Oke, Freya harus kuat. Berlari cepat keluar rumah, tanganku hendak menutup pintu utama terhenti karena ada yang lebih dulu menghalangi dari dalam. Ganes!
Ternyata Ganes mengejar.
"Rey--"
"Sebenarnya lo itu punya malu nggak sih?! Kesalahan lo itu udah fatal, Ganes. Apa tadi ... tunangan. Jangan berharap kalo gue bakal nerima."
Aku menyela kemudian segera melangkahkan kaki, di langkah kelima Ganes memegang lenganku. Manik biru Ganes yang awalnya cerah di meja makan sebelumnya berubah dingin.
"Bukannya lo udah terima maaf gue, gue nggak sengaja. Ini salah Yena, Yena bakal tanggung jawab pihak sekolah skorsing dia!" sahut Ganes.
Sebelah tangan terkepal aku balas menatap nyalang Ganes. Skorsing ya? Rasanya aku ingin tertawa. Kenapa malah kepala sekolah yang turun tangan, kejadian di kafe jelas tidak berkaitan dengan Aurora.
"Yena harus dipenjara!" seruku sinis.
Tau tidak respon Ganes setelah aku berkata, Ganes melepaskan genggamannya. Raut wajahnya aku pahami Ganes tak terima.
"Nggak bisa, ini bukan salah Yena, Reya!"
"Terus salah siapa?"
"Salah gue."
"Eh, baru ingat kan lo salah ambil." Terkekeh geli, aku bersedekap. "Jangan ikutin gue, Ganes. Satu lagi gue nggak mau tunangan ... terikat konyol di usia muda cuma bikin gue sakit kepala, bagi seorang Freya pendidikan itu paling utama!"
Keterdiaman Ganes tidak aku sia-siakan. Mengatur napas, aku berbalik sekali pun tanpa menoleh ke belakang. Pintu gerbang yang dibuka oleh satpam. Malam ini aku akan menenangan diri, mungkin JPO aku pilih.
"Kayaknya malam ini menginap di rumah Namira." Kueratkan sweater di badan, aku memang berniat kabur jika ada pembicaraan yang membuat kesal dan benar saja belum lima belas menit duduk di kursi, Papa mengungkapkan tujuannya.
Tunangan dengan Ganes? Bagiku adalah neraka. Apapun alasan Ganes, sengaja atau tidak. Ganes telah berlabel pembunuh bersama Yena.
"Hai, Freya-ku!"
Cuma satu orang yang memanggil sebutan tersebut. Aku menoleh terkejut, Ziyan di sana bersandar di mobil sport merahnya sembari melambai.
Agak berlari aku berdoa semoga Ganes, siapapun itu musuh Ziyan. Tak melihatnya di area perumahan.
"Wah, ternyata udah nggak sabar malam mingguan ya?" katanya tertawa pelan.
Menahan kesal aku mendorong kuat badan Ziyan, memasuki mobil mendudukkan Ziyan di jok kemudi.
"Kenapa lo di sini?"
"Gue kangen."
"Gimana caranya lo bisa masuk ke perumahan taman indah? Lo apain satpamnya?"
"Cukup berikan duit dua ratus ribu, penjaganya patuh bukain palang pintunya. Kalo tau kaya gitu udah dari awal gue kasih."
Terapkan kesabaran.
Aku dan Ziyan duduk berdampingan, Ziyan terus tersenyum lebar saking lebarnya aku takut itu bibir bisa robek. Mata memicing aku mencoba meneliti, mencari kebohongan di mata Ziyan. Dikira aku percaya ucapannya, kangen pala lo!
"Yaelah, jantung gue berdebar-debar jadinya. Iya, Freya-ku tujuan gue ke sini mau ajakin makan-makan."
Ibaratnya telinga berdiri setelah aku mendengar makan-makan. Ziyan kembali lebay, menepuk dada kiri terus meracau aneh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)