depan pintunya, ia sudah berteriak-teriak memanggil ayahnya. Seluruh istana bangun karena teriakan itu, sebab saat itu tengah malam.
Para penyembuh dan perawat mengecek kondisi Moren. Mengurus keperluan ini dan itu untuknya setelah lama ia berbaring, memastikan tidak akan ada masalah kemudian. Raja dan ratu tiba di ruangan itu tak lama kemudian bersama Hyereen. Mereka semua menangis bersama karena gembira. Semua mengira Moren akhirnya akan pergi, setiap hari mereka mempersiapkan hati kalau sewaktu-waktu semua itu terjadi. Tapi kini mereka mendapatkan putra mereka kembali. Itu sebuah keajaiban.
Mereka mengobrol menanyakan hal-hal sepele, membahas hal-hal remeh_ semua itu terasa begitu penting setelah beberapa hari yang mereka rasakan hanya kemuraman. Sampai kemudian penyembuh itu menyela mereka.
"Maaf, tapi saya harus mengingatkan bahwa kondisi pangeran belum pulih benar. Alangkah baiknya jika dia dibiarkan istirahat banyak-banyak sementara ini dan bukankah besok matahari masih akan terbit, Yang Mulia." Maksudnya mengingatkan bahwa besok masih akan banyak waktu untuk mereka semua.
"Demi Tuhan, kau mengusirku?" kata Aberthoren tidak percaya.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Demi kebaikan pangeran," penyembuh itu bersikeras.
"Dia anakku sendiri, masa kau mengatur-atur."
"Yang Mulia..." penyembuh itu kehilangan kata-kata.
"Sudah sudah," Ratu menengahi. "Sebaiknya kita keluar sekarang, Thoren. Biarkan Moren beristirahat."
"Bagaimana kalau aku tidur di sini, di kursi?" Aberthoren menunjuk kursi panjang di sana.
"Thoren..." istrinya sudah berdiri, merapikan gaun dan menunggu di dekat pintu.
Aberthoren merasa kalah. "Baiklah. Nah Nak, seperti yang ia katakan, kau masih harus banyak tidur. Aku akan kembali ke tempatku." Aberthoren menepuk-nepuk pundak anaknya lalu melangkah menyusul istrinya. Di pintu disempatkannya mendelik pada si penyembuh. Pria tua itu mengangguk hormat meskipun dalam hati ia geli sendiri melihat rajanya bersikap kekanakan.
"Kau di sini saja," Moren menahan tangan Hyereen.
"Tentu saja, tidak ada yang bisa membuatku keluar dari sini."
Penyembuh itu membiarkan Hyereen tetap disana, seperti sebelumnya. Kemudian pria tua itu beserta seluruh perawat dan asistennya undur diri dari sana, kembali ke tempat mereka sendiri.
"Apa kau ingin tidur lagi, Moren?" tanya Hyereen. Sekarang ia naik ke tempat tidur untuk berbaring disebelah Moren. Sudah lama sejak terakhir kali mereka tidur bersama, mungkin sejak usia mereka 5 tahun.
"Kau bilang aku sudah tidur selama seminggu." Moren tertawa pelan. Seminggu? Sulit dipercaya.
"Aku tidak mengantuk. Bagaimana kalau kita mengobrol?"
"Tentu saja, aku senang mendengar suaramu lagi."
Moren melihat sebuah benda kecil berkilau diatas meja di samping tempat tidur. Dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Hyereen cepat-cepat bergerak menjulurkan badannya melalui tubuh Moren dan mengambilkan benda itu untuk saudaranya. Benda kecil panjang seukuran telunjuk, terbuat dari logam dengan hiasan permata merah. Peluit Pterogorn milik Lotus.
"Dia meninggalkannya sebelum para peri kembali ke Menara," kata Hyereen.
"Padahal aku sudah berjanji mengajaknya jalan-jalan begitu perangnya selesai."
Hyereen menghela nafas panjang.
"Dia sangat mencemaskanmu. Waktu itu ayah yang menjemputnya sendiri ke perkemahan para peri dan membawanya kemari karena kau menginggau menyebut-nyebut namanya."
"Benarkah?"
"Ya. Dia masuk ke sini, memegang tanganmu lalu langsung menangis. Dia yang paling banyak menjagamu, Moren, karena ayah harus melakukan banyak hal setelah perang selesai, begitu juga aku dan ibu, banyak yang harus kami lakukan. Selama beberapa hari dia yang terus berada di sini, biasanya dia duduk disitu," Hyereen menunjuk tepi ranjang. "Aku sering mendapatinya memegang tanganmu sambil menangis."
Moren memainkan peluit Lotus di tangannya. Sungguh tidak enak membayangkan Lotus menangis dan itu semua karenanya.
"Bahkan," Hyereen melanjutkan, "dia melewatkan perayaan kemenangan yang digelar ayah sehari setelah perangnya usai. Itu juga merupakan pesta yang sulit untukku, aku harus pura-pura tidak terjadi apa-apa dan terlihat gembira di depan semuanya." Hyereen muram mengenang kembali saat itu.
"Maafkan aku, Reen..."
"Bukan salahmu, jangan minta maaf. Hanya saja waktu itu semua orang berbisik-bisik ketika membicarakanmu. Aku selalu mendengar kata mati atau meninggal jika tidak sengaja menguping. Aku sendiri berharap kau akhirnya akan kembali, tapi mendengar orang-orang membicarakanmu seperti itu sungguh membuatku kecil hati," mata Hyereen basah.
"Tapi sekarang aku lega karena kini kita sedang bicara bersama." Dibelainya lengan Moren dengan sayang.
"Kau bilang Lotus melewatkan perayaannya?"
"Ya, dia memilih berada disini daripada bersenang-senang sebentar dengan yang lain. Dua hari setelah pestanya, para peri harus kembali ke Menara. Mereka tidak bisa lama-lama berada jauh dari Menara selama tidak ada serbuk peri. Lotus masih ingin di sini, tapi ia terikat aturan-aturan peri. Dia pergi dengan sangat sedih. Sebelum itu ia meninggalkan peluit ini di sini, ia yakin suatu hari kau akan bangun."
Perasaan Moren sungguh sangat gelisah karenanya.
"Bagaimana dengan para Incanio?" tanyanya. Yang terakhir diingatnya adalah Katz dan tubuh ayahnya.
"Mereka juga kembali ke Wind Crasher setelah 3 hari. Katz ingin tinggal, tapi ia harus menguburkan ayahnya. Katanya dia akan segera kemari setelah urusannya selesai." Hyereen berseri saat ia mengatakan hal itu, dia taksabar menunggu hari itu tiba. "Dia pasti terkejut melihatmu."
Hyereen masih menceritakan beberapa hal setelah itu. Ia berhenti bercerita ketika menyadari Moren sudah tertidur. Hyereen menarik selimut Moren, memastikannya hangat sampai ke leher kemudian ia sendiri membaringkan tubuhnya. "Selamat tidur, Moren," bisiknya lalu terlelap. Tidur paling nyenyak baginya setelah berhari-hari penuh kegelisahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Galgalore's Trap
FantasíaMoren dan Hyereen menyelinap meninggalkan tempat tinggalnya untuk melihat teror yang menghantui lembah mereka dari hutan-hutan perbatasan. Mereka tidak menduga bahwa jalan yang mereka lalui ketika berangkat tidak akan membimbing mereka untuk kembali...
