(52) Pencipta Luka

23.3K 4.2K 304
                                        

Note : Part ini pendek asal update nggak papa kan :")




Seandainya satu jam lalu aku tidak memaksa Radit untuk pulang lebih dulu pasti sekarang aku sudah rebahan, rehat sejenak melupakan tentang keluarga Maherta.

Rambut berantakan, dress kusut, tali sepatu terlepas. Termasuk definisi orang gila.

Kupandangi lekat kafe di depanku detik ini, papan menggantung di pipi tertulis open. Masalahnya aku telah di blacklist untuk tidak masuk, yang ada aku lebih dulu diseret.

"Dasar keluarga sinting..." Bergumam rendah. Tak mengerti lagi jalan pemikiran pemimpin Maherta itu, jadi maksudnya Om Gio butuh balas budi karena sudah mendonorkan ginjalnya pada Mama.

Kenapa harus aku?

Jelas ini namanya pemaksaan.

Apa aku harus menerimanya.

Tentu akan menolak, kalau pun menyakiti diri. Ganes itu egois, psiko, label buruk tertancap. Ganes mencintai Yena, tapi Ganes juga ingin aku terikat dengannya. Dasar keluarga edan! Semakin memuakkan.

Jika ini berlangsung ke tali yang serius maka hidupku sudah hancur. Sebelum itu, secuil pun tak aku biarkan.

"Nih, buat lalu." Bersamaan suara berat tersebut satu besar gulali tepat sejengkal di wajah, aku termundur kaget.

Denis memasang muka galak, aku menipiskan bibir mendapati tangan itu yang menggantung agak ragu aku mengambilnya dan Denis berjalan kembali.

Denis berhenti lalu menoleh. "Masuk!" katanya sembari membuka pintu kaca tersebut.

Sedikit ragu aku mengekori Denis, benar saja banyak waiter menatapku penasaran bahkan diantara mereka sengaja menggunjing.

"Makasih gulalinya, gue suka." Segera aku berdiri di sebelah pemuda beranting hitam itu, mencomot gulungan gulalinya yang ditusuk lidi.

"Ruangan CCTV."

"Boleh."

Beruntung aku cepat konek, ternyata ruangan kamera pengingat itu tidak terhubung dengan dapur melainkan berada di lantai dua kafe paling sudut.

"Kenapa lo masih berteman baik dengan Yena setelah perbuatannya yang jelas masuk jalur hukum." Manik coklatku lurus pada layar komputer, memperlihatkan banyak rekaman area kafe termasuk belakang dan lahan parkir.

"Because Yena is my first love."

"Walaupun lo udah ditolak dan Yena memilih Ganes."

Sekilas aku menangkap keterkejutan di ekspresi Denis. Wajar, cuma tiga orang yang tau perkataan yang baru saja keluar dari mulutku.

"Ganes adalah sahabat pertama lo di TK maka gue dan Yena menyamakannya."

"Jangan sebut nama itu."

"Kenapa?"

"Gue muak."

Makin muak lagi di layar tercantum di bawahnya 12 febuari disusul tahun dan jam. Kulihat Freya asli di sana, Freya bertingkah layaknya penguntit. Jika Sena bersama Namira saling mengobrol, Freya berbeda diam tapi kepalanya mengarah ke satu titik di meja sudut. Ganes tertawa, entah guyonan apa Yena lempar ke Ganes.

"Ganes emang bajingan." Denis bergumam biasa atas mengumpati sang pemimpin. "Untuk itu kalian berdua cocok, lo psikopat. Ibaratnya hati gelap harus bertemu hati gelap."

Kurang ajar!

Kedua tokoh utama tersebut berjalan ke samping bangunan kafe kemudian, Ganes memberikan sesuatu ke Yena. Yena semringah, lalu berjinjit mengusap rambut legam Ganes.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang