Kini kelima gadis itu tengah berada di mall terbesar di Jakarta. Di sana mereka sedang berjalan menyusuri mall tersebut.
Mereka telah mengunjungi beberapa toko baju, sepatu, aksesoris, make up, Gramedia, KPop, dan saat ini tengah duduk manis di dalam sebuah kafe yang di disain dengan sangat klasik tetapi tetap memiliki kesan yang minimalis.
"Silahkan dinikmati kakak," ucap pelayan dengan ramah.
"Terima kasih, mba," sahut mereka.
Kemudian mereka meminum minuman yang telah mereka pesan tadi. Hanya ada keheningan yang menyelimuti kelima gadis tersebut.
"Masih belum ada kabar?" tanya Ika dan semuanya langsung menatap lekat Kenzi.
Gadis itu menatap wajah para sahabatnya dan hanya tersenyum tipis diselingi dengan gelengan kepala.
Mereka tampak menghembus nafas pelan. Mereka tau kalau Kenzi tengah memendam rasa kekecewaan yang mendalam, karena ditinggalkan oleh seseorang yang sangat berharga baginya.
"Lo masih tetep bertahan?" tanya Ana dan hanya dijawab anggukan kecil dari Kenzi.
"Gue juga gak tau sampai kapan gue bakal tetap bertahan, tapi gue akan selalu coba bertahan demi dia," ucap Kenzi dengan tersenyum tipis.
"Gue harap penantian lo akan terbayar," ucap Lya.
"Udah ah, malah mellow mulu. Oh ya, nanti malam bakal ada balapan ikut yukk...!" ajak Ana dengan antusias.
"Boleh tuh, gue juga udah agak lama gak ikut balapan. Hadiahnya apa nanti malam?" tanya Kenzi.
"Kalok gak salah hari ini hadiahnya uang deh, 100juta kalok gak salah," jawab Ana.
"Ikut aja yuk ... kalian juga nginap tempat gue aja, gimana?" tanya Kenzi.
"Mauu ...!" jawab mereka serempak, hingga membuat mereka menjadi pusat perhatian.
Kemudian mereka melanjutkan acara jalan-jalannya. Setelah puas berbelanja dan jalan-jalan, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah Kenzi.
Setelah menempuh perjalanan yang lumayan lama, akhirnya mereka sampai di depan rumah Kenzi. Sesampainya di sana keempat sahabat laknatnya langsung berlari memasuki rumah dan meninggalkan Kenzi sendiri.
Untung temen gue, kalau bukan udah gue jorokin ke laut mereka!-geram Kenzi dalam batin.
Setelah selesai memarkirkan mobilnya, Kenzi berjalan memasuki rumahnya. Baru saja ia ingin mengucapkan salam tiba-tiba suara Hikari dan Dila mengejutkannya.
"Iih, itu suami gue ...!" jerit Hikari histeris.
"Kyaaa ... harusnya gue yang jadi ceweknya!" jerit Dila tak kalah histeris.
Sedangkan Ana, Lya, dan Kenzi hanya memandang sebal. Mereka selalu saja seperti itu saat tengah menonton drama Korea dari negeri ginseng tersebut.
Saat ini mereka tengah berada di kamar milik Kenzi yang di penuhi akan album dan juga buku-buku fiksi ataupun non fiksi.
Ini yang membuat Kenzi sangat malas jika keempat sahabat gesreknya itu menginap di rumahnya, karena sudah dapat dipastikan bahwa semua barang-barangnya yang awalnya tertata rapi akan langsung berserakan dimana-mana karena ulah mereka.
Buku yang awalnya tertata rapi di rak buku akan berserakan dimana-mana, dan lighstick kesayangannya akan menjadi alat pukul dadakan.
"Heh! Bisa diem gak kalian!" bentak Kenzi dan langsung membuat mereka berdua terdiam.
Setelah menaruh barang belanjaannya, Kenzi berjalan menuruni tangga dan diikuti oleh Ana dan Lya, karena malas mendengar teriakan dan ocehan unfaedah dari kedua sahabatnya itu akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti Kenzi kebawah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leader Girl (END)
Teen FictionTentang sebuah kisah yang melibatkan banyak hati dan perasaan, tentang lingkaran takdir yang selalu membelenggu manusia. Tentang permainan takdir yang entah bagaimana maunya. Tentang misteri takdir yang selalu mengikat manusia, bagaimana tuhan menja...
