Aku tidak bisa mengemudikan mobil jadi untuk itu minta Pak Toyo mengantarku. Pagi-pagi sekali aku sudah siap, enggan bersitatapan dengan penghuni rumah.
Tidak banyak bicara, untungnya Pak Toyo sadar ke mana tujuanku, beliau kini memarkirkan mobil di sisi pagar SMA Aurora.
Begitulah karakter Freya yang terkenal dingin dan jutek kecuali orang yang benar-benar membuatnya nyaman dia akan sedikit hangat.
Khusus untuk tokoh utama pria seperti Ganes, layaknya perempuan jatuh cinta Freya terus memasang senyum di bibir melihat Ganes dari kejauhan bermain basket.
Hingga, Yena muncul. Kegilaan Freya bertambah naik. Waktu istirahatnya dihabiskan untuk menyiksa Yena.
"Bodo amat sama tokoh utama, peranku di sini yaitu sebagai putri sultan dan menghabiskan uang," gumamku sambil tertawa kesenangan. Membayangkan berjalan di mall, memasuki setiap toko. Membeli sesuka hati tanpa memikirkan harganya.
Sangat menyenangkan.
Aku keluar dari mobil setelah berpamitan dengan Pak Toyo, belum jam tujuh saja sekolah ini sudah ada beberapa orang mungkin mereka yang jadwal piket. Kutarik napas mengembuskan pelan, di dunia nyata umurku hendak memasuki dua puluh lima tahun, umur wanita dewasa dan siap menikah.
Di sini tujuh belas tahun, gadis remaja. Aku seakan kembali mengulang kisah, impianku adalah sukses setidaknya sarjana namun itu semua terkubur pahit. Kalau hidup kedua adalah kesempatan aku tidak menyia-nyiakannya.
"Semangat, Freya!" Tanganku terkepal ke atas sambil melangkah memasuki gedung. Berjalan ke lobi utama, ingatanku ke novel. Kelas Freya di jelaskan di 11 IPA 2 dan masalahnya aku tidak tau letaknya.
Si penulis tidak menjelaskan secara rinci, pembuat karya hanya berpusat pada tokoh utama. Menyebalkan! Kemunculanku selalu dianggap sebagai perusak.
Apa aku bertanya saja.
Ya, aku bertanya.
Sepasang mataku melihat punggung seorang gadis di sana yang berdiri membelakangi dia terlihat mengepel lantai, serajin itu kah. Padahal lobinya luas belum lagi banyak murid yang berdatangan terasa sia-sia membersihkannya.
"Permisi." Tepat berdiri di belakangnya aku menepuk bahunya pelan, dia terperanjat kaget kemudian menoleh.
Responnya di luar perkiraan. Gadis berlogo sama diseragamku bisa dipastikan kami seangkatan badannya langsung bergetar, memandangiku seolah manusia di depannya hantu.
"Fre--Freya..."
"Lo kenapa?"
Ekspresi mukanya benar-benar ketakutan murni, tanganku jadi pengen mengajarinya jadi perempuan kuat! Batinku meraung gemas.
"Pagi-pagi udah rajin." Tanpa sadar aku mengeluarkan rasa penasaran yang sedari tadi memenuhi pemikiran, kedua kalinya dia nampak kaget.
"Ka--kan, kamu ... kamu yang nyuruh," sahutnya tergagap.
Siapa?
Aku?
Kapan aku menyuruhnya?
Berikutnya aku serasa ditampar melirik name tag di seragamnya, Rayena. Si tokoh utama wanita pedamping Ganes.
"Kalau git--"
Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, badan mungil ini di dorong ke samping. Dorongannya lumayan keras sampai-sampai aku harus menyeimbangkan badan agar tidak jatuh ke lantai.
"Denis, kamu nggak boleh kaya gitu!" Yena memukul bahu laki-laki bernama Denis itu. Denis sendiri memasang wajah galak, aku menghela napas. Denis, sahabat masa kecilnya Yena.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Antagonis [END]
FantasyBagaimana jadinya kalau kamu memasuki tokoh antagonis? Bermaksud mengembalikan novel yang dipinjam ke perpustakaan desa, Freya bertemu dengan para bandit kampung yang nyaris memperkosanya. Freya yang lari memasuki hutan berakhir jatuh ke jurang. Fre...
![Bukan Antagonis [END]](https://img.wattpad.com/cover/268621430-64-k161676.jpg)