Jangan pernah berpikir aku bakal naksir Ziyan.
Lebih baik juga Sabda calon suamiku di kehidupan sebelumnya. Selama aku di sini belum pernah menemukan karakter seperti Sabda.
Lihat saja kelakuan Ziyan jauh dari tipe Freya Lovely Astagina. Seharusnya cowok itu mengalah, kan? Ini kenapa malah kepala batu.
"Bagian terakhir martabak buat gue!" Ziyan melotot sambil mengeratkan sisi potongan martabaknya.
Nah kan!
Mesesnya berjatuhan ke meja.
"Gak bisa!"
"Kenapa nggak bisa? Martabaknya gue yang beli."
"Lo kan udah kasih ke gue."
Awalnya aku dan Ziyan makan bersama, layaknya kebanyakan orang saking nikmatnya sampai tak menyadari di kotaknya sudah mau habis dan kami rebutkan potongan terakhir.
"Harusnya lo belinya dua. Mana anak tunggal Argantara yang tempat tinggalnya mansion mewah."
"Kok lo tau gue punya mansion mewah?"
Dari novel. Kuulas senyum tipis tentu saja tidak mengatakan batinku tadi. "Kata lo semua orang pasti kenal Argantara pastinya rumahnya mewah kan. Yakali, rumahnya gubuk!"
Ziyan mengusap rambut nampak ekspresi Ziyan menunjukkan kesombongan.
"Yaudah, buat lo aja..." katanya.
Hatiku bersorak saat Ziyan merelakan martabak manisnya, buru-buru melahap sambil memandangi lurus Ziyan. Manik cokelatku melotot kemudian Ziyan merogoh kantong jaket abu-abunya, mengeluarkan batang rokok ditemani pematik.
"Lo bisa nyebat?" Aku bertanya penasaran. Dari tampang Ziyan memang agak berandalan, tapi aku tak menyangka Ziyan penyuka tembakau.
"Iya. Kenapa?" Ziyan balas memandangiku, tak lama senyuman konyolnya terbit. "Kalo lo nggak suka, gak papa deh. Gue bakal berhenti kok demi, Reya."
Aku rasa ada yang tersangkut ditenggorokan, detik kedua warung tenda tersebut diisi suara batuk, aku membuang muka.
"Dasar aneh."
"Cie, pipinya merah."
"Biasa, kulit gue nggak mampu kena matahari."
"Ini malam."
Aku mendelik dan Ziyan terbahak, karena gemas aku mengambil sendok lalu memukulkannya secara bruntal di punggung tangan Ziyan.
"Kapan sih lo musnahnya!"
"Jangan dong. Belum juga kita nikah."
Ziyan tidak kesakitan, baru saja aku hendak berdiri berniat mengeplak kepala Ziyan. Kedatangan seseorang berhasil membuat pantatku ingin sekali menempel di kursi.
Ganes berjalan ke arah meja kami di balik punggungnya Yena mengikuti. Yena kebingungan, keningnya berkerut dalam. Begitupula aku.
"Udah berapa kali gue bilang jangan dekat-dekat dia. Si bangsat ini musuh gue!" Ganes mengeram gusar sambil lenganku Ganes tarik. Aku terdorong ke badannya, berdiri pasrah di samping Ganes.
Kasar sekali.
Tapi aku bisa apa? Yang ada aku kembali melukai kulit dan meninggalkan jejak luka.
"Reya sama gue." Dengan ekspresi tenang Ziyan beranjak lalu menepis tangan Ganes dari lenganku. Kali ini Ziyan seakan bersiap melindungi, dagu Ziyan terangat angkuh.
Tanpa pernah aku duga Ziyan terdorong kuat hingga punggungnya menghantam tanah. Tentu, pelakunya Ganes.
"Urusan kita nanti, ada yang lebih penting!" seru Ganes menekan kata terakhir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)