(25) Martabak Hati

36.1K 5.2K 115
                                        

"Kalian paham maksud dari kata bisa jadi?" tanyaku saat jam istirahat kedua di kantin.

Namira dan Sena saling pandang. Awalnya aku tidak ingin ke kantin namun mendengar kata bakso aku harus ikut serta lagipula sudah tidak lama aku menjauhi tempat para Geng Dark berkumpul.

Rayuan Namira lah membuatku luluh. Syukurnya satu orang pun anggota Geng Dark tak ada, terlebih sang pemimpin.

"Bibir kamu pucat, Reya."

"Emang kenapa?"

Jawaban keduanya beda. Ekspresi Sena nampak khawatir, aku jadi meragukan apa suatu saat nanti Sena akan berkhianat. Semoga saja tidak.

"Gak papa kok, biasa gue datang bulan." Memang benar tenagaku bukan cuma terkuras habis peristiwa tadi malam atas kedatangan Freya, tapi tamu bulanan secara bersamaan.

"Kali ini kamu beneran enggak akan perjuagin Ganes lagi maksudnya mengejar Ganes kaya dulu," ujar Sena.

Aku tengah mengaduk kuah bakso berhenti, pertanyaan Sena mampu membuatku tercenung. Dulu? Bukan minggu-minggu ini juga aku melakukan hal konyol sampai menyanyikan Ganes lagu.

Bodoh!

Freya memberikan hidupnya padaku asalkan aku mencari tau siapa pembunuh Freya.

Anggap saja sebelumnya aku kerasukan.

"Iya, yang ini gue beneran ogah deket Ganes. Terserah, antara Yena dan Ganes. Gue cuma figuran, misi lain lebih penting!" sahutku yakin.

"Misi lain lebih penting?" Namira melempar tatapan penasaran.

"Gue lagi cari pelaku pembunuh seseorang. Kalau gue berhasil menemukannya dia gak akan selamat, nyawa harus di bayar nyawa kan?" Aku mengulas senyum tipis lalu menunduk, sudut mata sesekali melirik ekspresi Namira dan Sena.

Antara mereka berempat. Aku ingin segera ke kafe perempatan Aurora, masalahnya pergerakanku selalu ada yang mengawasi. Entah itu tangan kanan Papa dengan embel-embel melindungi.

"Kalian tau..." Tangan kananku terjulur meraih garpu lain di wadah, lukanya tetap lah berbekas sekali pun aku mengoleskan dengan salep.

"Kalau suatu saat nanti gue menemukan pelaku pembunuhannya, gue harap saat itu pelaku masih dalam keadaan baik-baik aja ... gue masih susah mengontrol diri untuk tidak mengotori tangan."

Aku banyak bicara, mungkin Namira dan Sena tidak paham. Disisi lain, jika salah satu dari mereka pembunuh Freya bahkan keduanya, setidaknya aku sudah membuat si pelaku merasa terancam.

"Maksud dia itu siapa?" tanya Namira menekan katanya.

"Sampai sekarang masih teka-teki." Garpu itu melayang dan tepat menusuk bakso beranak Sena.

Aku tertawa.

Sena tadi melamun dibuat terkejut. Tawaku makin keras, sedangkan Namira meraih tisu suka rela membersihkan cipratan kuah bakso di seragam Sena.

"Ups, maaf."

"Freya, seragam Sena jadi kotor."

"Salah Sena. Saat orang lain bicara apalagi teman, kesopanan adalah mendengarkan bukan malah melamun."

Namira terdiam. Aku mendengus kuat, selera makan sudah menghilang detik ini. Dengan bibir tertutup rapat aku beranjak, menerima rayuan Namira ke kantin pilihan salah.

Pikiranku bercabang. Siapa sebenarnya penulis lovesick? Kenapa aku harus kaget jika mengenal identitas si penulis.

Kepergian Freya justru membuatku tambah penasaran dan yakin Freya kembali datang. Pertemuan tadi malam bukan lah yang terakhir.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang