Kenzo memarkir kendaraannya di depan markas stiflers. Ia lalu berjalan tergesa-gesa memasuki gedung kokoh di hadapannya.
Setelah memasuki markas, mata menangkap dua insan yang tengah mondar-mandir di sana. Ia lantas melangkah ke arah keduanya.
"Gimana? Kenzi udah balik?" tanya Kenzo begitu sampai dihadapan mereka.
Kedua insan yang sedari tadi mondar-mandir saja kini mengalihkan pandangannya pada remaja berperawakan tinggi tersebut.
Riky menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, "Mereka belum ngabarin."
Tak lama para anggota yang tadinya sedang mengobrol dihalaman belakang markas sembari membakar jagung, kini memasuki markas dan menatap bingung, kenapa ada kembaran sang ketua disini.
Mereka lantas berjalan mendekati mereka, dari raut wajahnya dapat mereka simpulkan jika ada yang tidak baik-baik saja.
"Ini kenapa kembarannya bos ada disini?" tanya Ferdi seakan mewakili keheranan teman-temannya yang lain.
"Muka lo pada kenapa sepet gitu? Kagak punya duit?" celetuk Aji.
Ucapan lelaki tersebut langsung mendapatkan geplakan dari Hikari yang kebetulan berdiri di samping Aji. Ia menatap kesal ke arah pemuda yang sebenarnya berumur lebih tua darinya.
"Anjir malah digeplak gue," lirih Aji dengan meringis pelan, jujur saja pukulan dari Hikari memang menyakitkan.
Baru saja Riky hendak menjelaskan apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba ponselnya berdering menampilkan sebuah nama yang sedari tadi ia tunggu-tunggu kabar darinya, ya itu panggilan dari Lya.
"Halo, gimana? Udah ketemu?" tanya Ricky beruntun.
Terdengar helaan nafas dari sana, "Gak ada, kita udah nyusurin semua jalan sama gang tapi gak ketemu sama Kenzi. Gue juga udah tanya petugas supermarketnya tapi katanya Kenzi gak kesana sama sekali," jawab Lya yang membuat lelaki tersebut mengusap wajahnya gusar.
"Udah coba tanya warga sekitar?" tanya Riky.
"Ya kali tanya warga, ini udah jam berapa bege. Mana ada warga yang masih keliaran diluar!" ketus Ana, ya mereka memang mendengar percakapan Lya dan Riky karena gadis itu me-loudspeaker panggilannya.
Riky membenarkan ucapan Ana, mana ada warga yang masih di luar jam segini. Apalagi jika dari markas ke supermarket jalannya memang senantiasa sepi dan jarang ada orang.
"Oke, gue sama anak-anak yang lain bakal susul ke sana, kita cari Kenzi bareng-bareng!" titah Riky lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Para anggota yang tidak tahu menahu tentang yang terjadi hanya menatap bingung manusia di hadapan mereka. Kemana perginya sang ketua, dan kenapa mereka tampak sangat khawatir? Itulah pertanyaan yang langsung melekat pada kepala mereka.
"Gimana?" tanya Hikari dan Kenzo berbarengan.
Riky menggelengkan kepalanya, "Gak ketemu."
Kenzo mengusap wajahnya gusar, pikirannya sudah kacau. Bagaimana jika ada apa-apa dengan Kenzi, ia pasti tak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Aji menatap mereka bertiga dengan bergantian seakan meminta penjelasan tentang apa yang terjadi saat ini. Mereka bertiga kalut sendiri sampai melupakan, jika anggotanya tidak ada yang tahu permasalahan ini.
"Ada apa sih? Kenzi kenapa?" tanya Aji seakan mewakili teman-temannya yang lain.
"Kenzi hilang, dia tadi bilang mau ke supermarket tapi sampe sekarang belum balik dan waktu Lya sama yang lain tanya ke orang yang kerja di sana katanya Kenzi sama sekali gak dateng ke sana," jelas Hikari dengan rinci.
Mereka langsung membulatkan matanya, "Kenapa gak bilang dari tadi?!" bentak Sandy.
"Kita cabut sekarang! Kita cari ketua!" ajak Sandy dan langsung pergi begitu saja dari sana.
Mereka hanya mengekori Sandy dari belakang, begitu juga dengan ketiga orang itu. Namun, saat hendak pergi mendadak Hikari menghentikan langkahnya.
"Kita kasih tau Dirga sama yang lain enggak?" tanya Hikari dan langsung membuat semuanya berhenti.
Riky tampak berfikir sejenak, "Gak usah dulu, kalo sampe tengah malem nanti Kenzi belum juga ketemu baru kita kabarin mereka."
Hikari hanya menganggukkan kepalanya kemudian menaiki mobilnya, ya Hikari lebih memilih menggunakan mobil karena dirinya tidak bisa terkena angin malam akibat asma yang ia derita.
Mereka melajukan kendaraannya ke lokasi dimana Lya dan yang lain berada, tadi gadis itu sempat memberikan lokasinya. Tak lama mereka sudah tiba di mana yang lain menunggu. Kenzo, Hikari, dan Riky langsung menghampiri empat orang itu.
"Gimana? Mau cari kemana?" tanya Kenzo dengan gelisah.
Mereka menggeleng lesuh, mereka juga tidak tahu harus mencari Kenzi kemana, "Udah ada yang nelpon ketua?" tanya salah satu anggota dan membuat semua atensi teralih padanya.
Dila mengangguk, "Udah berkali-kali gue telepon tapi gak ada satupun yang dijawab."
"Kita berpencar aja, telusuri setiap jalanan siapa tau nanti ketemu," usul Aji.
"Oke kita berpencar aja, satu jam lagi kita kumpul disini," perintah Riky kemudian semuanya mulai berpencar.
***
Kenzi membuka matanya perlahan menyesuaikan cahaya remang-remang yang masuk ke dalam pupil matanya.
Sesekali ia meringis pelan karena luka di wajah dan juga badannya yang ia dapatkan saat berkelahi dengan orang-orang yang mengikutinya tadi.
Kenzi menatap ke sekelilingnya, hanya satu pertanyaan yang muncul di dalam otaknya, dimana ia?
Tempat ini seperti tempat yang sudah lama ditinggalkan. Banyak terdapat debu-debu yang menempel, selain itu banyak juga barang-barang usang yang berserakan.
Ia berusaha menggerakkan badannya tapi sial, badannya terikat pada kursi yang ia duduki.
"Ulah siapa sih?! Ngeselin banget pakek acara diikat segala!" ketus Kenzi kesal.
Ia berusaha melepaskan ikatan. Walaupun sakit saat tali itu menggesek kulit lengannya, ia tetap kekeuh untuk melepaskan diri dari ikatan.
Pelan-pelan tali itu mulai melonggar dan akhirnya tangganya bisa terlepas dari ikatan menjengkelkan tersebut.
Saat semua tali yang melilit tubuhnya sudah terlepas, terdengar suara tepuk tangan yang diiringi oleh derap langkah kaki.
"Harusnya tadi gue borgol aja ya daripada diikat, gue lupa kalo lo hebat dalam setiap beladiri dan buat lepas ikatan itu pasti mudah banget," ujarnya dengan tersenyum manis.
Kenzi kaget mendengar suara orang itu, ia menatap tajam ke arahnya, "Ngapain lo ngelakuin semua ini?"
Orang tersebut sempat kaget saat nada bicara Kenzi terdengar dingin, selama ini Kenzi tidak pernah berkata dengan nada dingin saat berbicara dengannya. Tetapi secepat mungkin ia kembali merubah raut wajahnya kembali tenang.
Orang itu tampak menepuk-nepuk jari telunjuknya pada dagu, "Kenapa ya? Karena gabut mungkin," jawabnya dengan sangat santai.
***
To be continued....
Hohoho nyulik orang cuma gabut tuh🤣 kira-kira siapa yaa??
Btw yang selamanya baik gak selalu baik, yang buruk juga gak selalu buruk 🐇
Ayooo banyakin komen besok ku double up deh beneran gak boong, kalo boong jitak aja :>
Okey see you next chapter...!
Jangan lupa votmennya!!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Leader Girl (END)
Novela JuvenilTentang sebuah kisah yang melibatkan banyak hati dan perasaan, tentang lingkaran takdir yang selalu membelenggu manusia. Tentang permainan takdir yang entah bagaimana maunya. Tentang misteri takdir yang selalu mengikat manusia, bagaimana tuhan menja...
