(36) Tangisan & Hati Yang Terluka

32.8K 4.9K 231
                                        

Selama ini aku layaknya orang yang tersesat dan gampang dibodohi, sesuatu yang tampak mustahil.

Kesempatan kedua diantara bersyukur dan sakit, begitu banyak perasaan hingga aku takut suatu saat akan membuatku lebih hancur.

"Sampai kapan lo terus di sini? Kita harus pulang," ujar Freya dalam wujud capung hitamnya. Aku cukup kaget Freya beberapa jam sebelumnya berubah wujud, padahal ini bukan lah di dunianya.

Sembari memeluk lutut dengan dagu menempel, aku menggeleng lesu. "Sebentar, cuma ingin berpuas diri menikmati tempatku ini. Tempat pulang bukan di sana, Freya. Tapi di sini."

Freya terdiam lagipula aku yakin Freya pasti percaya, tidak mungkin aku mengingkari janji yang telah disepakati. Pandangan lurus, duduk di bukit, tanahnya tinggi jadi aku dan Sabda kompak menamainya bukit walaupun beberapa meter di bawah sana terdapat perkebunan teh warga desa.

"Reya. Sungguh aku merindukanmu! Ini benar-benar sulit!" Seruan di belakang bukan hanya membuat aku kaget, Freya pun sama halnya yang langsung terjatuh ke anak rumput.

Aku menoleh dengan tampang syok, air mata sempat berhenti mendadak berdesakan keluar. Kuatur napas, mencoba mengendalikan diri.

Seharusnya aku dan Sabda sudah menikah sekarang, tidak lagi berstatus sebagai tunangan.

"Sabda..."

Hati dibuat hancur dan sesak, kalau pun aku memapah Sabda berakhir pahit.

"Kau tau, Sabda. Aku juga merindukanmu, tidak ada seorang pun yang menggantikan sosok sepertimu. Aku bahkan tak berniat lagi untuk menaruh hati, karena hatiku sudah sepenuhnya milik Sabda." Air mataku menetes.

Sabda berbaring, dari tubuhnya aku mencium bau alkohol yang menyengat.

Kugigit jari menahan untuk tidak menangis keras.

"Eh, jangan menangis! Sejak kapan Sabda-ku cengeng." Terus berbicara, aku tertegun kemudian menangkap sudut mata Sabda basah.

Aku ikut berbaring di sampingnya, memandangi langit senja.

"Kumohon ... jangan menangis ... itu sama saja menyakitiku..." Beralih posisi, aku menghadap Sabda, mengamati lekat garis wajahnya yang rupawan. Tak salah Sabda disebut pangeran.

"Aku tidak mau menikah dengan siapapun kecuali kau, Reya. Cincin terpasang di jari manis adalah suatu kesialan," lirih Sabda sembari melepaskan cincin di jari manis tangan kirinya, lalu Sabda melempar secara asal.

Tertegun, jahat memang kalau aku senang. Di sisi lain Sabda juga perlu menikah, memiliki keturunan bagaimana Ibu Sabda dari dulu jika aku dan beliau sudah satu kursi atau seruangan membahas tentang permintaannya secepatnya mengharapkan cucu.

"Apa kau bahagia di sana, Reya?" Sabda bertanya serak, bahunya bergetar.

Tersenyum pahit aku mengangguk cepat. "Ya, aku sangat bahagia. Jadi Sabda-ku ini harus bahagia, tidak boleh menangisi seseorang yang sudah pergi itu tidak baik, kau pasti melupakan perkataanmu sendiri yang menguatkan diri saat kepergian Ayahmu..."

Telapak tangan kanan aku sentuh pipi Sabda walau berakhir udara kosong, setidaknya telah mampu menenangkan.

"Jangan menangis, aku tidak menyukai Sabdaku menangis."

Kepala menunduk aku mendaratkan kecupan di pipi Sabda. "Reya lebih suka melihat Sabda tersenyum, jadi tersenyum lah. Kau sangat jelek jika menangis."

Tak tahan lagi menyaksikan Sabda frustasi segera aku bangkit, berbalik badan membelakangi. Freya tidak lagi berwujud capung sekarang. Freya berdiri menghadap seraya kedua telapak tangan Freya terulur, cahaya lembut berwarna kekuningan muncul di balik tangan Freya.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang