Kantin cukup ramai dijam istirahat pertama, meja kantin paling sudut aku pilih bersama Namira dan Sena. Cuma mereka satu-satunya yang terlihat tulus.
"Gimana keadaan kamu, Reya? Bibir kamu masih pucat," ujar Sena.
Aku tengah menyalin catatan milik Namira terhenti, mengangkat kepala. Membalas tatapan Sena lembut. Sena Ayundia, akhirnya membuka suara setelah di rumah sakit itu aku yang mengeluarkan unek-unek untuk tidak menjadi memendam soal prestasi dan aku bersedia jadi kedua berakhir kecanggungan hadir.
"Udah lebih baik kok, makasih udah khawatir." Melempar senyum tipis, aku kemudian mengitari pandangan sekitar area kantin.
Di tengah kantin ada pangeran Aurora, siapa lagi kalau bukan Geng Dark. Khas mereka berempat, penampilan terlalu mencolok dan berandalan. Salah satu pasti punya kekuasaan tinggi, tentu saja sang pemimpin, Ganes Redha Maherta.
Cucu pemilik yayasan, tapi sayangnya yang tidak mudah dimiliki orang lain justru digunakan untuk bersikap sesuka hati bahkan menjatuhkan. Glen pasti merasa terlindungi karena Ganes lah penolongnya.
"Glen itu nggak sopan banget. Masa di lingkungan sekolah pangku perempuan!" desisku kesal sembari pulpen menunjuk gemas tempat mereka.
Namira tertawa.
"Itu belum seberapa, Glen si playboy cap kaki kadal pernah lebih dari itu ... cium perempuan di lapangan semakin membuat kami yakin urat malunya putus," jawab Namira merangkul Sena.
Tawaku meledak begitu saja, kalau aku ada di kejadian itu kemungkinan bakal muntah.
"Aku dan Namira berharap Glen dapat karma, perempuan itu bukan mainan yang sudah bosan langsung ditinggal tanpa rasa bersalah," kata Sena.
Diam-diam hatiku mengaminkan, semoga Glen mendapatkan balasan setimpal. Kembali aku menatap lekat tanpa harus dicurigai yang aku lihat, Denis. Bagaimana caranya agar aku bisa berbicara dengan Denis, empat mata.
"Denis itu kapan jalannya sendirian? Mereka selalu berempat, mirip banget ya sama anak ayam nempel mulu sama induknya."
"Hah?"
Refleks aku menutup bibir rapat, menyesal keceplosan.
"Lo sekarang pindahnya ke Denis. Jangan, Reya. Bahaya! Denis itu orangnya pandai memanipulasi!" seru Namira.
"Ck, maksud gue ada yang mau gue bicarain sama Denis tapi masalahnya Denis itu jalannya selalu berempat, gimana gue pengen ngobrol." Tidak membiarkan Namira menjawab, aku melanjutkan. "Jangan kepo!"
Sena tiba-tiba mencarik kertas lalu diberikan Sena padaku, dibuat bingung aku tetap mengambilnya.
"Nanti kalo kita lewat di meja mereka, kamu lempar kertas itu ke tempat duduk Denis. Sebelum itu kamu tulis tempat bertemunya di mana, dan kasih alasan kenapa kamu mau bicara sesuatu ke Denis," tutur Sena.
Senyuman terbit, mengangguk cepat dengan semangat aku mengisi tulisan tinta hitam di kertas kecil dari Sena, Namira yang kepo langsung aku dorong kepalanya yang sengaja mengintip.
Denis adalah pemilik kafe Aurora namun sayang aku telah di blacklist si punya kafe.
Freya bilang jika masuk ke kafe Aurora cara tersenyumbunyi lah Freya pilih. Sungguh, prihatin. Aku tak menyangka Freya sekuat itu hanya demi satu nama Ganes.
"Mau ke mana?" tanya Namira.
"Beli minum, sekalian gue lempar kertasnya sekarang." Beranjak, aku memasukkan kertas digulungnya ke remasan tangan. Lemari pendingin aku pilih di dekat gerobak gorengan saja otomatis aku akan berjalan melewati meja Geng Dark.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)