(60) Tujuan & Cinta

20.3K 3.8K 244
                                        

Bawah mata membengkak aku memandangi pantulan wajah di cermin.

Berakhir mengecewakan, Radit menghilang. Janji kedua saudara itu cuma manis di bibir apalagi Radit.

"Nona, jangan menangis. Ini riasan ketiga kalinya!" ujar Mbak Lia panik sambil mengusap air mata yang kesekian kali menetes di pipiku.

Gaun aku pakai sungguh menawan, sangat pas di badan tapi mengingat siapa yang memberikan membuat aku muak.

"Jangan di remas, Nona. Nanti kusut!" Mbak Lia meraih kedua tanganku.

Mendelik kesal, manik mata coklatku beralih pada gunting di laci meja seakan tau apa yang aku pikirkan perempuan muda itu langsung menutup laci mejanya.

"Maaf, Nona..."

Nyaris jemariku kejepit. Kurang ajar! Aku bangkit, Mbak Lia melakukan hal sama, andai saja keadaannya tidak serumit ini pasti aku akan berdecak kagum dan memuji diri sendiri karena memakai riasan wajah.

Detik ini berbeda.

Aku bertunangan terhadap pemuda bercap buruk paling buruk.

"Ma--"

"Sepertinya Tuan Astar sudah menunggu di bawah Nona bersama yang lain."

Mbak Lia menyela sembari mengapit lenganku kemudian, tampak mencoba tak acuh ekspresiku yang berubah masam.

"Kalau Mbak terus menuntun Freya sampai ke sana, taruhannya pekerjaan Mbak sebagai pelayan akan aku pecat."

"Saya bekerja di Tuan Astar."

Mulut terbungkam, aku hilang kata hingga berada di ruang tengah pun tidak ada kewajiban aku tersenyum, melirik sekilas Laskar di badannya melekat kemeja biru navy duduk di sebelah Mama yang terduduk kaku.

"Sayang, duduk di sini." Mama menepuk samping kanannya. Belum sempat aku melangkah suara Papa menghentikan pergerakanku.

"Kamu duduk di dekat Ganes, terlalu jauh untuk memasangkan cincinnya."

"Tangan aku panjang."

Ruang tengah mendadak hening sahutan asalku jelas menunjukkan ketidaksukaan, tapi namanya mereka penuh ambisi. Mamanya Ganes memecah dengan tawa pelannya.

"Kamu lucu sekali, Freya!" Tante Ayra terkekeh geli, aku melihat itu berdecih sinis. Lucu katanya! Bibirku jadi gatal ingin mengumpat.

Tangan meremas kuat sisi gaun, aku duduk malas di sisi Ganes. Sofa ini seolah sengaja terletak di tengah, semua orang bisa leluasa memandangi.

"Udah gue bilang kan gue benci dipermalukan dan soal timbal balik itu pasti telah lo ketahui..." Ganes berbisik disusul badanku menegang. "Papa merasakan hidupnya tidak lagi lama untuk itu Papa ingin gue secepatnya menikah, lalu mungkin punya anak."

Sialan!

Bisikan Ganes berkaitan dengan ucapan Yena tadi. Aku membalas sinis, Ganes membuang muka berbicara akrab bersama Papa.

Lagi-lagi mata memanas. Di mana sosok yang aku harapkan? Kurafalkan doa berharap Radit datang, tapi mustahil Radit saja sedang di puncak mungkin sekarang menikmati api unggun.

"Mama kamu di atas sana pasti bangga pada kamu, Freya. Anak perempuannya kini sudah besar," ujar Papa Ganes.

Aku mendongak bergantian memandangi Papa dan Om Gio. "Kebalikannya, Mama pasti menangis anak kesayangannya harus jadi korban di perkumpulan keluarga gila ini."

Tampilan kaget mereka tunjukkan, aku terkekeh geli merasa lucu apalagi mukanya Mama Ganes memerah.

"Sebelum makan malam, kalian berdua pemasangan cincin!" Ucapan tegas Papa melunturkan senyum bersamaan tangan kiriku Ganes pegang.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang