Sebelum membaca harap vote terlebih dahulu okey 👌🏻
Vote
Vote
Vote
Jangan bandel ya..
****
Kenzi menatap sinis orang yang menariknya, "Lo ngapain anjir!" ketus Kenzi dengan suara pelan. Orang tersebut memeluk gadis itu dari belakang. Ia berjalan mundur menuju balik tembok tersebut.
"Jangan berisik!" desis laki-laki yang menarik Kenzi.
Dia melepaskan tangannya dari tubuh Kenzi Setelah terlepas dari pelukannya Kenzi langsung mendorong tubuh laki-laki itu hingga terhiyung ke belakang.
"Lo kenapa narik gue kesini?!" tanya Kenzi dengan nada ketus.
"Emang lo mau ke tangkap sama Bu Ike? Udah ditolong malah bentak-bentak," sinis Dirga.
Kenzi termangu benar juga jika ia tidak ditarik masuk kedalam sini sudah dipastikan bahwa ia akan terseret masuk kedalam ruangan kramat bagi sebagian orang ini yaitu ruangan BK.
Ia berfikir apa ia akan mengucapkan terima kasih kepada laki-laki didepannya ini, tapi ia tadi sudah marah-marah padanya. Sudah lah bodo amat, gak penting juga berterima kasih sama tembok, pikir Kenzi.
"Gak usah bengong," ucap Dirga dan membuat lamunan Kenzi membuyar.
Dirga berjalan ke depan untuk melihat apakah Bu Ike masih berdiri di depan. Bu Ike sudah tidak ada lagi didepan jadi mereka sudah aman dari kejaran macan betina yang hampir mengamuk.
"Bu Ike masih di depan?" tanya Kenzi.
"Enggak, lo mau tetep disini atau mau keluar. Kalau lo masih mau disini, yaudah gue tinggal," celetuk Dirga dan langsung meninggalkan gadis mungil ini.
"Heh! Tungguin," ucap Kenzi dengan berlarian kecil.
Mereka berjalan menyusuri lorong kelas-kelas yang tampak sepi, sampai di belokan lorong mereka bertemu dengan teman-temannya.
Ya, mereka adalah Hikari, Ana, Lya, Dila, Satrio, Bagas, Rangga, dan Aldo. Saat sedang kejar-kejaran dengan Bu Ike tadi mereka memang sempat bertemu dan bersembunyi di gudang belakang.
"Kalian dari mana?" tanya Dila dengan tatapan mengintimidasi.
"Kepo," jawab Dirga.
Kenzi sudah menggelengkan kepalanya, ia sudah paham betul bahwa yang ada di pikiran mereka pasti yang aneh-aneh karena ia bersembunyi berdua dengan Dirga.
"Kita nyariin kalian, eh kalian malah enak-enakan berduaan. Hayo, ngaku kalian abis ngapain!" cerca Bagas.
Dirga hanya tampak datar-datar saja, ia bersikap biasa-biasa saja. Toh, mereka memang tak melakukan apapun.
"Dir, lo apain anak orang?" tanya Rangga yang ikut menghakimi.
"Bersihin tu otak lo dari pikiran kotor! Gue cuma narik dia buat sembunyi doang!" Mereka mengangguk lalu kembali berjalan.
"Kita mau kemana?" tanya Ana.
"Kelas," jawab Satrio.
KAMU SEDANG MEMBACA
Leader Girl (END)
Ficção AdolescenteTentang sebuah kisah yang melibatkan banyak hati dan perasaan, tentang lingkaran takdir yang selalu membelenggu manusia. Tentang permainan takdir yang entah bagaimana maunya. Tentang misteri takdir yang selalu mengikat manusia, bagaimana tuhan menja...
