Mereka berciuman.
Tepat ketika aku berbalik buku aku pegang jatuh kemudian.
Hati menjerit untuk lari, sayangnya kaki gemetar. Aku menelan ludah menangkap derap langkah kaki.
Freya tenang!
Jika Ganes macam-macam bahkan Yena aku bisa teriak.
"Freya!"
Sialan!
Itu suara Yena. Aku menoleh malas dan Yena memasang senyum cerahnya sembari mendekat, di belakangnya Ganes. Ekspresi Ganes akhir-akhir ini sering berubah, detik ini Ganes tampak gugup.
"Re--"
"Aku berterima kasih kamu menolak tunangannya. Aku nggak tau lagi kalau kamu menerimanya, mungkin aku akan kehilangan akal." Yena menyela Ganes. Ganes bungkam, kupandangi keduanya bergantian.
"Kalian pasangan yang cocok, gimana bibir lo? Maaf, gue ganggu ... hehehe, padahal ciumannya pasti udah mau turun ke bawah." Cengar-cengir aku menyahut ketus. "Lo emang udah kehilangan akal dari dulu."
Belum sempat berbalik badan, cengkeraman di lengan menghentikan gerakanku.
"Lepas, sialan!"
"Sekalian aku minta maaf ... kata Ganes kamu akan memafkanku asal aku masuk penjara, kalau itu satu-satunya agar maaf aku diterima, menjalaninya mungkin berat, tapi pas aku bilang iya ke Ganes respon Ganes justru menolak."
Aku berusaha melepaskan diri. Pegangan Yena pada lenganku adalah luka lebam yang Papa berikan seminggu lalu.
"Apa gue peduli?" Aku tertawa sinis, melirik Ganes yang bergeming di sebelah Yena. "Bisa nggak kalian jangan ganggu gue?! Kalian itu juga sepaket, dan Ganes gue mana mau sama lo, dasar cowok murahan. Bajingan!"
Persetan, Ganes main tangan. Aku akan melawan walaupun sepertinya sudah tau siapa kalah di sini, sekali sentakan kuat aku akhirnya berhasil melepaskan diri.
"Kulit gue merah gara-gara lo!" Membalas tatapan Yena nyalang aku mengusap lengan yang sebelumnya kebiruan kini ikut memerah.
Aku meradang, menjadi kebiasaan kalau marah napas tersengal-sengal.
"Tarik kata-kata kamu aku kehilangan akal."
"Itu faktanya!"
"Ganes, lo paw--"
Suara tertelan aku melotot, tak menduga Yena yang mengangkat tangannya, sebelum itu berakhir di pipiku tangan lain lebih dahulu menghalangi.
Bukan Ganes, melainkan sosok pemuda jangkung dengan dahi melekat headband. Aku baru menyadari ikat kepala tersebut di tengahnya ada rajutan kelopak bunga.
"Dasar perempuan ular, kapan lo musnahnya bikin gue jijik!" seru Ziyan berdiri di antara aku dan Yena. Muka Yena memerah, sebelah tangannya yang kosong terkepal kuat.
Ziyan berpijak di Aurora sama saja memasuki kandang singa. Kentara raut wajah Ganes penuh dendam.
"Gue ke sini datang baik-baik, kasih bonus karena tim lo menang turnamen. Kalo mau gelut ... boleh, tapi di lapangan." Ziyan lalu melempar amplop berwarna coklat pada Ganes. Sayangnya, Ganes tak menangkapnya malah membiarkan amplop itu jatuh ke lantai.
Aku prihatin. Pasti dalamnya uang.
"Jangan pernah sentuh permaisuri gue. Freya-ku!" ujar Ziyan sembari matanya berkedip tepat ketika mata kami berserobok. Aku melongo, Ziyan tiba-tiba mundur kemudian kedua tangan Ziyan melingkar dileherku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)