(45) Dinner

28.9K 4.9K 560
                                        

Ziyan menangkap badanku yang hampir limbung. Senyuman Ziyan luntur berganti raut khawatir, mik yang Ziyan pegang beralih ke tangan si penyanyi. Sebelum Ziyan membantuku berjalan menjauhi kerumunan, Ziyan merogoh saku celananya mengeluarkan lembaran uang di sana.

"Lo nggak papa, Reya?" Tepat duduk di kursi pinggir pantai Ziyan bertanya.

Air mata menetes dengan kepala menunduk aku bergeser menjaga jarak.

"Kenapa lo baik sama gue?"

"Apa kebaikan itu perlu alasan?"

Terdiam, aku sungguh bisa jadi pelawak. Gadis paling cengeng cuma dinyanyikan lagu kesukaanku bersama Sabda sudah membuat air mata tumpah.

"Hei, jangan nangis!" Telapak tangan Ziyan menangkup pipiku. Untuk sekarang saja aku tidak menolaknya, menerima usapan lembut jemari Ziyan.

Ziyan mengikis jarak, entah siapa yang memulai atau aku yang memang sangat memerlukan pelukan, di detik ketiga menyembunyikan wajahku di dada Ziyan. Meremas kuat seragamnya, aku butuh penopang agar tidak jatuh.

Wajar, kalau aku takut terlebih perkataan Ganes di halaman rumah sakit saat itu. Ketulusan yang mudah diragukan.

"Jangan berpikiran seperti itu, Reya. Orang semacam Ganes hidup layaknya dibenci."

Deg.

Aku mendongak. Apa Ziyan cenayang? Kurasakan Ziyan semakin menarikku dalam dekapannya.

"Udah keliatan dari gerakan lo ke gue. Sekali lagi gue tegasin gue nggak mustahil jahat ke orang yang gue suka," bisik Ziyan.

Cukup lama kami saling berpelukan hingga membuat aku sadar ketika anak kecil mengambil bolanya yang menggelinding di dekat kaki, aku menjauh dengan pipi bersemu merah. Tidak berbeda jauh, Ziyan buang muka dan salah tingkah.

"Ganggu lo bocah!" Ziyan mengeram gusar.

Mengatur napas aku melirik sinis, tangan Ziyan terkepal gemas hendak memukul anak kecil sudah berlari menjauh sembari memeluk bolanya.

Selesai menenangan diri aku berdiri, berjalan lebih dulu di belakang tentu saja Ziyan mengikuti, mulutnya terus mengoceh.

"Kita ke bibir pantai sana!" ujarnya. Ziyan memegang lenganku, malas protes aku menurut.

Ziyan tiba-tiba berjongkok melepaskan sepatu yang membungkus kakinya.

"Lo pasti nggak mau kan dilabeli gila cuma pakai sepatu sebelah. Lepas itu, sepatu yang lain gue rebut tadi hilang deh kayaknya," tutur Ziyan santai.

Dengan kesal aku patuh, bertelanjang kaki sekarang. Ziyan merangkul bahuku, mau tak mau aku merapat di sampingnya.

"Hm, Reya belum bilang sesuatu setelah di nyanyikan lagu seharusnya bilang apa?" Nada mengejek Ziyan bersuara.

"Makasih." Menjawab lempeng. Tanpa bisa aku duga, Ziyan menjatuhkan kepalanya di bahuku, sadar hendak mendorongnya Ziyan lebih dulu menangkap tanganku

Lagi-lagi jemari kosong diisi oleh jemari Ziyan.

"Pundak lo nyaman, gue suka."

Badan makin kaku, sebelah tangan yang lain kuremas gelisah rok. Entahlah, perasaan apa ini. Jantungku jumpalitan rasanya, agak geli kepala Ziyan malah menggesek di pundak.

Ziyan bergumam ingin mencari posisi nyaman.

"Reya."

"Ya?!"

Relung telinga terpenuhi tawa.

"Gue cuma panggil, responnya jangan ngegas."

Berdehem aku mengalihkan pandangan, menatap lurus air laut yang tenang.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang