Brakk!
Bella sudah tidak sanggup lagi mendengar ucapan dari ibunya Kevin, tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya hingga ponsel itu membentur lantai dengan keras.
"Kenapa kak?! Ada apa??" Tanya Reno dengan panik kepada kakaknya itu, orang-orang yang se...
Bella langsung merasakan matanya memanas, lalu perlahan airmata jatuh di pipinya. Sekuat tenaga Bella menahan suara isak tangisnya agar tidak terdengar keluar dari mulutnya.
Betapa ia membenci suara itu, sungguh.
Namun bodohnya ia juga merindukan suara itu, sangat merindukannya.
"Aku tau kamu disana, kamu lagi dengerin aku kan?" Tanya Kevin dengan suara yang terdengar penuh harap
"I hate you Kevin." Ucap Bella, ia mengepalkan tangannya dengan kuat. Rasanya menyakitkan dan begitu sesak, semua emosi seolah berkumpul di dadanya. Begitu banyak yang ingin ia lontarkan ke pria itu, namun lidahnya terasa kelu.
Perlahan terdengar suara isakan tangis tertahan dari balik telepon.
Tangis?
Pria itu menangis?
Bella tertegun mendengar suara isakan itu.
"I'm sorry Bell, really.. Maafin aku karena udah nyakitin kamu, maafin aku karena udah jadi manusia paling pengecut, aku ngga seharusnya ninggalin kamu waktu itu." Ucap Kevin dengan terbata-bata, suaranya terdengar pilu.
"Jangan pernah hubungin aku lagi." Ucap Bella singkat dengan segenap sisa kekuatan yang dimiliki, kemudian ia langsung memutuskan panggilan itu.
Bella merasakan kakinya yang mendadak lemas, gadis itu terduduk di sudut tempat tidurnya, ia sama sekali tidak menyangka Kevin akan menghubunginya.
Bella menghapus airmatanya di pipi, meskipun tau tindakan itu sia-sia karena airmata kembali membasahi wajahnya itu. Hatinya terasa semakin sakit, seolah ada yang menumpahkan alkohol di lukanya. Waktu menunjukkan pukul tiga lewat lima belas menit sekarang, dan Bella tau malam itu ia tidak akan bisa tidur terlelap lagi
***
*Beberapa hari kemudian*
"Wah, ini hari terakhir kita kerja di kantor Bell." Ucap Roy sambil tersenyum lebar. Dihadapannya ada Bella yang sedang mengemasi barang-barang pribadi yang terletak di atas meja.
"Iya pak, ga kerasa udah 4 tahun saya kerja di sini." Respon Bella sambil memperhatikan sekeliling lingkungan kerjanya, cepat atau lambat ia akan segera merindukan kantornya ini.
"Bell, are you sure about this? Saya liat kamu udah baikan, apakah tidak sebaiknya kamu tetap bekerja saja di sini?" Tanya Roy sambil menatap wajah Bella.
Bella kembali tersenyum, memgetahui bahwa 'sandiwara' yang ia perankan berjalan teramat sangat baik
"Bapak jangan khawatir, saya tetap yakin dengan keputusan saya pak." Jawab Bella. Dirinya ingin segera pergi sejauh mungkin, terlalu banyak kenangan indah yang ia lalui bersama Kevin di kota ini, dan kenangan itu menyakitinya, belum lagi dengan respon orang-orang jika melihatnya, mereka selalu menyangkut pautkan dirinya dengan Kevin.
"Baiklah kalau begitu Bell, saya dukung keputusan kamu." Kata pria paruh baya itu lagi, yang langsung dibalas dengan ucapan terima kasih dari Bella.
Bella kemudian meletakkan item terakhir yang berada di atas mejanya berupa wadah pulpen dan beberapa notes kedalam dus berukuran medium yang ia siapkan untuk memuat barang pribadinya, dan kini meja kerjanya telah sepenuhnya kosong melompong.
"Kamu udah tanda tangan berita acara serah terima pekerjaan kan ke Evelyn, pengganti kamu?" Tanya Roy kepada Bella
"Oke, jangan lupa tiga puluh menit lagi kita keluar ya Bell bareng anak-anak lain, kita makan bareng diluar, sekalian farewell." Kata Roy mengingatkan
"Baik pak Roy." Ucap Bella sambil mengangguk kembali.
Roy akhirnya kembali ke ruangannya setelah pria itu teringat ada beberapa dokumen yang ia masih belum simpan, meninggalkan Bella yang baru saja selesai mengemasi barang.
Bella menatap jendela besar kantornya untuk terakhir kalinya, langit senja yang terlihat begitu indah berhasil menarik perhatiannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
'Help me.. help me to move on.' Ucap Bella dalam hati, sambil menatap langit berwarna jingga itu.
***
Kevin menyesap tehnya perlahan, seharusnya teh itu terasa manis, namun lidahnya tetap terasa pahit.
"Pranggg!"
Pria itu melemparkan cangkir tehnya itu dengan keras hingga hancur beribu keping, nampak jelas wajahnya yang terlihat frustasi
Pria itu kemudian mengambil ponselnya, membuka galeri lalu menatap sebuah foto.
Foto itu adalah foto terakhir yang ia ambil ketika masih bersama dengan Bella, dimana di dalam foto itu nampak ia tengah mencubit pipi Bella.
Kevin menatap wajah Bella dengan matanya yang sayu.
'And now you feel the regret, huh? what a f*cking bastard'
Kevin memegang dadanya yang terasa sesak, dia seharusnya bahagia bahwa hubungannya bersama Bella telah berakhir, dia seharusnya bahagia karena dia tidak harus lagi berpura-pura mencintai wanita itu.
Namun mengapa ia merasa sesedih ini?
Mengapa rasanya begitu hampa?
Mengapa ini terasa begitu salah?
Dan ia tau pasti jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.
Karena ia akhirnya mencintai Bella, mencintai untuk yang sesungguhnya, untuk yang pertama kalinya.
Ia mencintai Bella, dan ia terlambat untuk menyadari perasaannya.