(35) Fakta Yang Terungkap

33.8K 5.1K 131
                                        

Benar-benar keluarga bahagia.

Padahal sebelumnya aku berharap rumah ini sepi, yang punya gila kerja namun itu hanya sekedar ekspektasi. Jahat memang pemikiranku, dan detik ini keirian hadir.

"Bagaimana sekolahmu, Saka?" tanya Bunda pada pemuda berseragam putih abu-abu di sebrang meja. Dari sekali lihat aku menyimpulkan tingkah anak itu badung, satu kalung rantai melingkar di leher dan telinganya bertintik hitam.

Aku meremas kuat jari-jari tangan, lain halnya Freya selalu di samping menemani menjelajahi waktu ini terus menonton, menikmati setiap teka-teki tersibak. Tanpa Freya aku tidak akan mengetahui yang sebenarnya.

"Mama pasti tau jawabannya, ini yang terakhir. aku berjanji! Lusa nanti Mama nggak harus ke sekolah, biar Pak Dio aja asisten Papa, hehe..." sahutnya sambil menyengir.

Kuyakinkan diri untuk tidak membalik meja. Sudah diberikan perhatian oleh Bunda, anak badung bernama Saka tersebut malah main-main.

"Kata Ayah lo tadi, nyokap lo udah nikah, kan? Bahkan punya anak, itu berarti Saka adalah adik lo. Hm, pasti ada adik lain atau seumuran," ujar Freya.

Namun, lima menit kemudian hanya satu pria dewasa yang muncul dengan jas formalnya melekat di badan memasuki ruang makan. Tidak ada satu orang pun mengikuti, suara deting sendok bertemu piring mengisi kekosongan.

"Hari ini kamu ke sana lagi?" Pertanyaan bersumber yang aku ketahui suami Bunda. Bunda sedang mengupas buah terhenti, menoleh pada suaminya lalu mengiyakan singkat, jawaban dari Bunda terdengar lirih.

"Anak Mama dari suami Mama pertama itu beneran meninggal, kan? Kalau misalnya ini cuma tipuan gimana, biar kita sering transfer duit ... eh, bentar. Meninggal dunia nggak ada lagi kiriman!" seru Saka.

Orang tua Saka kompak melotot, tidak berbeda jauh denganku. Bedanya sekarang aku telah mengeram marah, berjalan cepat ke tempat duduk Saka punya hasrat besar memukul kepalanya.

"Dasar keparat! Mulut kau itu bau comberan, diam saja!" desisku kesal. "Bocah edan, beraninya mengambil kasih sayang Bunda..." Yang aku tampar justru udara kosong, tembus lagi.

Di sisi lain aku bersyukur Bunda adalah orang yang terbuka, tidak menyembunyikan masa lalu telah bersuami dan punya anak sebelumnya. Masalahnya, suami Bunda yang kedua ini tidak mempermasalahkan itu. Suami Bunda bucin akut! Bersunggut-sunggut aku kembali duduk di samping Saka.

Kutatap Saka sinis. "Kau tau Bunda meninggalkanku di umur dua bulan, angkat kaki tanpa beban meninggalkan Ayah dan memilih Papamu," kataku ketus.

"Lebih parah lagi Bunda membayangkan visual antagonis di novelnya anak perempuannya. Oke, aku tidak marah. Perasaanku antara agak kecewa dan bahagia ... Bunda seorang penulis, anaknya suka membaca. Paket lengkap!" Air mata bercucuran aku terus bercerita, tanpa ada yang mendengarkan kecuali Freya bertopang dagu bosan.

"Kita harus menjelajahi rumah ini." Freya berdiri, nada suaranya tegas mau tak mau aku menurut, mengikuti Freya.

Menaiki undakan tangga, melangkah lesu di lantai dua. Jika ditanya apa hatiku sakit, tentu saja jawabannya iya.

Ayah berbohong hampir dua puluh lima tahun, mengatakan bahwa perempuan yang telah melahirkanku meninggal dunia.

Selama ini Bunda tinggal di pusat kota, banyaknya gedung pencakar langit yang hanya bisa aku lihat dari layar televisi.

Makam yang aku kunjungi berarti bukan lah makam Bunda, bisa jadi di dalamnya kosong. Sama halnya Bude, ikut serta menyimpan rapat rahasia ini.

"Padahal aku butuh Bunda, Ayah..." mengatur napas, aku berjalan berlawanan arah dengan Freya. Rasa penasaranku muncul saat membaca di satu pintu, sudut ruangan lantai dua tersebut. Bertulisan. 'Ruangan Kerja Mama'.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang