"Dad, are you there? can you hear me? I'm scared, don't leave me.."
David menelan ludahnya, sementara adrenalin sepenuhnya telah menguasai dirinya. Betapa ia ingin menghilangkan nyawa Stella saat ini, rasa dendamnya yang bertahun-tahun ia simpan ternyata sangatlah besar dan mustahil untuk dapat ia hilangkan.
'Tapi ada harga yang harus kamu bayarkan untuk itu, David.'
Tiba-tiba terdengar suara hati kecilnya, menggaungkan kata-kata yang membuat perasaan ragu seketika muncul kala itu juga
'Noah sudah cukup menderita hidup tanpa kasih sayang seorang Shierra selaku ibu kandungnya.. apakah kamu tega menambah penderitaan anak itu lagi?'
David mengeratkan pegangan pada pistolnya, sementara pikirannya membayangi jawaban atas pertanyaan yang timbul dari hati kecilnya itu. Ia tidak ingin membuat anak laki-lakinya itu hidup sendirian tanpa kehadiran seorang ayah, tanpa kehadiran dirinya yang mendekam di penjara akibat terlalu egois dan lebih mementingkan rasa dendam dibandingkan masa depan putranya sendiri.
David akhirnya menyerah, pria itu memilih menurunkan tangannya yang tengah memegang pistol.
"Wh-what? Just kill me, David! Itu yang dari dulu kamu inginkan bukan?!!" teriak Stella di sela-sela tangisnya.
Sayup-sayup terdengar sirine mobil polisi yang semakin lama semakin terdengar jelas suaranya.
David terdiam sejenak sembari menarik nafasnya perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri.
"Biar pihak berwajib saja yang mengadilimu Stella, aku tidak mau mengotori tanganku dengan darahmu." ucap pria itu akhirnya.
**
Semua berakhir begitu cepat, polisi dengan cepat mengamankan Stella beserta sebilah pisau dapur berukuran besar yang telah digunakan oleh wanita itu sebagai senjata sekaligus barang bukti.
"Pak David, untuk keterangan lebih lanjut bapak harus ikut kami ke kantor polisi, kami juga nantinya perlu meminta keterangan dari saudari Bella selaku korban dan Emily selaku saksi, namun sebelum itu kami akan melakukan penjadwalan terlebih dahulu."
David hanya mengangguk singkat sembari mengawasi sosok Stella dengan kondisi tangan yang sudah di borgol, wanita itu didampingi oleh 2 orang polisi di kedua sisinya sembari memasuki sebuah mobil berwarna khas putih biru dengan sirine menyala diatasnya.
"Bapak bisa ikut kami sekarang pak?" Tanya polisi itu sembari menunjuk ke mobil yang berbeda dengan mobil yang menbawa Stella.
"Tunggu sebentar, ada yang perlu saya bicarakan dengan keluarga saya." jawab David dengan cepat.
**
"Noah, dad pergi sebentar ya.. untuk sementara ini kamu ditemani sama tante Em dan Bella dulu." Kata David sembari mengelus lembut pipi anak laki-lakinya itu.
"Tapi tidak akan lama kan dad? Berapa lama perginya? 5 menit?" tanya Noah dengan wajah sedih.
David tersenyum menanggapi pertanyaan Noah, dipeluknya tubuh kecil itu dengan lembut.
"It will take more than just 5 mins, Noah.. tapi dad janji akan segera pulang begitu semuanya selesai, kamu mau kan menunggu dad?"
David merasakan kepala Noah yang tengah mengangguk di atas bahunya.
"Good boy!" ucap David sembari tersenyum.
Terlihat Emily berdiri di sebelah Noah ikut tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak itu.
"Em, where's Bella? aku belum melihatnya dari tadi." tanya David dengan wajah heran.
"Dave, spertinya Bella sedang bersama tim medis sekarang, Bella.. terluka gara-gara wanita gila itu." jawab Emily dengan khawatir.
"Bella terluka?! Astaga.. dimana dia sekarang Em?!!" seketika wajah David langsung panik.
"Tadi aku lihat ada petugas medis membawa perban ke dalam kamar Bella, sepertinya luka Bella sedang dirawat sekarang." balas Emily sembari menatap pintu kamar Bella yang tertutup.
Tanpa mengatakan apapun lagi, pria itu dengan cepat langsung menaiki tangga dan membuka pintu kamar Bella, di dalam kamar itu nampak terlihat seorang petugas medis perempuan baru saja selesai membalutkan perban di kaki Bella.
"Da-David.."
Terlihat Bella yang nampak kaget melihat David yang tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Bella, kamu terluka? Kamu seharusnya kerumah sakit.." ucap David dengan wajah khawatir
Bella langsung menggelengkan kepalanya
"Tidak perlu, kebetulan lukanya juga tidak terlalu dalam jadi bisa langsung diobati." sahut Bella sembari memperhatikan kakinya yang sudah diperban.
"Saya menyediakan obat antibiotik untuk ibu Bella, harus dihabiskan ya bu, semoga bisa segera sembuh." ucap si petugas medis itu dengan wajah ramah, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar, meninggalkan David dan Bella berdua.
David perlahan mendekati Bella lalu menggenggam lembut tangan wanita itu
"Bella, aku harus berterima kasih kepadamu karena kamu lagi-lagi telah melindungi Noah.."
Bella dengan cepat langsung menarik lepas tangannya dari genggaman tangan David, wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Tidak apa-apa.. aku lega bisa melindungi Noah saat itu." respon Bella sambil memaksakan dirinya tersenyum.
"Bella.."
David mencoba memeluk tubuh wanita yang ia cintai itu, namun hal yang terjadi selanjutnya begitu cepat, tangan Bella tiba-tiba menahan tubuh David agar pria itu tidak mendekatinya.
David tertegun dengan situasi yang terjadi saat ini, terlihat jelas bahwa Bella tengah berusaha menghindarinya.
"Bella, kamu kenapa?" tanya David dengan bingung.
Bella hanya diam sembari membuang mukanya, ia seakan enggan menatap wajah pria dihadapannya itu.
Tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka, Bella dan David dengan cepat menoleh dan mendapati sosok Emily muncul di balik pintu itu.
"Dave, you have to go now, polisi sudah menunggu.."
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The XL Girl Named Bella (COMPLETED)
RomanceBrakk! Bella sudah tidak sanggup lagi mendengar ucapan dari ibunya Kevin, tanpa sadar ia menjatuhkan ponselnya hingga ponsel itu membentur lantai dengan keras. "Kenapa kak?! Ada apa??" Tanya Reno dengan panik kepada kakaknya itu, orang-orang yang se...
