Well, kayaknya masih banyak yang baca cerita ini ya ehehehe...
Maafin banget udah hilang bertahun-tahun, tapi hari ini aku publish ulang endingnya sayang, semoga happy yaaa and Happy New Year kesayangan Linlin 🤍
***
Namun sepertinya takdir sudah berkata, pisau tersebut berhasil menghujam ke arah perut salah satu dari mereka. Darah mulai mengalir, sedangkan sang pelaku menatap gemetaran. Ia tak menyangka ini benar-benar terjadi.
Belasan motor dan satu mobil sudah terparkir di depan gedung tua yang tadi menjadi tempat tujuan mereka sedari tadi. Semua turun dari motor masing-masing dan berjalan memasuki gedung yang terlihat horor itu, tetapi tidak ada yang merasakan takut sama sekali, saat ini pikiran mereka semua hanya terfokus pada Kenzi.
"Tempat ini luas, jadi mending kita mencar aja, buat yang cewek harus dibarengin sama cowok!" titah Riky menatap satu persatu teman-temannya. "Yaudah sekarang kita cari Kenzi!"
Mereka sudah mulai menginjakkan kakinya masuk kedalam pabrik yang gelap dan usang, tidak ada pencahayaan disini. Hanya terdapat cahaya dari lampu flash ponsel mereka masing-masing.
Kenzo berjalan bersama Lya dan juga Aldo, mereka lebih memilih mengambil jalan ke utara. Saat netra ketiganya terfokus pada tempat-tempat gelap ini, mendadak perhatian Lya teralih pada sebuah ruangan yang terlihat memiliki cahaya remang-remang dari dalamnya.
Ia pun menepuk bahu kedua pemuda yang berada di sisinya, "Coba liat, di sana kaya terang mungkin aja Kenzi di sana."
Perkataan Lya membuat fokus keduanya berganti pada ruangan yang dimaksud oleh Lya tadi. Kenzo berjalan mendahului mereka, saat sampai di depan pintu ia dikagetkan dengan suara kegaduhan di dalam.
Ia menengok kebelakang menatap kedua partnernya, mereka hanya mengangguk seakan memberikan isyarat memperkenankan Kenzo membuka pintu usang dihadapannya.
Dengan cepat Kenzo membuka pintu yang telah lapuk itu, walaupun sedikit sulit namun akhirnya pintu ini dapat terbuka secara sempurna, mereka menemukan terdapat dua gadis di sana.
"Kenzi!" teriak seketika saat mendapati ada sebuah pisau yang tertancap pada perutnya.
Kenzo langsung berlari secepat mungkin ke arah kembarannya yang sudah berlumuran darah. Air matanya sudah tidak tertahankan lagi kala melihat wajah Kenzi yang menahan sakit.
Lya dan Aldo juga langsung mendekati ke arah mereka. Melihat keadaan Kenzi saat ini membuat amarah Lya membuncah sampai ke ubun-ubun, ia menghampiri Vanda dan menghujaninya dengan pukulannya, ia tidak perduli lagi jika itu temannya sendiri. Ah, teman? Memang ada taman yang membunuh temannya sendiri? Apakah orang seperti itu masih bisa dianggap teman?
"Ken! Hey Abang udah datang, maaf Abang telat. Lo harus kuat buat gue sama yang lain, buat Mami, Papi, bang Faiz, stiflers, teman-teman lo, sama yang lain," lirih Kenzo berbarengan dengan buliran bening yang mengalir dari matanya.
Kenzi menggeleng pelan, ia tersenyum manis. Tetapi ukiran manis tersebut tidak dapat menyembunyikan tentang rasa sakit yang menyerang dirinya.
Tak lama yang lain menyusul masuk kedalam tempat itu, pemandangan pertama yang mereka dapatkan adalah Lya yang sedang menghajar lawannya habis-habisan dan Kenzo yang duduk bersimpuh dengan sosok gadis dipangkuannya.
"Kenzi!" pekik mereka bersamaan lalu menghampiri Kenzo.
Satrio berlarian ke arah Lya dan menariknya agar menjauhi Vanda, gadis ini benar-benar terlihat sangat emosi. Bahkan saat ini ia meronta-ronta meminta di lepaskan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leader Girl (END)
Teen FictionTentang sebuah kisah yang melibatkan banyak hati dan perasaan, tentang lingkaran takdir yang selalu membelenggu manusia. Tentang permainan takdir yang entah bagaimana maunya. Tentang misteri takdir yang selalu mengikat manusia, bagaimana tuhan menja...
