(56) Insiden

22.6K 3.9K 269
                                        

Aku kehabisan napas sebagai tanda berhenti kuremas bahu Ziyan kuat-kuat dan benar saja Ziyan langsung melepaskannya.

Ziyan meringis dan aku terbatuk-batuk.

Edan!

"Mau lagi?"

"KAMU MAU BIKIN AKU MATI!"

Ziyan justru cengar-cengir. Lengkap sudah aku dengan pipi merah padam, menyakinkan diri. Jangan gugup! Berdehem, aku mencoba bersikap biasa.

"Bibir kamu manis, Freya-ku."

"Hm."

Tetap saja aku salah tingkah, bergerak gelisah. Ziyan ikut terdiam kemudian. Cukup lama hening dan aku benci situasi seperti ini.

Kami saling tatap.

Ziyan senyum.

Aku tertawa.

Padahal sama sekali tidak ada yang lucu.

"Gemes deh."

"Siapa?"

"Freya-ku."

"Idih."

Ziyan maju dan aku memasang badan siap bertarung, apa Ziyan kembali ingin menempelkan bibirnya setiap Ziyan maju maka aku lakukan mundur walalupun Ziyan memasang senyum konyol aku harus tetap waspada.

"Minta dipeluk, dingin." Tangan Ziyan terentang sembari memiringkan kepalanya.

Kutahan senyum segera aku menuju Ziyan lalu berakhir di dadanya. Kedua tangan Ziyan melingar dipunggungku erat.

"Makasih, Ziyan."

"Hm, kenapa berterima kasih?"

"Kamu bersedia mentraktir perempuan ratu makan ini."

"Aku bahkan memiliki tambahan impian suatu saat nanti."

"Impian?"

"Iya. Jadi penerus Papa dan mencari sesuatu yang baru, bisnis kuliner."

Aku melepaskan pelukan, sedikit berjinjit meneliti lekat garis muka Ziyan. Jemariku bergerak membelai pipi bersih Ziyan dan berhenti di ujung matanya yang terdapat lebam biru walau terlihat samar.

"Ini pasti sakit," ujarku lirih.

"Mama udah obatin kok, ngomong-ngomong soal Mama nanti kamu ketemu Mama ya." Ziyan mengelus rambut pirangku, aku menutup mata merasa nyaman begitu saja. "Kita balik ke vila, angin malamnya makin dingin."

Baru beberapa langkah aku berjalan bersama Ziyan harus dikagetkan dengan ketiga orang pemuda yang berdiri sekitar tiga meter dari tempat kami. Refleks aku mengeratkan tanganku pada Ziyan.

Apa mereka bertiga sudah lama di sana? Banyak pertanyaan memenuhi pemikiran, jika aku gelisah berbeda dengan Ziyan yang menuntunku tenang.

"Hubungan kalian sedekat itu sampai harus ciuman?" tanya Laskar tepat ketika aku melintas di depannya.

Aku berhenti melangkah, sebelah tangan kosong mengepal kuat. Kali ini cuma memandangi lurus Laskar tidak ada kewajiban aku harus melirik Ganes dan Denis di samping Laskar.

"Pemikiran lo sekarang bisa jadi benar," sahutku kalem.

"Jadi kalian bertiga jangan pernah sentuh Freya-ku termasuk lo anak emas keturunan Maherta, kalau gue tau bahkan melihat di depan mata ... pasti bisa nebak kan kejadian selanjutnya." Ziyan berkata sinis.

Aku menelan ludah jika terus dibiarkan kemungkinan ada yang terpancing. Buru-buru aku menarik tangan Ziyan apalagi telunjuk Ziyan berada sejengkal di depan muka Ganes.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang