Stella langsung mengerang kesakitan ketika merasakan sebutir timah panas bersarang di lengannya, tangannya bergetar hebat sementara pisau dapur yang ia pegang langsung terjatuh ke lantai, ia seketika kehilangan kendali atas lengannya yang baru saja tertembak.
Wanita itu di sela-sela upaya menahan rasa sakitnya menoleh ke arah belakang dan mendapati sosok David berdiri sembari menyorongkan pistol ke arah kepalanya. Nampak jendela di belakang David terbuka lebar, angin kencang berhembus masuk menerpa tirai-tirai jendela, sepertinya pria itu bisa masuk ke kamar melewati jendela kamar itu.
"Aku sebenarnya berniat ingin langsung menembak kepalamu dan membiarkan isi otakmu keluar Stella, tapi itu akan menjadi terlalu mudah bagimu, kamu tidak akan sempat merasakan rasa sakit itu lagi." ucap pria itu dengan tatapan keji.
"N-no Dave.. please don't do this, kamu sendiri yang bilang kepadaku bahwa kamu menyukaiku kan, Dave? Kamu bahkan masih ingat saat kita pertama kali bertemu.." balas Stella dengan terbata-bata.
"Aku hanya ingin mengelabuimu saja, aku terpaksa mengatakan hal yang menjijikkan itu untuk mengalihkan perhatianmu san membuatmu melupakan keberadaan Noah dan Bella di kamar ini, sehingga mereka bisa membebaskan diri dengan lebih aman."
Stella dengan wajah panik langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh seperti ini kepadaku Dave, aku mencintaimu setengah mati! aku tidak pernah sedikitpun melupakanmu..aku bersungguh-sungguh.."
"Kamu pikir aku peduli dengan perasaanmu itu?" Potong David dengan cepat
Stella tertegun mendengar pertanyaan David, nampak jelas wajahnya yang terluka mendengar pertanyaan itu.
"Aku sama sekali tidak peduli dengan perasaanmu itu Stella, aku bahkan sangat muak mendengar ocehanmu itu, cinta? Hah! What a f*cking bullsh*t! Berhenti mengatasnamakan cinta untuk semua tindakan-tindakan kotor yang sudah pernah kamu lakukan kepada keluargaku!!" ucap David dengan wajah berang.
Setetes airmata jatuh membasahi pipi Stella, hatinya benar-benar hancur saat ini.
"Just kill me, then."
Ucap Stella setengah berbisik sembari menyunggingkan senyumnya.
David mengeratkan pegangannya pada pistolnya, masih ada sisa 1 peluru lagi di dalam pistol miliknya itu.
"Tidak ada gunanya aku hidup, perasaanku selamanya tidak akan pernah terbalaskan, jadi mari kita akhiri segalanya disini Dave, saat ini juga. Aku telah membunuh Shierra, jadi kamu bisa membunuhku sebagai balasannya, bukankah itu adil?" ucap Stella itu lagi
"Oh yeah..I'll kill you for sure Stella, tapi sebelum itu.. ada yang perlu aku sampaikan kepadamu."
Stella mengernyitkan keningnya.
"Apa itu?" Tanya Stella.
David tersenyum pahit sembari menelan ludahnya.
"Saat itu.. saat Shierra ingin menghampirimu, tepat sebelum.. kamu menabraknya, Shierra tengah hamil anak kami yang ke 2, usia kandungannya baru beberapa minggu saat itu..dan dengan teganya kamu telah menghilangkan nyawanya.." suara David terdengar bergetar saar mengatakan hal itu.
Stella tertegun, 'Shierra hamil saat itu?' Tanpa sadar ia membatin dalam hati. Seketika jantungnya berdebar kencang seiring kenangan membawa dirinya ke beberapa tahun yang lalu, saat dimana ia melihat dari dalam mobil sosok Shierra yang tengah berjalan menghampirinya sembari mendorong troli belanja, sebuah senyuman tersungging di wajah Shierra saat itu.
"Tapi taukah kamu apa yang paling menyedihkan dari peristiwa itu? Shierra sempat mengatakan padaku bahwa kamu adalah temannya yang sangat ia rindukan.. dan betapa ia sangat ingin menyapamu saat itu." Kata David dengan suara pelan.
Stella merasakan kakinya yang mendadak lemas, wanita itu seketika terduduk, rasa menyesal tiba-tiba muncul sementara kenangan-kenangan tentang Shierra perlahan tapi pasti mulai menyiksa batinnya.
"Shierra bahkan dulu sempat berniat membatalkan rencana pernikahan kami, aku tidak tau alasannya saat itu, ia tidak mau memberitahukan alasannya, tapi aku tetap memaksanya karena aku mencintainya dan aku tau dia juga mencintaiku.."
"Cu-cukup Dave.." Stella dengan wajah kalut langsung menutup telinganya, ia sudah tidak sanggup mendengarkan semua perkataan David mengenai Shierra.
"Tidakkah kamu memikirkan sedikit saja perasaan Shierra saat itu? Tidakkah kamu memikirkan betapa egoisnya dirimu terhadap sahabatmu sendiri?"
"SUDAH CUKUP!!"
Stella berteriak sekencang-kencangnya, wajahnya terlihat kalut.
Dan sepersekian detik kemudian, wanita itu mulai menangis, menangis dan menangis dengan kencang, hingga pipinya basah dipenuhi dengan airmata.
'That's enough.' David membatin, ia puas melihat penyesalan di wajah milik wanita yang ada di hadapannya itu. Pria itu lalu perlahan mulai mengarahkan ujung pistolnya kembali ke arah kepala Stella.
"Menangislah di neraka sana." Bisik David. Telunjuknya siap menarik pelatuk untuk melepaskan peluru ke arah kepala Stella ketika tiba-tiba terdengar suara anak laki-laki memanggilnya dari balik pintu kamar.
"Dad?"
David tertegun, suara itu milik Noah.
"Dad, are you there? can you hear me dad? I'm scared, don't leave me.."
****
Maaf yaa yg kmrn udh request biar polisi aja yg nembak Stella 😬 that would be 'kurang greget' 🤧 I meant.. if I were david, I'd do the same for sure ✌️
tapi tenang aja kok, novel ini bakal ttp happy ending🙃 #yhaaaamalahspoilerr
KAMU SEDANG MEMBACA
The XL Girl Named Bella (COMPLETED)
RomanceBrakk! Bella sudah tidak sanggup lagi mendengar ucapan dari ibunya Kevin, tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya hingga ponsel itu membentur lantai dengan keras. "Kenapa kak?! Ada apa??" Tanya Reno dengan panik kepada kakaknya itu, orang-orang yang se...
