(30) "Minta Maaf, Freya!"

32.1K 5K 278
                                        

Sena bergerak gelisah di sebrang meja, kepalaku menunduk ke bawah tangan Sena terlihat mengelus perutnya seakan sadar aku tengah menangkap basah badan Sena seketika menegak.

"Lo boleh ke kantin sekarang," ujarku.

Bibir Sena berkedut, lekat-lekat aku amati air mukanya. Jujur, Sena tidak dapat dicurigai soal pembunuh Freya asli. Tapi kan ketika aku menceritakan waktu di kantin itu Sena melamun.

"Makasih, kamu mau dipesanin apa?" Sena berbinar sambil beranjak. Mendadak aku jadi merasa bersalah waktu istirahat Sena menemaniku ke perpustakaan, mungkin kecurigaan ini terlalu berlebihan.

"Roti srikaya sama teh botol."

"Oke."

Dan Sena benar-benar tertelan jarak, dari tempat baca mendengar suara pintu tertutup. Hanya beberapa orang di perpustakaan, rata-rata mereka kutu buku atau sekedar numpang tidur.

Baru saja aku hendak menempelkan pipi ke meja, bunyi agak keras kembali terdengar. Ini keras. Pantas disebut gebrakan. Rayena! Duduk di kursi Sena tadi.

"Please, Freya. Jangan ganggu hubungan aku sama Ganes," kata Rayena dengan mata berkaca-kaca.

"Maksudnya apa ya? Bukannya gue udah nggak bully lo, mau kalian pacaran pun bukan urusan gue."

"Aku tau kamu pakai trik halus kan agar hubungan aku sama Ganes jadi terganggu, seperti berhenti membully orang yang lemah. Di malam itu warung pinggir jalan Ganes ninggalin aku sendirian padahal dia janji mau rayain ulang tahun a---."

"Berisik, itu mulut mencerocos mulu. Seharusnya lo marahnya ke Ganes bukan gue, Yena! Dia narik gue, seret gue." Aku menyela, berdiri kemudian segera aku memegang lengan Yena, menariknya menuju rak paling sudut.

Yena pasrah.

"Coba lo ulangi."

"Jangan ganggu hubungan aku sama Ganes."

"Apa kalian udah pacaran?"

Yena terdiam.

"Oke, ganti pertanyaan. Semenjak gue nolongin Ganes dari tawuran itu, gue dua hari di rumah sakit nggak sadarkan diri Ganes sama sekali nggak datang, bahkan saat gue dan dia bertemu setelahnya ucapan terima kasih atau maaf nggak pernah dengar dari mulut Ganes."

Sengaja aku mengikis jarak sebelah tangan meremas pelan bahu Yena.

"Saat itu gue tau perjuangan seorang Freya ke Ganes cuma sia-sia, tiga semester bukan lah apa-apa dimatanya. Jadi gue memutuskan untuk nyerah, yang Ganes liat adalah siswi baru beasiswa ... pindah ke SMA Aurora siswinya cantik jelita."

Jemari berjentik sambil mengulas senyum tipis.

"Hm, pasti lo masih marah karena gue nyanyiin lagu buat Ganes. Itu gue lagi kerasukan." Tak tahan aku tertawa, mengutuk kekonyolan di sore itu. Andai, punya mesin waktu tak sudi aku bernyanyi.

"Sekarang tugas lo jagain Ganes, pawangnya, kan? Dahlah, urusan kita selesai. Freya kini piguran. Btw, Ganes duluan deketin gue." Mengibaskan rambut aku berbalik badan, meninggalkan Yena.

Bruk.

Suara benturan keras tersebut menghentikan langkah keenamku, aku menoleh kaget.

Perpustakaan sepi mendadak berubah ramai, aku menahan napas. Memandangi hampa Yena tertimpa rak buku, buku itu bahkan menutupi wajahnya. Rak kamus multibahasa.

"Ini salah Kak Freya."

"Gue juga liat si medusa itu seret Yena, bangun Yena. Mana yang sakit?"

Aku belum dihadapi masalah serumit ini, pandangan mereka yang mehakimi hingga dadaku dibuat sesak. Perkataan pembelaan yang hendak keluar dari mulut tertelan apalagi saat badanku di dorong kasar, hampir aku jatuh seandainya Denis tidak menangkap badanku dari belakang.

Bukan Antagonis [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang