(1) Kamu Freya

110K 12.3K 262
                                        

Rasanya kepalaku mau pecah saja, disaat aku bergulungan dan darah yang tercicip di lidah. Jujur, dengan jelas aku melihat sinar yang bahkan lebih terang dari bulan seolah hendak menebus mata.

Samar-samar telinga ini mendengar seseorang mengobrol. Apa itu malaikat maut? Malaikat yang bertanya tentang ibadah, perlu beberapa saat aku menyesuaikan diri. Kelopak mataku terbuka perlahan, napasku tercengat. Pertama kali aku lihat langit-langit kamar bernuansa putih gading.

"Ahh..." Aku mengerang sakit, baru sadar punggung tanganku tertempel infus. Sebentar, seharusnya aku mati.

"Freya, akhirnya lo sadar!" Pekikan nyaring itu memecahkan keterkejutanku. Seorang gadis berambut sebahu mendekat, nampak sekali diwajahnya ada kelegaan.

"Siapa?" Aku bertanya serak, ketakutan mulai menyelimuti ketika mataku tanpa sengaja melirik name tag di seragam putih abunya.

Dia tertawa sambil menggoyangkan bahuku. "Hadeh, gue enggak tau lo jago akting. Gue masih marah sama Ganes bukannya terima kasih karena lo udah nolongin dia si Ganes malah biarin lo pingsan di area tawuran itu," katanya.

Aku hilang kata.

Percayalah, aku bukan perempuan dewasa bodoh. Harusnya aku mati, sekali lagi MATI! Ini malah, aku tebak di rumah sakit bersama dua gadis berseragam SMA.

Aku kebingungan.

"Freya, kamu enggak papa kan?" Pertanyaan bernada lembut itu mengubah pandangan mataku yang sedari tadi mengamati lekat Namira yang terus tertawa.

Jika tadi kepalaku saja yang sakit sekarang tenggorokan nyaris mirip orang tersumbat.

"Mungkin kamu lupa ingatan kali ya ... karena habis dipukul balok kayu, kamu Freya Lovely Astagina dan aku Sena, ini Namira." Gadis berambut gelombang di samping Namira memperkenalkan diri walaupun kentara sekali raut wajahnya heran. "Kamu Freya!"

Aku memang Freya tapi namanya tidak sekeren itu. Nama lengkapku Freya Darsah.

Entah kenapa namanya tidak asing dipendengaran. Aku berpikir keras, detik kesepuluh bahuku menegang dengan jantung berdebar kencang.

Nama itu tercantum di novel yang aku baca dan yang kupeluk saat lari kabur dari para bandit kampung.

Semua buku yang ingin aku kembalikan ke perpustakaan desa berjatuhan kecuali buku yang berjudul 'Lovesick' aku tidak rela buku sebagus itu mencium tanah basah.

"Aku Freya?"

"Iya, kamu Freya."

"Wah, lo beneran lupa ingatan?!" Tawa Namira lebih kencang dari sebelumnya. Aku menatap dingin, kurang ajar. Aku hanya syok, bagaimana bisa aku bangun di tubuh orang lain. Tubuh tokoh antagonis novel yang aku baca.

Sangat mustahil. Sena menyikut pelan siku Namira sadar aku menunjukkan ketidaksukaan karena memang tawanya mampu merusak gendang telinga.

"Maaf." Sudut mata Namira kemudian bergetar, memelas padaku meminta ampun. Aku tau Namira takut, ini Freya Lovely Astagina gadis remaja yang sering bersikap sesukanya.

Kalau ada yang berani menganggu ketenangan Freya maka terima lah akibatnya, Freya yang pernah depresi setelah ditinggal sang mama tercinta.

Freya yang haus darah.

Freya jika suasana hatinya buruk akan mencari mangsa untuk melukai orang lain.

Freya sedingin es berhadapan dengan keluarganya bahkan Papa kandungnya sendiri.

Masih banyak lagi, aku memijit pelipis.

"Aku butuh sendiri, kalian bisa pulang!" ujarku berusaha setegas mungkin. Namun, yang aku lihat ekspresi mereka kembali kaget. Apa ada yang salah lagi?

"Aku?" Sena memandangiku rumit selanjutnya aku kelabakan pasti terdengar sangat aneh. Mana pantas Freya Lovely Astagina berbicara aku-kamu, tapi kan ini Freya Darsah perempuan kembang desa.

***

Kemungkinan jika aku terus di sini yang ada aku gila. Satu jam lalu setelah kepergian Namira dan Sena aku meminta cermin pada suster.

Aku menahan diri tidak memekik keras bagaimana bisa rupaku mirip Freya, aku kira jiwaku yang masuk ke tubuhnya namun aku memakai wajahnya, tapi garis muka ini jelas aku.

Membedakan, warna mata Freya dijelaskan agak kecoklatan sementara rambut bagian bawahnya pirang lurus.

Mataku yang gelap kini berubah warna, rambut biasanya mirip sarang burung mudah disisir.

"Mati!" Aku mengacak rambut gusar, Ya Tuhan apa yang aku lakukan. Di sini aku orang asing daya ingatku tergantung pada novel. Jalan hidupnya berkaitan dengan alur cerita.

"Kak Reya, boleh Lingga ... masuk." Mendengar suara tergagap itu aku menoleh ke sumber suara, di sana anak laki-laki berpakaian santai berdiri di ambang pintu terlihat ragu memasuki ruangan.

Lingga?

Adik tiri Freya. Lingga, yang berani mengajak seorang Freya berbicara walaupun setiap kali respon Freya sangat kasar.

Tidak mungkin aku bersikap kasar apalagi visual Lingga sungguh rupawan, wajahnya putih bersih tak seperti anak-anak desa yang sering bermain di ladang atau lapangan. Oh, imut sekali. Rambutnya ikal, dia nampak benar-benar ketakutan kakinya bahkan sampai gemetar.

Freya, kamu menyesal membenci adik layaknya Lingga. Batinku.

Aku mengangguk, padahal tadi telah rebahan kepalaku masih saja sakit.

"Sebelum aku ke sini, singgah dulu di restoran beli makanan buat Kak Reya, kata Papa Kak Reya nggak suka makanan rumah sakit," ucap Lingga sembari melirik nakas semangkuk bubur ada di sana.

Aku bukannya tidak suka makanan rumah sakit tapi aku nyaris selalu mual melihat bubur, bubur kan makanan lembek dan berair. Untuk Freya sendiri aku tak tau.

"Terima kasih." Kuambil uluran paper bak berlogo restoran itu dari tangan Lingga.

Belum sempat 24 jam aku banyak melihat ekspresi terkejut termasuk anak laki-laki di sampingku detik ini, dia menatapku seolah aku hantu.

Menyebalkan.

Bodo amat.

"Boleh minta bantuan?" Tanganku berhenti menyuap nasi goreng ke mulut. Lingga masih berdiri hanya saja dia menjaga jarak.

"Ya, Kak?!" Lingga berseru kaget.

Kami satu ruangan yang ada aku naksir berondong, setidaknya dia jangan terus melempar pandangan lurus kan aku gugup.

"Beliin gue gelato." Oke, bagus Freya Darsah kamu akting jadi gadis gaul.

"Gelato?"

"Iya, di atasnya juga banyak wafer."

Aku pernah melihat gelato khas italia tersebut di layar telivisi. Dulu, aku merengek minta dibelikan Ayah balasan Ayah justru aku dicubit, katanya harganya mahal mana mampu.

Sekarang seorang Freya sudah menjadi anak seorang pengusaha, meminta gelato mudah baginya. Antagonis di novel 'Lovesick' sering muncul karena kegiatan kriminalnya mencincang anggota tubuh manusia, tapi aku jelas berbeda. Aku agak takut darah.

Cukup tidak berhubungan dengan tokoh utama dan sampingan maka hidupku tentram saja. Kalau pun aku muncul mengingat plot ceritanya berjalan.

Satu yang harus Freya lakukan untuk selamat atau setidaknya tidak mengotori tangannya yaitu.

"Mengubah jalan cerita, memperbaiki sudut pandang mereka yang sudah tertancap buruk."





***

PENCET BINTANGNYA YA🌟 MAKASIH.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang