49. Berbeda

6.9K 615 76
                                        

[⚠️ Apabila ada adegan atau kata-kata kasar jangan ditiru-!! Ku pukul nanti kalo di tiru 😐]

•••°°°°[Happy Reading]°°°°••

Dirga berdiam diri didepan sebuah danau yang lumayan jauh dari hiruk pikuk kota. Matanya memandang lurus ke arah danau, perkataan Kenzi masih terus berputar di kepalanya.

Perjuangannya untuk mendapatkan gadis itu ternyata hanya sia-sia saja. Gadis yang ia anggap pelengkapnya ternyata hanya menganggapnya sebagai pelampiasan.

Ia sadar ternyata seperti ini rasanya dijadikan sebuah pelampiasan. Ia menyesal karena dahulu ia sering memainkan hati perempuan. Meski tak sampai menjadi kekasihnya, tetapi tetap saja ia hanya menjadikannya sebagai pelampiasan semata.

Dirga melemparkan beberapa batu ke dalam danau hingga menimbulkan suara gemericik.

Matahari sudah mulai meninggalkan tempatnya, tetapi Dirga masih enggan untuk menjauh dari kawasan tersebut.

Dirga terkekeh miris, "Gue anggap lo sebagai orang yang paling berati di hidup gue, tapi nyatanya lo cuma jadiin gue sebagai pengganti."

"Andai dulu gue gak paksa lo buat jadi cewek gue, mungkin ini gak akan pernah terjadi," monolognya seraya memandangi air yang menggenang di depan sana.

Suasana sangat sunyi membuat Dirga sangat nyaman, rasanya ia benar-benar tak ingin pergi dari sini. Namun, karena matahari sudah mulai terbenam akhirnya mau tak mau dirinya harus pergi dari tempat tersebut.

***

Kenzi duduk termenung di balkon kamarnya, rasa nyeri masih menjalar di seluruh tubuhnya. Entah mengapa akhir-akhir ini dirinya sering merasakan lemas dan juga nyeri.

Sibuk dengan pikirannya sendiri, Kenzi sampai tak menyadari jika darah sudah kembali mengalir dari hidungnya.

Kenzo yang baru saja ingin menghampiri sang adik dibuat terkejut dengan cairan merah kental tersebut. Ia pun langsung kembali masuk ke dalam kamar Kenzi lalu menyambar tisu yang ada di atas nakas.

Ia mendekati Kenzi lalu memberikan kotak tisu tersebut pada Kenzi, "Lo mimisan kaya gitu kenapa dibiarin aja?!" pekik Kenzo.

Kenzi tersentak dan langsung menyeka tersebut menggunakan tisu yang diberikan oleh Kenzo.

Lelaki itu hanya memperhatikan sang adik yang masih berusaha untuk menghentikan darah yang mengalir dari hidungnya.

Setelah beberapa saat akhirnya cairan merah kental tersebut sudah tak mengalir lagi, Kenzo langsung menyingkirkan tisu-tisu yang digunakan adiknya.

Ia kembali lalu duduk di samping Kenzi, "Kenapa bisa mimisan lagi? Lo sakit? Banyak pikiran lagi?" tanya Kenzo seraya memegang dahi Kenzi.

Kenzi hanya menggeleng pelan lalu menyingkirkan tangan Kenzo yang berada di keningnya. Ia mendengus kesal.

"Ck, gue gak papa bang. Cuma mimisan doang kok, jangan bilang ke mami sama papi awas aja lo!" ancam Kenzi seraya menunjuk wajah Kenzo.

"Heh dongo! Kalo itu penyakit parah gimana? Gak mungkin gue gak bilang sama mereka," ketus Kenzo.

Kenzi hanya memutar bola matanya malas, "Gak usah lebay deh ya, gue gak papa kok," balas Kenzi tenang, ia menyandarkan tubuhnya di kursi yang terdapat di balkon kamarnya.

Leader Girl (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang