Ibaratnya sebatas ilusi ada awan di atas kepala lalu aku disambar petir.
Radit, orang pertama kali sadar bahwa aku bukanlah adik tirinya.
Kurampas piring yang berada di paha Radit, melahapnya dengan kepala tertunduk walau tangan kanan memegang sendok gemetar hebat. Tegang, kaget, dan gugup. Bercampur padu.
"Jadi siapa lo sebenarnya?" tanya Radit kembali.
Aku menelan ludah, apa sekarang Radit akan mengguncang badanku, memerintahkan bahwa aku harus keluar dari tubuh Freya.
"Gue ... Freya!"
"Lo bukan Freya!"
"Apa buktinya kalau aku emang bukan Freya? Enggak ada, kan?! Cih, nggak lucu ... jangan gara-gara aku minta maaf kamu berkesimpulan seperti itu."
Bahkan tanpa sadar aku mengubah gaya bicara, jujur ya aku agak sedikit kurang nyaman memakai lo-gue, namun keadaan memaksa.
"Dari pancaran mata lo, seorang Freya bakal ngamuk kalau kakak tirinya menyebut Om Astar dengan sebutan Papa. Gue nyebut Om Astar sebutan Papa di depan lo tadi menyakinkan semuanya."
Tolong, siapapun bantu aku!
Seandainya aku tak sakit, dipastikan secepat itu kabur keluar kamar dan memilih menjauh dari Radit.
"Kalaupun aku cerita kamu nggak percaya," ujarku lirih sambil mengangkat kepala, membalas manik Radit yang responnya diluar dugaan.
"Gue percaya dan janji gak cerita ke siapapun, jadi cukup rahasia kita." Radit memasang ekspresi serius.
Aku kembali menuduk, membasahi bibir. "Aku emang bukan Freya, semuanya terlalu aneh bersamaan mustahil. Harusnya aku udah mati, namaku Freya Darsah. Saat membuka mata aku langsung ditubuh ini," ungkapku jujur.
Radit diam. Keterdiaman Radit sukses membuat aku terjun dalam kubangan malu.
Namun, sesuai yang kalian ketahui tentang seorang Freya sekali masuk lumpur maka berendamlah.
"Aku beberapa kali manggil jiwa Freya asli, tapi Freya sekali pun tidak pernah muncul. Jelas tidak masuk akal, Freya mati penyebabnya balok kayu."
Radit menghela napas walaupun umurku sudah dewasa, tetap saja aku ini bertingkah anak kecil. Maklumi saja di desa aku bahkan seharian tiga kali mengejar layangan setiap ada layangan putus.
Beruntung, kulitku glowing. Ayah manut menuruti permintaanku beli skincare di pasar asalkan aku berhenti bertingah bar-bar.
"Gimana bisa?" Kening Radit berkerut, kuembuskan napas secara teratur.
"Jadi begini Kak Radit secara singkat, aku jatuh ke jurang dan aku yakin seharusnya mati, tapi kenapa aku malah buka mata justru terbangun di tubuh Freya, anehnya wajah kami mirip bedanya cuma bagian warna mata dan rambut." Oke, tak pantas disebut secara singkat.
"Segi karakter kami berbeda, aku tak akan membenci orang lain tanpa alasan jelas ... kecuali, orang itu berbuat fatal. Aku tidak membencinya, sebatas anti berdekatan apalagi satu ruangan."
"Baguslah."
Aku kaget. Dua telinga masih berfungsi baik, apanya yang bagus? Lagi-lagi Radit mengulas senyum tipis sedangkan aku sibuk menelan makanan di mulut yang tertelan pahit setelah mendengar sahutannya tadi.
"Ma--maksud Kak Radit bagus apa? Kak Radit percaya sama cerita konyolku. Oh, anggap saja aku gila, beneran di luar nalar."
Radit menggeleng.
"Jangan pernah memanggil Freya, gue lebih suka lo ... Freya itu licik, iblis. Dia bahkan hampir membunuh Mama dua bulan lalu, untung gue liat dan gagalin rencananya." Tiba-tiba Radit menggulung kaos lengan panjangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)