Aku tidak tau caranya menghentikan tangis. Menjelang siang di taman belakang Aurora menangis itu lah aku lakukan sekali pun Radit di samping menyuruh berhenti.
Tidak berduaan, ada Laskar tengah berbaring di anak rambut dengan lengannya yang berada di kening.
"Jangan nangis." Kesekian kali Radit berkata serupa sembari handuk sudah di balut es batu ditangannya tertempel pipi kanan hingga ujung bibirku.
Rasa sakit ditampar tidak lah seberapa, hatiku lebih sakit. Belum pernah aku di tampar oleh lawan jenis.
"Lo lupa ya?"
Keadaan kening mengerut aku menoleh ke tempat Laskar berbaring tak jauh dari kursi.
"Lupa ... lupa apa?"
Cukup diberikan acungan jempol aku masih bisa berbicara walau agak sedikit tergagap. Sakit hati bercampur kecewa pada Laskar, yang hanya diam saat adik tirinya jadi korban dari kekerasan, Laskar bahkan sebelumnya menyaksikan saja aku diseret Ganes sepanjang koridor.
"Ini bukan pertama kali, tapi beda orang. Kelas sepuluh lo pernah di tampar Denis bahkan di dorong Denis ke got," ungkap Laskar santai.
Bukan cuma aku yang memasang raut kaget Radit pun sama hanya saja Radit sekilas, setelah itu Radit seperti sedia kala. Air muka datarnya, kesan dimata Radit nyaris tak punya hasrat untuk hidup.
Itu Freya asli, sekarang beda orang! Mustahil aku mengatakannya apalagi di novel tidak pernah dijelaskan. Kelamaan, dunia yang aku pijak layaknya dunia nyata.
"Mungkin iya, ... lupa."
Kepala menunduk aku berusaha menghentikan badan terus gemetar, dadaku jadi sakit, sesekali meringis perih Radit tak sengaja menekan bibirku yang dibuat sobek, selesai membersihkan. Tangan Radit dengan lihai mengusap air es di lenganku yang berjatuhan.
"Makasih, Kak."
"Hem."
Radit berdiri seraya mengeluarkan hape. "Mbak Lia udah di depan gerbang nanti gue bakal minta izin buat lo pulang cepet hari ini. Soal tas itu urusan Laskar, tapi gue nggak bisa berbuat banyak. Peristiwa ini pasti sampai ke telinga Papa," katanya.
Tau tidak sepuluh menit kemudian saat berjalan di lobi menuju gerbang Aurora aku dan Laskar dihadang dua guru. Salah satunya guru penegak kedisiplinan.
Secara refleks aku meremas punggung tangan Laskar, intinya aku harus mencari perlindungan. Jujur, aku benar-benar lelah, satu yang kumau ... meminta istirahat.
"Freya, kamu nggak papa, kan?" Bu Dea melempar tatapan khawatir bahkan bibirnya pucat paci seakan sebentar lagi nyawanya akan teregut hitungan detik.
"Kamu maafin Ganes ya, Freya. Kalau pun kamu ingin mempermasalahkannya kamu bakal tetap kalah, Tuan Astar pasti memilih hal sama apa yang saya katakan," tambah Pak Tio, guru kedispilinan tersebut memasang senyum. Berbeda dengan Bu Dea.
Garis bawahi nama belakang Ganes jangan dianggap remeh. Maherta? Ibaratnya Maherta stratanya lebih tinggi, novel berjudul 'Lovesick' anggota keluarga Maherta semuanya benar-benar tidak punya hati.
Kehadiran Yena lah berhasil membuat kepribadian Ganes berubah.
Aku sadar ini tidak sopan, berjalan melewati mereka sebelum itu mengangguk sekilas.
Dengan keadaan memeluk lengan Laskar dan menunduk, aku ingin secepatnya keluar dari kawasan yang telah mempermalukan sampai ke tulang-tulang.
Suasana hatiku buruk makin buruk mendapati di ujung lobi ketiga cowok bersandar di tembok. Aku buang muka, perlahan melepaskan pegangan pada Laksar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)